Mencintai Si Kembar

Mencintai Si Kembar
Pertunangan


__ADS_3

"Wahh, kamu terlihat cantik sekali nak" ucap Bu Veronica pada Anna.


Anna tersipu malu dipuji seperti itu oleh mamanya. Hatinya berdebar tak karuan menunggu beberapa saat lagi Rayn dan keluarganya akan hadir.


Sebuah kebaya modern berwarna rose pink dan make up yang senada membuat Anna terlihat anggun malam ini. Anna memantapkan diri untuk menerima Rayn. Selain karena keduanya saling mencintai, Anna yakin kalau Rayn sosok laki-laki yang setia dan bertanggungjawab. Ah, andai Anna tahu kalau hati Rayn sempat mendua, meski akhirnya Rayn memilih dirinya.


"Ma, keluarga Rayn sudah datang." ucap Thea yang berdiri diambang pintu kamar saudara kembarnya.


Thea juga tak kalah anggun malam itu, dimana ia memakai kebaya dengan warna yang sama seperti sang mama yaitu peach pink. Bu Veronica dan Anna langsung pangling melihat Thea.


"Kalian terlihat sangat mirip sehingga sulit untuk dibedakan. Anak-anak mama memang cantik." ucap bu Veronica berjalan bersama Anna mendekati Thea yang sudah dirias oleh penata rias langganan keluarga mereka.


Sebenarnya Thea risih jika harus dimake up. Namun untuk acara penting, ia tidak mau mempermalukan keluarganya. Dirinya pun juga pangling setelah di make up penata rias karena ia seperti melihat Anna dalam wajahnya.


"Siapa dulu dong, anak mama" ucap keduanya bersamaan sambil memeluk sang mama.


Keluarga Rayn bersalaman dengan Pak Yuda dan Bu Veronica. Mereka berbincang-bincang sebentar lalu Andra datang bersama Dion menghampiri Pak Yuda.


"Akhirnya kamu datang juga Nak Andra, Om senang kamu bisa datang." Pak Yuda memeluk Andra bahagia.


Rayn menoleh ke arah laki-laki yang tak asing dimatanya meski belum mengenalnya. Rayn memutar bola matanya malas menatap laki-laki yang sok akrab dengan Pak Yuda. Apalagi dengan mantan pacarnya yaitu Thea.


Tak lupa Andra juga bersalaman dengan keluarga Rayn yang mana Andra kenal dekat dengan papanya Rayn. Andra sedikit mengobrol untuk berbasa-basi sebagai rekan bisnis.


Andra tersenyum smrik pada Rayn, meski mereka tidak saling mengenal. Namun hawa panas menyelimuti mereka yang belum melepaskan jabat tangannya.


"Andra"


"Rayn"


Dion yang terpaku pada Risa, tak sadar jika dirinya belum bersalaman pada siapapun. Andra menyikut lengan Dion hingga orangnya tersadar.


"Kamu lebih cantik dari dewi bulan, neng Risa" ucap Dion setelah bersalaman pada semua orang, ia memilih berdekatan dengan Risa sambil mengeluarkan segala ilmu gombalnya.


Risa menatap malas pada Dion karena tingkahnya yang terang-terangan menggodanya.


'Kenapa harus ketemu si kampret ini lagi sih?' ucap Risa dalam hati.


Acara dimulai dengan MC sebagai pembawa acara. Saat calon wanita menuruni tangga menuju tempat acara. Mata semua orang terpaku pada kedua wanita yang mirip tidak ada bedanya.


"Mama bingung pa, Anna yang mana?" tanya Bu Ishana pada Suaminya.

__ADS_1


"Emmm..... entahlah papa juga bingung." jawab Pak Edwin.


Berbeda dengan para tamu yang lain, Andra langsung bisa mengenali yang mana Anna dan Thea. Andra tersenyum ke arah gadis yang memakai kebaya warna peach pink dimana gadis itu terkejut melihat keberadaannya.


'Dia? Kok ada disini?' tanya Thea dalam hati.


"Awas ngeces tuh iler, hihihi"


Dion menyikut balik sahabatnya yang menatap ke arah gadis yang baru turun dari tangga.


"Eh, Bro. Thea yang mana?"


Dion mencoba mengetes seberapa peka Andra pada Thea. Padahal Dion sendiri dari tadi bingung membedakan mana Thea dan mana yang akan bertunangan. Menanyakan pada Risa pun, juga sama tidak tahunya.


"Kebaya peach pink" Jawab Andra sambil tersenyum.


"Kok lo tahu?"


