Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 23


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu sejak hari Papa di Operasi, dan setiap harinya hanya dilewati dengan air mata yang mengalir karena sampai detik ini Papa tak kunjung sadar. Dokter sudah menyarankan untuk melepas alat yang ada di badan Papa sejak seminggu setelah Operasi waktu itu karena memang tidak ada perubahan sama sekali, tapi Mama selalu menolak, Mama tetap mempertahankannya. Mama tetap percaya bahwa Papa akan sadar.


Setiap minggu aku bolak balik dari rumah ke Rumah Sakit. Melelahkan memang, apalagi selama Papa tak sadarkan diri Mama selalu menemani Papa di Rumah Sakit, sehingga aku yang mengurus Restoran ditemani dengan Kak Sari.


Semua Restoran Papa dan Mama yang ada di luar Kota di tutup karena sudah tidak mampu membayar gaji Karyawan. Biaya Papa selama di Rumah Sakit yang bisa di bilang cukup mahal setiap harinya membuat keluarga kami tidak bisa membayar gaji Karyawan jika Restoran tetap dibuka.


Keluarga besar, teman-teman dan beberapa rekan kerja Papa sempat membantu membayarkan biaya Papa di Rumah Sakit, namun tetap saja nominalnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan total biaya keseluruhan.


Kalian tau bagaimana kondisi Mama sekarang? Hatiku bagai teriris belati jika melihatnya, badan yang kurus, rambut berantakan, wajah pucat. Mama sangat terpukul dengan keadaan yang dialami Papa. Bahkan Mama sering tidak merespon jika diajak berbicara.


Sedangkan Ernan tetap melanjutkan sekolahnya di LA walaupun diawal dia menolak karena tidak mau meninggalkan keluarga dalam keadaan seperti ini, namun aku meyakinkannya jika kami akan baik-baik saja di sini. Walaupun kenyataannya aku tidak yakin dengan ucapan ku sendiri. Aku sering menangis jika malam tiba, kesalahan apa yang sudah keluargaku perbuat hingga Tuhan menjadikan keluargaku seperti ini, itulah yang selalu ada dibenakku.


Beberapa minggu ini aku menghindari Arka karena aku tidak mau masalahku semakin berat, Rika pasti akan terus meneror aku jika dia tau aku masih dekat dengan Arka.


Maafkan aku Arka, untuk sementara waktu aku tidak bisa berdekatan denganmu. Aku harap ini akan segera berakhir.


Pagi ini sebelum aku ke kampus, aku menyempatkan diri untuk mampir ke Restoran.


Karyawan menyapaku dengan ramah, aku mendatangi ruangan Kak Sari. Kulihat Kak Sari tengah sibuk berkutat dihadapan Laptop sehingga tak sadar jika aku berada dihadapannya.


"Kak" panggilku.


"Eh iya Cit, kapan kamu masuk kok aku nggak tau?" tanya nya setelah melihat aku.


"Kakak lagi mengerjakan apa? Serius sekali." Tanyaku.

__ADS_1


Kak Sari membuang nafas dengan kasar lalu berucap "Baru saja pihak Dokter mengabari jika hari ini mau tidak mau semua alat medis yang ada pada tubuh Pak Han harus dilepas, karena Dokter sudah sangat menanggung resiko sampai hari ini"


"Tapi bagaimana dengan Mama Kak?" tanyaku dengan suara lemas.


"Kita harus bicara baik-baik dengan Bu Monic!" ucap Kak Sari


Lalu aku berpamitan untuk pergi ke Kampus dan berjanji akan kembali ke Restoran siang hari nanti menjemput Kak Sari lalu kami akan pergi ke Rumah Sakit. Aku mengabari Ernan dan Opa kalau nanti alat-alat yang ada di tubuh Papa akan di lepas.


"Citra tunggu!" teriak seseorang dibelakang ku.


Aku menghentikan langkah dan berbalik badan. Kak Riza berlari mendatangi aku dan bertanya "apakah kamu ada waktu? Aku ingin berbicara."


Kami mencari tempat duduk dan Kak Riza mulai bertanya.


"Kenapa kamu susah sekali di hubungi?" tanyanya.


