
"Mama sedang apa disana? Thea mau minta maaf ma sama mama. Thea udah ngecewain mama. Gara-gara Thea, Anna jadi kecelakaan ma." Thea berbicara pada kuburan dihadapannya seolah-olah sedang berbicara dengan mamanya.
"Keadaan Anna sekarang udah lebih baik ma, meski mengalami amnesia setidaknya sudah melewati masa kritisnya. Thea bener-bener menyesal ma udah jahat sama Anna." lanjutnya sambil menghapus air matanya dipipinya.
"Apa Thea harus menikah dengan Andra agar Anna bisa bahagia dengan Rayn ma? Jika itu bisa menebus kesalahan Thea sama Anna, Thea bersedia ma. Tapi.... " Thea tertunduk dengan ucapannya yang belum selesai.
Thea menghembuskan nafasnya kasar lalu kembali menatap batu nisan dihadapannya.
"Tapi Thea tidak mencintai Andra. Thea takut kalau Andra merasa cuma dijadikan pelarian saja. Padahal Thea tidak bermaksud seperti itu. Thea sudah move on kok sama Rayn, hanya saja masih trauma untuk membuka hati lagi."
Tanpa Thea sadari, seseorang telah berdiri dibelakangnya dan mendengarkan semua ucapannya.
Beberapa menit kemudian, Thea merasa kalau kunjungan dan curhatnya ke makam mama kandungnya sudah selesai.
"Thea pamit ya ma. Maaf kali ini Thea tidak bawa buah tangan. Lain kali Thea kesini lagi bawa kue bolu kesukaan mama biar bisa kita makan sama-sama. Emm... mungkin besok malam aja ya Thea kesini lagi sambil bawa kuaci juga. Kita nonton piala dunia sama-sama." ucapnya dengan sangat konyol.
Thea beranjak dari duduknya lalu berbalik hingga tak sengaja dahinya membentur dada seseorang. Thea terkejut saat melihat Andra berada di hadapannya saat ini.
'Andra? Dia disini? sejak kapan? apa dia mendengar semua ucapanku tadi? alamak begonya diri ini.' ucapnya dalam hati.
Mulut Thea terasa keluh untuk menyapa Andra. Ia hanya bisa tertunduk dengan perasaan campur aduk.
Andra yang melihat ekspresi Thea menyadari kalau gadis dihadapannya sedang canggung padanya. Sebenarnya dirinya merasakan patah hati karena Thea yang ia sukai ternyata belum menaruh perasaan padanya. Tapi setelah mendengar perkataan Thea tadi, Andra merasa masih punya kesempatan untuk menumbuhkan perasaan didiri Thea untuknya.
"Sedang apa disini?" tanya Andra pada Thea.
"Se-sedang berkunjung ke makam mama kandung aku." jawab Thea dengan kepala masih tertunduk.
"Hey apa aku terlihat jelek sehingga kamu tidak mau menatapku?" tanya Andra.
"Eh tidak. Bukan gitu maksud aku. Eh maksudnya kamu nggak jelek." ucap Thea sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah Andra.
'Astaga senyumnya' Thea tanpa sengaja melihat Andra tersenyum ke arahnya. Ia tidak berkedip menatap Andra karena terpesona melihat ketampanan Andra saat tersenyum.
"Berarti aku ganteng?" tanya Andra sambil memainkan alisnya.
Thea tak berani menjawab pertanyaan Andra barusan. Ia hanya bisa menunduk kepalanya lagi. Sedangkan Andra melewati Thea dan mendekat ke arah makam yang katanya adalah mamanya Thea.
"Selamat sore tante. Salam kenal saya Andra, senang bisa berjumpa dengan Anda." ucap Andra pada makam dihadapannya.
__ADS_1
Andra juga berdoa untuk mama kandungnya Thea yang sudah meninggal tersebut. Tanpa Andra sadari, Thea tersenyum melihat Andra sedang berdoa untuk mamanya.
Setelah selesai mendoakan mamanya Thea. Andra berdiri dan kembali menatap ke arah Thea yang membuat Thea salah tingkah.
"Thea"
"Ya"
"Bisa kita bicara berdua?"
Thea mengangguk mengiyakan. Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil Andra. Andra membukakan pintu mobil untuk Thea.
"Silahkan masuk! " ucap Andra.
"Terimakasih" jawab Thea.
Mobil Andra melaju meninggalkan area pemakaman. Thea yang semula diam, memberanikan diri bertanya pada Andra saat merasa jalan yang dilewatinya tidak asing baginya.
"Kita mau kemana?" tanya Thea pada Andra.
"Ke suatu tempat yang kamu suka. Kita akan mengobrol disana." jawab Andra sambil tersenyum tipis.
"Ayo turun" ajak Andra pada Thea.