"Tau lah. Hati gue mengatakan yang itu"


Dan benar tebakan Andra kalau Thea yang mengenakan kebaya peach pink, karena Thea langsung bergabung bersama mamanya. Sedangkan Anna berdiri disebelah Rayn.


Saat acara tukar cincin dimulai, Rayn melirik ke arah Thea yang memaksakan tersenyum ke arahnya. Ia teringat jika seharusnya gadis yang ia pertahanan dan perjuangkan adalah Thea. Namun keadaan tidak semulus ekspektasinya. Tanpa sadar cincin yang Rayn pegang terjatuh dan menggelinding hingga didepan kaki Thea.


Anna tersenyum memaklumi Rayn. Ia berpikir kalau Rayn gugup hingga menjatuhkan cincin yang ia pegang.


Thea mengambil cincin tunangan saudara kembarnya lalu mengembalikannya pada Rayn. Jujur perasaan Thea tak karuan saat menyerahkan cincin itu, karena ada rasa kecewa, sedih, sakit yang ia kubur dalam kotak move on didirinya.


Pertahanan Thea hampir runtuh bersamaan tepuk tangan para tamu undangan setelah cincin selesai disematkan di jari Anna dan Rayn.


Thea mundur perlahan tanpa sepengetahuan orang-orang yang sibuk saling berbincang ataupun menikmati hidangan karena air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dan sekarang dirinya berada di taman depan dimana tidak ada seorang pun karena mereka sedang berada didalam.


Thea menangis tanpa suara. Ia menumpahkan rasa sesak didadanya. Tekatnya untuk move on dari Rayn masih dalam proses namun sudah dibuat sekacau sekarang.


Selesai menangis sebentar, ia hendak masuk kedalam rumahnya. Namun dirinya terkejut melihat seseorang yang membuatnya canggung perihal bunga waktu itu berada dibelakangnya.


"Ka-kamu?" ucap Thea terbata-bata.


"Apa kabar?" Sapa Andra mencoba untuk mengalihkan rasa sedih Thea. Andra bisa memahami kesedihan Thea sejak tadi, karena tatapannya bukan terfokus pada acara namun pada Thea.


"Ba-baik" jawab Thea.

__ADS_1


"Maaf Thea"


Thea bingung pada Andra yang tiba-tiba meminta maaf. Padahal menurut nya Andra tidak menyakitinya. Dan lebaran pun juga masih lama, jadi maaf untuk apa.


"Kenapa meminta maaf?"


"Soal bunga yang pernah ku kirim waktu itu. Tulisan tangan dikartu ucapannya bukan aku yang menulis. Tapi Dion sahabatku. Maaf jika ucapannya membuatmu tersinggung atau tidak nyaman"


'Ah, banar dugaanku kalau itu tidak mungkin tulisan tangannya Andra. Sungguh sangat jomplang sekali tata bahasanya dengan tutur kata Andra' ucap Thea dalam hati.


"Thea?" Andra melihat Thea melamun sesaat.


"Eh... I-iya?"


"Kamu memaafkan aku?"


"Iya. Nggak papa kok. Makasih Ndra bunganya"


"Sama-sama"


Jarak yang begitu dekat membuat Thea tidak nyaman apalagi cuma berdua dengan Andra. Thea memutuskan untuk pamit masuk kedalam, namun karena gugup dirinya salah pijakan sehingga hampir jatuh kalau tidak segera ditangkap oleh Andra.


Suara detak jantung keduanya yang berdebar-debar mendominasi telinga mereka. Bahkan suara MC yang sedang berbicara dengan mic, senyap bagi Andra dan Thea.


"Woww emejing" ucapan Dion membuyarkan lamunan Andra dan Thea yang saling menatap dalam.


Thea segera masuk kedalam meninggalkan Andra yang berdecak kesal pada Dion. Sedangkan Dion hanya cengengesan sambil berjalan ke arahnya.


"Lo itu ya. Udah maksa ingin ikut, ngeganggu lagi. Cari kesibukan sendiri sana!" protes Andra pada Dion.


"Hehehe, sorry bro. Habisnya Neng Risa nggak mau gue ajak bicara padahal eh...."


Andra tak meladeni lagi ocehan Dion. Ia bergegas menyusul Thea yang sudah masuk kedalam.


"Lah... gue ditinggalin sendiri. Dasar bucin"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hai Readers 👋👋👋...


...Selamat membaca ya! Jangan lupa like, coment, & Vote....

__ADS_1


...Terimakasih sudah mau mampir 🧡🧡🧡...


__ADS_2