
Andra mentap Thea dengan heran karena gadis itu tidak meresponnya. Hingga akhirnya suara kilat dibarengi hujan yang semakin deras membuat Thea terkejut hingga reflek memegang lengan Andra.
Andra bisa melihat raut wajah ketakutan pada diri Thea setelah mendengar suara kilat barusan. Thea mencekram lengan Andra dengan sangat kuat hingga membuat dirinya meringis kesakitan.
Thea yang tidak sengaja terlalu keras mencekram lengan Andra langsung melepaskan tangannya karena melihat sang cowok mendesis kesakitan.
"Aduhh, maaf-maaf"
"It's okay"
"Kamu yang waktu itu nolongin aku kan? " tanya Andra pada Thea.
"Iya" jawab Thea sambil menunduk karena masih malu jika mengingat saat dirinya yang mengiler dibahunya waktu itu.
"Boleh tahu siapa namamu? "
"Hah? "
"Kita belum kenalan waktu itu!."
"Anthea" jawab Thea pada akhirnya.
"Terimakasih Anthea sudah menolongku waktu itu. Aku Andra. " Andra mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Thea.
Thea menatap wajah Andra yang tersenyum ramah padanya lalu membalas uluran tangannya.
Mereka berdua mengobrol membahas kecelakaan waktu itu dimana Andra menceritakan kalau ia mengalami kecelakaan karena tidak konsentrasi menyetir waktu itu. Thea bersyukur didalam hatinya karena Andra tidak membahas masalah ia yang ketiduran dibahunya saat dibioskop waktu itu.
Obrolan mereka menjadi akrab hingga tidak terasa waktu sudah hampir menjelang malam, namun hujan masih terus turun dengan sangat deras. Sepertinya hujan akan awet sampai nanti malam.
"Ayo, aku antar pulang saja Thea?, sepertinya hujannya akan awet. "
"Nggak usah Ndra. Aku bisa pulang sendiri naik taxi" jawab Thea tidak yakin.
Lima menit....
Sepuluh menit....
Hingga dua puluh menit Andra menemani Thea mengobrol sambil menunggu taxi namun belum ada taxi yang lewat sama sekali. Andra yang tadinya menghargai Thea dan tidak ingin memaksanya, sekarang ingin memaksa saja bagaimana pun caranya karena ia tidak tega pada Thea.
"Sudah malam Thea. Aku antar pulang saja ya? anggap saja ini bentuk terimakasih ku karena kamu sudah membayar obatku waktu itu. "
Thea tadi menolak saat Andra hendak mengembalikan uang yang pernah Thea pakai untuk membayar obatnya waktu itu, karena Thea ikhlas menolongnya.
Thea menghembuskan nafas pasrah dan harus menerima tawaran Andra karena kakinya sudah mulai pegal-pegal berdiri terus sejak tadi. Ia menggerutu dalam hatinya pada toko buku yang tidak menyediakan kursi di terasnya.
Andra melepas jaketnya untuk memayungi Thea masuk kedalam mobilnya karena ia tidak membawa payung. Thea yang merasa jarak antara dirinya dan Andra terlalu dekat membuat debaran jantungnya tidak karuan.
Thea mendadak menjadi canggung setelah Andra masuk kedalam mobilnya. Andra menaruh jaketnya yang basah dikursi belakang lalu memasang seatbeltnya. Saat mobil hendak dinyalakan, Andra melirik ke arah Thea yang masih kalut dalam pikiraannya.
__ADS_1
"Thea? "
"Hah" Thea sedikit tersentak karena tiba-tiba Andra memanggilnya.
"Pasang seatbeltmu! "
"Oh, iya lupa. "
Thea mencoba memasang seatbeltnya dengan terburu-buru hingga menjadi tidak benar. Andra yang melihat itu seketika langsung memendekkan jaraknya dengan Thea. Thea yang merasa wajah Andra terlalu dekat dengannya seketika menjadi salah tingkah.
Sekilas Andra menatap wajah Thea untuk sesaat setelah itu ia melepas seatbelt Thea lalu kembali memasangkannya dengan benar.
Sepanjang jalan Thea hanya diam tanpa berucap sepatah kata pun. Namun debaran jantungnya lah yang mendominasi dalam dirinya.
'Duhh, ini jantung kenapa lagi? bisa-bisanya berdebar nggak jelas kaya gini! Rileks Thea rileks. Andra saja bisa kelihatan santai. ' ucap Thea dalam hati.
"Ehem, rumah kamu di jalan apa? "
"Kawasan Rose street" jawab Thea
"Oh Rose Street, kenal dengan Pak Yuda Mahendra?"
"Kenal. Beliau papa aku"
"Apa? kamu anaknya? " Andra terkejut mengetahui bahwa Thea adalah anak rekan bisnisnya Andra.
