
"Kalau jaman nenek buyutku cara itu paling ampuh. Tanpa pikir panjang mantannya langsung minta putus. " ucap Amanda sambil memakan roti coklat.
"Nenek buyutmu putus tahun dua ribu dua puluh dua?" tanya Thea yang sedang menikmati makanannya.
Semalam Thea sudah puas memarahi Amanda karena ide konyolnya. Meski ia masih kesal dengan sahabatnya, Thea tidak menyimpan dendam padanya.
"Kata nenekku sih nenek buyutku putus sama pacarnya itu tahun seribu sembilan ratus tiga puluh. Terus setahun kemudian dia menikah sama kakek buyutku." jawab Amanda.
"Teman laknat! Kamu pikir aku hidup di generasi nenek buyutmu?" Protes Thea pada Amanda.
"Hehe, bukan gitu maksudku Thea! Namanya kan juga usaha, kadang berhasil kadang juga enggak. Daripada nggak berusaha sama sekali." jawab Amanda cengengesan.
Thea melotot pada Amanda, ia tidak habis pikir pada jalan pikirannya Amanda. Bukannya terlihat seram tetapi malah terlihat lucu di mata Amanda.
Amanda malah tertawa cekikikan melihat ekspresi Thea. Hingga tak sadar seseorang sudah duduk di sebelahnya dan menyeruput es tehnya. Amanda terkejut saat menoleh ke samping hingga terjungkal dari kursinya.
Bugg.....
"Hahaha"
Thea yang sebelumnya memberengut kesal pada Amanda menjadi tertawa karena melihatnya terjungkal dari kursinya. Bukan maksutnya tertawa diatas penderitaan sahabatnya. Namun sulit untuk menahan tawa melihatnya, begitu juga dengan Erik yang ikut menertawakan pacarnya.
Amanda bangun dan duduk kembali ke tempat duduknya semula. Ia menjewer telinga Erik dengan sangat kuat karena sang pacar bukannya menolongnya malah menertawakan dirinya.
"Aduh duh sakit Amanda! "
Erik mengusap-usap telinganya yang terasa panas akibat dijewer oleh sang pacar. Sedangkan Amanda menatap sinis ke arah Erik.
"Kamu ya, bukannya nolongin malah ngetawain. Hah! "
"Iya iya maaf sayang."
Erik merayu Amanda dengan berbagai cara dan berbagai iming-iming mentraktir sang pacar agar tidak ngambek lagi.
Thea hanya geleng-geleng kepala menyaksikan mereka berdua. Dimana selalu Amanda yang menjadi pemenangnya. Dan Erik yang selalu mengalah untuk Amanda.
Thea jadi teringat obrolannya dengan Amanda setahun yang lalu, dimana Amanda mengatakan kalau Erik mengajaknya ke jenjang yang lebih serius setelah lulus kuliah. Thea sudah bisa menebak gambaran rumah tangga mereka kalau menginjak jenjang yang lebih serius. Thea membayangkan Erik sosok suami yang takut istri. Dan Amanda yang suka ngomel-ngomel namun mereka tetap harmonis.
__ADS_1
Tak terasa kalau setahun lagi ia akan lulus kuliah. Ia akan melihat sahabatnya bahagia bersama orang yang ia cintai untuk selamanya. Sedangkan dirinya masih di landa persoalan cintanya. Ah, sedih sekali kalau mengingat soal cintanya.
"Aku mau habisin isi dompet kamu hari ini" ucap Amanda yang membuat Erik pasrah tidak berdaya.
Erik tidak mau berdebat lagi yang ujung-ujungnya membuat Amanda berubah pikiran menjadi lebih ekstrim lagi. Seperti menyuruhnya memakai baju couple berwarna pink.
'Hadehhh..... baru aja gajian. Duh jadi nyesel membujuknya tadi. Semoga aja Amanda lupa sama ucapannya nanti. Kabulkanlah doa pejuang receh ini Tuhan.' ucap Erik dalam hati.
"KETEMU! " Ucap Amanda kegirangan.
"Buset dah! Itu mulut apa toa masjid?" Protes Erik pada pacarnya.
"Gila sih Amanda, ngagetin aja! Untung nggak lari nyawa aku" ucap Thea pada Amanda.
