
Anna sedikit kecewa dengan Rayn yang tidak bisa mengantarnya ke Mall. Ia pun juga tidak bisa memaksanya. Beruntung temannya Anna mau diajak untuk menemaninya ke mall.
Selesai mandi Thea bingung outfit apa yang akan ia kenakan untuk pergi kekampus. Thea tidak biasanya bingung seperti ini. Ia akan langsung memakai pakaian apapun tanpa memilih-milih terlebih dahulu, yang terpenting sopan untuk dipakai kuliah.
"Duhh, harus pakai yang mana ini? Ini kali ya, lebih Oke? "
Thea memilih celana kulot berwarna choco dan kemeja warna putih. Thea memang tidak terbiasa untuk memakai rok selama ini.
Selesai memakai pakainya. Thea bercermin di depan cermin betapa berbeda dirinya. Ia segera menyisir rambutnya dan mengikatnya. Tak lupa memakai parfum favoritnya yang beraroma vanilla.
Meski tidak memakai make up atau skincare, Thea terlihat cantik natural.
Di meja makan, semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk sarapan pagi. Thea menghampiri mereka untuk sarapan dengan mereka.
"Anak papa cantik banget hari ini" ucap papa yang membuat pipi Thea merona seperi tomat.
"Terimakasih papa" jawab Thea malu-malu
Mereka semua sarapan seperti biasanya. Saat sedang meminum air putih, HP Thea berbunyi sepertinya ada pesan masuk.
Rayn
(Good Morning sayang)
Thea melirik kearah Anna yang sedang mengobrol dengan mama.
Thea
(Good Morning)
Rayn
(Udah sarapan belum?)
Thea
(Udah kok. Ini baru selesai sarapan)
Rayn
(Oh udah sarapan. Padahal mau ajak kamu sarapan kalau emang belum sarapan)
Obrolan mereka dichat membuat Thea tak sadar jika ia senyum-senyum sendiri tidak jelas. Anna yang melihat itu mencoba menggoda Thea.
"Ehem. Pagi-pagi udah ada yang dibuat senyum-senyum. Siapa sih? "
Thea terkejut dan langsung memasukkan hpnya didalam tasnya.
"Bukan siapa-siapa kok" jawab Thea mencoba untuk tidak gugup
"Kalau siapa-siapa juga nggak papa, iya kan Pa Ma?"
Kedua orang tua mereka serentak mengiyakan hingga membuat Thea tertunduk malu. Thea segera menghabiskan sarapannya. Mereka lalu berangkat bersama ke kampus.
"Eh, btw kata mama kamu semalem nolongin orang kecelakaan ya Thea? " tanya Anna sambil menyetir mobilnya.
"Iya, kecelakaan tunggal" jawab Thea
__ADS_1
"Oh, sekarang orangnya bagaimana? "
"Aku nggak tahu. Tapi semalem udah boleh pulang "
"Kamu nggak kenal dia? "
"Enggak "
"Tapi tahu rumahnya? "
"Enggak juga"
"Lah, trus siapa yang nganterin pulang? "
"Ceweknya kali. Kemaren ada yang ngaku-ngaku ceweknya. Duh kalau inget bikin kepala puyeng aja"
"Kenapa? "
"Gila suaranya kaya petasan lebaran. Kok kuat ya si cowoknya. Kupingku aja rasanya mau lari"
Anna tertawa mendengar keluhan Thea. Hingga membuat Thea menatap bingung padanya.
"Ck, malah ketawa?"
"Habisnya kamu lucu sih. Kalau udah cinta ya gitu Thea. Kentut aja pasti dibilang lebih wangi dari parfum Gucci."
"Hahaha.Bisa gitu ya"
Selesai kuliah, Thea dan Rayn menuju pantai yang akan mereka kunjungi. Tentu dengan cara diam-diam agar tidak diketahui oleh Anna. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Rayn memuji Thea. Ia terus menggenggam tangan Thea seakan tidak mau kehilangan dirinya.
Thea pikir sore hari pantai akan lebih sepi daripada pagi hari. Ternyata sore hari juga tidak kalah ramai dari waktu pagi hari. Mungkin mereka juga ingin melihat senja tenggelam di ujung barat.
"Iya sayang, nanti kita akan melihat keindahan senja sore hari disini" jawab Rayn sambil merangkul Thea.