Memang beberapa minggu ini aku tidak hanya menghindari Arka, tapi juga Kak Riza. Entah mengapa aku merasa hanya akan merepotkan Kak Riza jika dia tetap bersamaku.


Aku menarik nafas dalam dalam dan berkata "maaf Kak, aku rasa kita tidak bisa meneruskan hubungan ini, sekarang aku hanya ingin fokus pada keluarga dulu terutama Mama." ucapku tanpa berani menatapnya.


Kak Riza menolak permintaanku, dia tidak ingin hubungan kami berhenti sampai di sini, dia berjanji tidak akan menuntut untuk bisa bertemu denganku atau menghubungiku.


Tapi aku tetap bersikukuh dengan keputusanku. "Maaf Kak tapi aku nggak bisa. Permisi aku ada kelas." ucapku dan berlalu pergi meninggalkannya.


........

__ADS_1


Sepulang dari Kampus aku langsung ke Restoran, setelah itu aku dan Kak Sari berangkat menuju Rumah Sakit.


"Ah sial, kenapa macet" ucapku sambil memukul setir mobil.


"Sabar Citra, kamu sedang banyak pikiran lebih baik aku saja yang mengemudi" ucap Kak Sari.


Malam kami baru sampai di Rumah Sakit, tapi Dokter tetap menunggu kami. Setelah kami berada di ruangan Papa, aku memeluk dan mencium Mama. Air mataku menetes ketika aku mencium pipinya, bagaimana bisa Orang yang selama ini mengenalkan ku pada dunia hanya dengan senyum tawa di setiap harinya, tapi justru sekarang Beliau tidak bisa tersenyum bahagia lagi.


Pelan-pelan aku berbicara pada Mama.


"Ma, Papa sudah tidak memerlukan semua alat-alat ini, Papa pasti akan senang jika tidak merasakan sakit lagi, pasti Papa juga bahagia jika melihat Mama bisa tersenyum lagi seperti dulu" ucapku.


"Tidak Citra tidak. Papa sebentar lagi akan sadar, kita hanya perlu menunggu sedikit waktu lagi!" ucap Mama dengan suara nyaring.


Mama memang selalu begini jika aku membahas soal alat-alat yang ada pada tubuh Papa.


Lama kami membujuk Mama agar bisa rela melepas Papa, akhirnya Mama pasrah. Satu persatu alat medis di tubuh Papa di lepas oleh beberapa Dokter, aku hanya bisa menangis memeluk Mama saat melihat kejadian itu berlangsung.


Memakan waktu hingga beberapa puluh menit Dokter melepas semua alat di tubuh Papa. Setelah selesai, Papa di nyatakan meninggal oleh Dokter. Aku tau ini akan terjadi, tapi tetap saja rasanya bagai di sambar petir. Aku tidak percaya semua ini akan terjadi kepadaku.


Aku memeluk Papa untuk terakhir kali, kuciumi kening, pipi dan tangan Papa. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku, sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku. Orang yang selalu membuat aku kuat, selalu memberi semangat, kini sudah tiada.


Pa, pada siapa lagi aku akan mengadu jika Ernan menjahili ku, pada siapa aku bertanya jika aku sulit untuk menentukan pilihan, siapa yang akan berada di sampingku pada saat aku menikah nanti, bukankah Papa pernah berjanji jika kelak saat aku menemukan Orang yang mengajak aku menikah Papa akan menjadi Orang nomor satu yang mengintrogasi bagaimana bisa dia memilihku yang manja ini menjadi calon istrinya. Bukankah Papa pernah berucap bahwa Papa akan menjadi Orang terdepan saat Putri Papa berada dalam masalah.


Mama tak kalah histeris, Mama menangis sejadi-jadinya, lalu Mama tak sadarkan diri. Setelah Mama terbangun Mama menangis lalu tak sadarkan diri lagi. Kejadian itu terulang beberapa kali bahkan saat Papa akan di pulangkan ke rumah pun Mama masih dalam keadaan tak sadarkan diri.

__ADS_1


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan kami kedepannya jika tanpa Papa.


__ADS_2