Thea masih bergelut dengan pikirannya sendiri dan mencoba menebak-nebak jawabannya. Ia berjalan disamping Andra mengikuti kemana Andra ingin mengajaknya.
"Naik perahu mau?" tanya Andra pada Thea.
"Eh tunggu. Emangnya boleh?" tanya Thea.
"Tentu saja boleh. Fasilitas disini seperti taman dan danau memang dibuat untuk para pemilik Villa disini." jawab Andra.
Tanpa bertanya lagi, Thea sudah tahu jawabannya kalau Andra salah satu pemilik Villa disini. Seperti keluarga Rayn.
Setelah berada di atas perahu dan sesekali menggayungnya. Andra mulai mengajak Thea mengobrol serius.
"Aku mendengar semua yang kamu ucapkan didepan makam mama kamu tadi Thea. Maaf, tak seharusnya aku menguping pembicaraan orang. Tadinya ingin memastikan apakah benar itu kamu atau cuma salah lihat. Ternyata benar itu kamu, dan saat aku ingin menyapamu. Aku mengurungkan niatku untuk menyapamu karena sepertinya kamu sedang tidak bisa diganggu." ucap Andra
"Sekarang aku ingin berbicara tentang kita. Aku memang menaruh perasaan sama kamu sejak pertama kita bertemu. Tapi aku tidak ingin memaksakan perasaan kamu kepadaku. Apalagi sampai memaksa menikah denganku. Meski aku ada rencana kesana jika perasaanku bersambut. Bolehkah aku mendengar kejujuranmu tentang semua ini?" tanya Andra pada Thea.
__ADS_1
Thea sudah tidak bisa lagi mengelak apalgi berbohong karena akan semakin rumit dan panjang urusannya. Mau tak mau ia jujur pada Andra dan Andra mendengarkannya tanpa memotong ucapan Thea.
"Maaf Ndra. Aku membawa-bawa kamu dalam masalahku. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menyelesaikannya sendiri." ucap Thea dengan yakin.
Andra tampak berpikir sejenak. Lalu tanpa disangka-sangka ia berkata sesuatu yang membuat Thea gelagapan.
"Aku bersedia menikah denganmu" ucap Andra pada Thea.
"Tapi aku tidak ingin menyakitimu karena tidak ada cinta dalam pernikahan ini. Aku tidak ingin kamu merasa dijadikan sebuah pelarian." jawab Thea.
"Apakah kamu masih mencintai Ray?" tanya Andra.
"Sudah tidak lagi." jawab Thea.
Andra bisa melihat kejujuran dan ketegasan dalam ucapan Thea barusan.
"Tidak semua pasangan sudah saling mencintai sebelum mereka menikah Thea. Banyak juga yang baru saling mencintai setelah menikah. Rasa cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu dan kebersamaan mereka. Meski rumah tangga tak selamanya bahagia, tapi jika memiliki komitmen yang kuat untuk serius maka akan memperoleh cinta dan kebahagiaan didalamnya." Ucap Andra yang disimak baik-baik oleh Thea.
"Aku tidak ingin kamu mau menikah denganku karena paksaan. Aku ingin menikah sekali seumur hidup. Jika pernikahan atas dasar paksaan takutnya berakhir perpisahan. Aku senang kamu sudah bisa move on dari Ray. Meski belum ada cinta untukku, tapi aku berharap kamu memberikan kesempatan untuk membuka hati untukku. Maukah kamu menikah denganku dan belajar menumbuhkan cinta dalam rumah tangga kita?" sambungnya.
Deg....
Jantung Thea terasa berdetak begitu cepat. Ia tertegun mendengar setiap kata yang Andra ucapkan. Ia mencoba mencari kebohongan dimata Andra. Namun Yang Thea temui adalah kejujuran dan keseriusan dimata Andra.
"A-aku bersedia" jawab Thea.
Ingin rasanya Andra jingkrak-jikrak karena saking bahagianya. Namun ia harus memastikan kalau Thea benar-benar bersedia karena keinginannya sendiri, bukan karena paksaan.
"Kamu nggak terpaksa menyetujuinya karena Anna ataupun ucapan mamamu kan?" tanya Andra apda Thea.
Thea tersenyum mendengar pertanyaan dari Andra.
"Awalnya aku berpikir seperti itu sebelum mendengar penjelasanmu. Tapi setelah mendengar keseriusanmu, aku ingin belajar membuka hati untukmu. Aku ingin mencari cinta dan kebahagiaan didalam rumah tangga yang kamu impikan sekali seumur hidup itu." jawab Thea.
Andra tersenyum dan mendekap Thea dalam pelukannya karena saking bahagianya.
"Terimakasih Thea." ucap Andra sambil mengeratkan pelukannya.
Thea terkejut saat Andra tiba-tiba memeluknya. Dan perlahan pun ia mulai membalas pelukan Andra.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...