Perlahan suasana hati Thea yang sebelumnya canggung menjadi lebih tenang setelah mengobrol dengan Andra lagi.
"Beliau rekan bisnis aku. Kita sama-sama berkolaborasi dalam proyek terbaru di kota X" jawab Andra.
"Ohh"
Meski hanya menjawab oh namun dalam hati Thea mengagumi sosok yang duduk disampingnya.
'Buset, masih muda begini udah menjalankan bisnis gede-gedean. Eh jangan-jangan mukanya plastik nih, mungkin aja umurnya sepelantaran Papa.' ucap Thea dalam hati sambil tetap memperhatikan ukiran wajah Andra secara diam-diam.
Setiap ukiran diwajah Andra bukannya membuat Thea menemukan celah cacat pada oprasi plastik yang ia asumsikan, melainkan tanpa sadar dirinya memuji ketampanan Andra.
Andra memiliki wajah yang tak kalah tampan dari Rayn, mereka berdua sama-sama tampan. Namun Andra memiliki wajah yang kelihatan tegas saat sedang diam saja namun hangat saat sedang berbicara.
'Astaga Thea. Bisa-bisanya kamu memuji ketampanan cowok lain. Ingat Thea, kamu itu pacarnya Ray. Ingat-ingat itu! ' ucap Thea salam hati.
Tak terasa mereka sudah hampir sampai di rumah Thea. Mereka pikir hujannya hanya di kawasan tadi, ternyata hingga ke kawasan Rose Street, sepertinya hujan turun merata disemua kawasan.
"Thankyou Ndra. Maaf malah jadi merepotkanmu"
"Sama sekali tidak merepotkan kok"
"Mampirlah dulu. Sepertinya papa sudah pulang dari kantor"
__ADS_1
"Oke"
Mereka berdua masuk kedalam rumah. Mamanya Thea yang melihat ada cowok berjalan disamping Thea seketika mengerutkan dahinya, ia menyikut lengan Papanya Thea yang sedang membaca laporan perusahaan.
"Papa, mama. Aku pulang" ucap Thea pada kedua orang tuanya.
Papanya si kembar menoleh ke arah Thea dan terkejut putrinya pulang bersama rekan bisnisnya.
"Andra? " Papa berdiri dari duduknya lalu menghampiri keduanya.
"Hai om"
Papanya si kembar berpelukan dengan Andra seperti layaknya teman saat sedang berjumpa. Sedangkan mama semakin bingung melihat suaminya yang akrab dengan pemuda yang baru saja datang kerumah.
Andra menjelaskan pada Pak Yuda bagaimana dirinya bisa bertemu Thea hari ini hingga mengantarnya pulang. Ia juga menceritakan kalau Thea yang menolongnya saat kecelakaan waktu itu.
Pak Yuda memperkenalkan Istrinya dengan Andra yang tak lain adalah rekan bisnisnya. Mereka bertiga duduk mengobrol di ruang tamu, sedangkan Thea memilih masuk kedalam kamarnya untuk mandi.
"Pantas saja waktu itu Thea pulangnya telat, ternyata nolongin kamu. Sekarang sudah lebih baik kan? " tanya Pak Yuda pada Andra.
"Sudah om, hanya luka sedikit. "
"Jangan pulang dulu. Kita makan malam bersama Ndra. Tante Veronica masak banyak hari ini. "
"Tadi saya sudah makan. Saya cuma nganterin Thea saja om. "
"Jangan menolak nak Andra, tante senang kalau kamu mau ikut makan malam bersama kami. "
Andra tidak bisa lagi beralasan ingin menolak jika keduanya memaksa. Pak Yuda mengajak Andra untuk ke meja makan terlebih dahulu, sedangkan Mamanya si kembar memanggil kedua putrinya untuk turun makan malam bersama.
Andra banyak mengobrol dengan pak Yuda tentang proyek baru yang sedang mereka kerjakan bersama. Namun tiba-tiba dirinya menjadi bingung karena melihat Thea ada dua meski agak sedikit berbeda pada keduanya namun mereka seperti mirip. Andra menebak kalau mereka berdua itu kembar dan yang rambutnya dikuncir adalah Thea.
Pak Yuda tertawa melihat ekspresi Andra yang terkejut melihat kedua putrinya. Ia menjelaskan kalau putrinya kembar, dan memperkenalkan Anna yang belum kenal dengan Andra.
Setelah kepulangan Andra, Pak Yuda tersenyum bahagia waktu itu saat mengantar Andra hingga didepan rumahnya.
"Papa kenapa senyam-senyum? " tanya Mama pada Papa.
"Papa rasa Andra suka sama Thea" jawab papa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai readers👋👋👋...
...Selamat membaca ya. Jangan lupa dukungannya. ...
...Terimakasih sudah mau mampir di novel aku. ...
...🧡🧡🧡...
__ADS_1