
Setelah puas memeluk Thea, Rayn mengajak Thea untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari mereka. Rayn menatap Thea dengan penuh arti, yang tidak Thea pahami. Thea menunggu Rayn untuk berbicara terlebih dahulu karena ia ingin memastikan sang pacar sudah jauh lebih baik.
"Aku cinta sama kamu sayang. Tolong jangan tinggalin aku ya. "
Thea menatap bingung pada Rayn, tiba-tiba tadi memeluknya dan menangis dalam pelukannya. Sekarang mengatakan untuk tidak meninggalkan dirinya.
'Aku kan nggak kemana-mana. Aneh banget! Apa jangan-jangan yang ada dihadapanku ini Genderuwo? Secara, ini kan di alam terbuka.' Ucap Thea dalam hati.
"Ray, sebutkan dimana alamat rumahku? " tanya Thea mengetes sosok yang sedang bersamanya.
"Ha? " tanya Rayn bingung.
Thea berdiri dan mundur beberapa langkah dari hadapan Rayn.
"Kamu kenapa sayang? "
"Kamu siapa? " Thea menatap Rayn dengan selidik.
"Aku Rayn pacar kamu." Rayn mendekati Thea dan memegang kedua tangannya.
"Kamu kenapa menjauhi aku? " tanya Rayn pada Thea.
"Kamu bukan dedemit kan? " Sontak saja Rayn tertawa cekikikan mendengar pertanyaan Thea.
"Kok ketawa sih? Hayo, kamu sejenis apa coba? Pocong, badarawuhi, genderuwo, tante kunti, atau tuyul? "
"Siapa itu tante kunti? " tanya Rayn setelah tertawa cekikikan, bisa-bisanya Thea hafal jenis-jenis dedemit.
"Itu Tante Kuntilanak" jawab Thea
"Aku bukan dedemit sayang. Aku Rayn pacar kamu. Kenapa kamu mengatakan itu padaku? "
"Kamu beneran Rayn?" Rayn mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu jawab pertanyaan ku, dimana alamat rumahku? " Thea harus waspada pada sosok di hadapannya, ia tidak mau dikibuli dedemit lalu dibawa ke alam ghoib.
"Kawasan Rose Street" jawab Rayn pada akhirnya.
"Huhhh.... syukurlah. Aku sampai ancang-ancang mau lari Ray, kalau benar yang di hadapanku ini dedemit." ucap Thea.
Mereka berdua kembali duduk dikursi tadi. Rayn membetulkan anak rambut Thea dan menyelipkan nya dibelakang telinganya. Thea jadi salah tingkah, meski ia sering diperlakukan seromantis mungkin setelah berpacaran dengan Rayn.
"Kamu cantik sayang"
Bluss...
__ADS_1
Seketika pipi Thea memerah seperti tomat yang harganya pernah anjlok. Kasihan sekali petaninya sampai ada yang membuangnya dan membiarkan hasil penennya busuk karena harga tomat sempat anjlok.
"Kamu tadi kenapa Ray? tiba-tiba nangis lalu bilang nggak mau ditinggalin sama aku?" Thea mencoba bertanya pada Rayn untuk mengalihkan salah tingkahnya.
"Nggak papa sih sayang. Aku cuma nggak mau kamu tinggalin aja."
"Aku nggak kemana-mana kok Ray" jawab Thea.
Rayn tersenyum mendengar jawaban Thea, mungkin Thea mengartikannya kalau dirinya pergi jauh dan Rayn tidak mau ditinggal. Padahal maksud Rayn, ia tidak mau ditinggal Thea dalam segi hubungan.
"Emm, Mumpung masih disini, gimana kalau kita ke danau sayang. Kita naik perahu!"
"Boleh"
Thea menuruti keinginan Rayn yang mengajaknya ke danau. Siapa tahu suasana perasaan Rayn bisa jauh lebih baik.
Mereka berdua menuju danau yang tidak jauh dari taman bunga. Thea memandang takjub pada apa yang ia lihat di hadapannya.
"Ayo sayang kita naik perahu" ajak Rayn pada Thea.
"Wait. Aku masih nge-lag Ray" jawab Thea.
Rayn tersenyum melihat ekspresi Thea yang kagum pada keindahan danau didepannya.
Danau di hadapannya memiliki air yang bening kebiruan dimana ada dua perahu berwarna putih yang bersandar di pinggir danau. Di sekitar danau di tumbuhi rumput berwana hijau yang rapi. Sepertinya danau yang ada di hadapannya selalu terawat.