"Kamu pernah kesini sama Anna? "
Mendengar pertanyaan Thea membuat Rayn kalang kabut. Ingin jujur menjawab iya tapi takut Thea marah. Ingin berbohong tapi sepertinya Thea sudah tahu.
"I-iya beberapa kali" jawab Rayn kikuk.
Thea tersenyum kecut mendengar jawaban Rayn. Mengapa Rayn mengajaknya ketempat yang sering ia kunjungi dengan Anna? Kenapa tidak ketempat yang belum pernah ia kunjungi dengan Anna? sehingga bisa dikatakan membuka lembaran baru.
Ah sudahlah, Thea tidak mau terlalu overthinking. Bagaimana pun saat-saat seperti ini dengan pemandangan yang bagus harusnya dinikmati dengan romantis.
Mereka duduk bawah pohon kelapa. Posisi mereka agak menjauh dari keramaian orang-orang. Mereka ingin menikmati saat-saat berdua.
Rayn menyelipkan anak rambut Thea yang mengganggu penglihatannya.
"Kamu cantik sayang" ucap Rayn lalu mengecup sekilas bibir Thea.
Thea yang masih syok hanya bisa bengong saja. Ekspresi Thea membuat Rayn gemas melihatnya.
"Hey, kok bengong? "
"Enggak kok" jawab Thea dengan wajah malu-malu.
"Kamu belum pernah dicium sebelumnya?" tanya Rayn
__ADS_1
"Be-belum"
"Berarti aku yang pertama untukmu?"
"Iya"
"Thankyou sayang, kamu manis" ucap Rayn sambil mencubit hidung Thea pelan.
"Ish, gombal"
"Beneran, bibir kamu manis. Gula aja kalah manis dari kamu" Rayn mendekatkan wajahnya dan menatap Thea lebih dalam.
Thea menunduk karena belum terbiasa dengan apa yang terjadi.
"Ray"
"Hmm"
"Nggak jadi"
"Kok nggak jadi? nggak papa ngomou aja" Rayn mengerutkan dahinya, menunggu jawaban Thea.
"Hatiku tetap mengatakan ini salah. Bagaimana perasaan Anna nanti? " ucapan Thea melunturkan senyuman dibibir Rayn.
"Aku sudah memikirkan semua itu sayang. Tolong jangan bahas Anna saat kita sedang berdua ya. Kita nikmati saat-saat kita bersama saja. Oke"
Thea hanya mengangguk saja. Ia melihat senja begitu indah di langit bagian barat.
"Cantik ya" ucap Thea kagum pada apa yang ia lihat.
"Iya. Cantikan kamu" jawab Rayn
Tatapan keduanya bertemu lagi. Thea menyandarkan kepalanya dibahu Rayn. Rayn mengecup kening Thea. Mereka benar-benar menikmati saat-saat bersama.
Berbeda dengan Andra, cowok yang sempat Thea tolong waktu itu. Ia meratapi cintanya yang kandas. Hubungannya dengan Sella berakhir dengan tak disangka-sangka.
"Sudah lah bro. Masih banyak cewek diluar sana yang jauh lebih pantas untuk lo" Ucap Dion teman Andra.
Mereka sedang berada di sebuah pantai yang sama dengan Thea dan Rayn. Namun posisi Andra dan Dion berada di Villa pribadi dekat pantai.
Andra memandang lurus kearah senja yang perlahan tenggelam. Dimata Andra senja yang tenggelam bukanlah hal yang indah ataupun sesuatu yang romantis. Namun sesuatu yang pergi meninggalkan saat-saat kita ingin menikmati keindahan senja yang cantik. Pergi dan tidak dapat digapai.
Hati Andra mendingin seperti es kutub. Sella yang dicintainya sudah mengkhianati dirinya. Padahal Andra ingin membina hubungan lebih serius dengannya. Selama mereka berpacaran Andra tak pernah melampaui batasnya hingga merusak anak gadis orang. Ia menjaganya layaknya sebuah permata. Namun yang dijaga malah berkhianat.
"Jadi lo kemaren kecelakaan gara-gara dia? "
"Sudahlah jangan bahas perempuan itu lagi"
Dion mendengar nada bicara Andra yang dingin dan datar. Menjadi sedikit khawatir dengan sosok temannya ini.
'Alamat jadi kulkas dua belas pintu nih anak' ucap Dion dalam hati
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai Readers 👋👋👋...
...Terimakasih sudah mau mampir di novel aku. Selamat membaca ya. Jangan lupa dukungannya ya. See U 🧡🧡🧡...
__ADS_1