Amanda tidak menghiraukan omongan dua orang yang sedang bersamanya bahkan tatapan orang-orang disekitarnya. Ia berdiri dan duduk disebelah Thea, ia membisikkan sesuatu pada Thea yang membuat Thea menolaknya tanpa berpikir panjang.
"Jangan nyesatin aku dengan ide-ide konyolmu itu lagi ya! " jawab Thea.
"Kali ini bukan trik nenek buyut. Suwer dah! Aku juga sering lihat-lihat di sinetron kalau itu berhasil." ucap Amanda.
"Ngomong apa sih? Serius amat?" tanya Erik pada kedua gadis dihadapannya.
"Ngomongin soal masalah cewek sayang" jawab Amanda.
"Biasanya kamu nggak perlu bisik-bisik ngomongin hal itu di depanku!"
Erik menatap curiga melihat Amanda dan Thea. Amanda yang ingin membujuk Thea jadi tidak leluasa karena ada Erik diantara mereka.
"Haisss...... kamu nggak ada kelas lagi apa? Udah sana nanti telat. "
Amanda yang mengusir Erik secara terang-terangan membuat Erik semakin mencurigai obrolan mereka, dan bertekat ingin tahu kebenarannya. Namun detik berikutnya, ia tersadar kalau hala ini adalah kesempatannya lari untuk menyelamatkan isi dompetnya. Tanpa pikir panjang, Erik langsung berdiri dan meninggalkan Amanda yang tidak mencegah dompetnya.
"Akhirnya! Kalian selamat anak-anak Papi" ucap Erik pada uang-uang dalam dompetnya.
Di tempat lain, Dion sedang malamun memikirkan omongan Andra semalam. Ia memikirkan persoalan cintanya, dimana ia baru mengenal Risa dan harus berpisah karena pekerjaan. Di tambah Risa masih sulit untuk ditaklukkan olehnya.
"Pak ini laporan penjualan bulan ini. Silahkan bapak periksa." ucap Direktur Pemasaran OV Company.
__ADS_1
"Pak"
"Hah, apa?" Dion tersadar dari lamunannya.
"Ini laporan penjualan bulan ini. Silahkan bapak periksa" ucapnya untuk yang ke sekian.
Dion menerima laporan tersebut dan membacanya sambil dijelaskan oleh Direktur pemasaran tersebut.
'Ishh..... masa urusan cinta begini lo galau merana sih Dion. Lo udah naklukin banyak cewek, cuma satu cewek nggak sulit bagi lo.' ucap Dion dalam hati.
Setelah Direktur Pemasaran keluar dari ruangan Dion, Yuki beranjak dari duduknya.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Yuki sekretaris Andra di OV Company.
"Cuma ada sedikit pikiran aja, cantik. " jawab Dion.
Sebagai salah satu cewek yang hanya dibaperin Dion. Yuki tak menunjukkan sikap hormatnya pada atasannya itu, bahkan ia tak segan-segan memijit kedua bahu Dion tanpa diminta.
Dion tidak menghindar apalagi menegur Yuki. Ia menikmati pijatan dari tangan Yuki. Ia memejamkan matanya membayangkan Risa yang melakukannya. Namun detik berikutnya, ia teringat akan ucapan Andra yang seperti menghantui pikirannya dari semalam.
Yuki yang hendak mencuri cium pada bibir Dion, seketika langsung tidak jadi padahal tinggal sedikit lagi. Dion berdiri dan hendak berjalan keluar dari ruangannya. Namun tiba-tiba Yuki memeluknya dari belakang.
"Kamu mau kemana?" tanya Yuki setelah melepaskan pelukannya.
"A-aku mau keluar menemui anak buahku" jawab Dion dan langsung berjalan keluar sebelum godaan syaiton mampir padanya karena posisi Yuki dan dirinya sangatlah dekat.
"Ishh..... lagi-lagi gagal mendapatkan ciumannya. Sampai kapan kamu gantungin perasaan aku, ganteng?" protes Yuki setelah Dion keluar dari ruangannya.
"Huhhh..... gila! baru kali ini gue ngerasa takut dideketin cewek yang gue baperin sendiri. Biasanya gue fine-fine aja." ucap Dion setelah berhasil keluar dari ruangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai Readers 👋👋👋...
...Selamat membaca ya! Jangan lupa like, coment, & Vote....
...Terimakasih sudah mau mampir 🧡🧡🧡...
__ADS_1