"Bisa jelaskan padaku, mengapa danau seindah ini bisa sepi pengunjung? " tanya Thea pada Rayn.
"Ini danau privat Thea. Tidak sembarang orang boleh ke danau ini. Dulu Danau itu tidak terawat, tapi setelah kawasan ini dibeli oleh papaku jadi disulap lebih cantik dari sebelumnya. Papa membangun sepuluh villa, taman bunga, dan menyulap danau ini menjadi lebih bagus agar kerabat dan keluarga kami bisa piknik disini." jawab Rayn pada Thea.
"Apa tidak rugi Ray, pasti harganya mahal banget karena ada danau nya? "
"Sepertinya tidak sayang, karena dari kesepuluh Villa kami. Papa menjual lima Villa kami pada rekan bisnisnya dengan harga yang nggak main-main tentunya. Mereka juga tertarik karena lokasi Villa ini bagus ada taman bunga dan danau nya yang bisa mereka nikmati."
"Ohh gitu"
"Mau naik perahu sekarang sayang? mumpung lagi bagus sunset nya. "
"Ayo"
Rayn menuntun Thea untuk naik ke salah satu perahu terlebih dahulu lalu disusul dirinya. Rayn melepas tali yang mengikat perahu pada sebuah tiang kayu agar perahu bisa digunakan.
"Ini dayungnya sayang" Rayn melihat ada dua dayung dan memberikan satu dayung pada Thea yang duduk didepannya.
Mereka berdua mendayung perahu itu menuju ke tengah danau yang indah, apalagi sunset sudah terlihat diujung barat.
__ADS_1
"Indah banget ya Ray" ucap Thea tak henti-hentinya mengagumi ciptaan Tuhan.
"Kamu suka? " tanya Rayn pada Thea.
"Iya, aku suka"
Thea mengambil hpnya dari dalam totebag nya, lalu memotret obyek di sekelilingnya. Tak lupa ia memotret senja yang indah sore itu.
"Kamu nggak ingin selfie? " tanya Rayn pada Thea karena sang pacar hanya memotret obyek alam saja ketimbang foto selfie.
"Aku nggak terlalu suka foto selfie" sebenarnya Thea tidak pandai berpose, karena itu sekalinya mencoba selfie jadinya malah kelihatan kayak orang-orangan sawah.
Berbeda dengan Anna yang aktif di sosmed, apalagi followers Instagram nya mencapai tiga juta lebih. Anna sangat pandai berpose saat foto, karena itu hasil fotonya bagus-bagus semua.
Rayn pun mengeluarkan hpnya dari saku jaketnya lalu memotret Thea yang ada di hadapnnya. Ia tersenyum melihat hasil fotonya, Thea yang ia foto secara candid terlihat cantik dan hasilnya natural.
"Coba lihat ini sayang, kamu terlihat cantik. " Rayn menunjukkan hasil fotonya pada Thea.
"Iya bagus" Thea tersenyum melihat hasil foto Rayn. Baru kali ini Thea merasa terlihat cantik di foto.
Beberapa detik setelahnya, saat Thea masih mengamati hasil fotonya di hp Rayn. Ada panggilan telepon masuk dari Anna.
"Anna telepon Ray" ucap Thea pada Rayn yang seketika merasa salah tingkah.
"I-iya" jawab Rayn kikuk.
"Angkat aja. Siapa tahu penting. " Thea mengalah kali ini, karena dia hanya yang nomer dua.
Rayn mengangkat panggilan telepon dari Anna. lalu menempelkan pada telinga kanannya.
"Hallo" ucap Rayn terlebih dahulu.
"Kamu dimana sayang? " Tanya Anna di seberang telepon.
Meski tidak di loudspeaker, namun Thea masih bisa mendengar suara Anna. Thea tersenyum kecut mendengar Anna memangil Rayn dengan sebutan sayang.
Setiap pasangan wajar saja memanggil pasangannya dengan sebutan sayang. Namun entah mengapa hati Thea terasa perih mendengar pacarnya dipanggil sayang oleh cewek lain, meskipun itu pacar pertamanya Rayn.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai Readers 👋👋👋...
...Selamat membaca ya! Jangan lupa like, coment, & Vote....
...Terimakasih sudah mau mampir 🧡🧡🧡...
__ADS_1