Mencintai Si Kembar

Mencintai Si Kembar
Tutorial mengatakan putus dengan pacar


__ADS_3

Sudah beberapa hari Thea keluar dari rumah sakit. Ia juga sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Thea berdiri di balkon kamarnya malam itu. Matanya menatap ke arah langit yang membawa tetesan air hujan. Tangan kanannya menengadah merasakan rintik hujan menetes di atas telapak tangannya.


Thea mengingat ingat saat pertama kali dirinya merasa jatuh cinta. Bibirnya tersenyum dan matanya mengeluarkan air mata seperti hujan malam itu. Dari masa SMP sampai masa SMA ia hanya bisa melihat cowok yang ia sukai menjadi pacar Anna. Anna lah pemenangnya, Anna yang selalu dipuji lebih cantik darinya, Anna yang lebih pandai darinya, Anna dan Anna.


Dan sekarang saat Thea merasakan cintanya bersambut, ia harus mengalah lagi dengan Anna. Thea bertanya-tanya pada dirinya mengapa sosok yang ia sukai selalu sama dengan Anna. Apa itu juga bagian dari anak kembar? Ingin rasanya Thea mengomel-ngomel dihadapan Tuhan tapi ia tidak seberani itu. Thea masih takut sama azab Tuhan.


Thea sudah mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Rayn demi Anna. Thea akan mengalah lagi untuk kesekian. Ia sudah pernah merasakan cintanya bersambut meski dengan cara yang salah. Thea juga sudah lelah menunggu Rayn sesuai janjinya.


Thea


(Ray, bisa kita bertemu sekarang?)


Rayn


(Tapi kamu baru aja sembuh sayang.)


Thea


(Aku ingin bertemu kamu malam ini)


(Aku tunggu jam delapan malam di Blue Cafe)


Rayn


(Oke)


Thea memakai jaketnya lalu mengambil kunci mobil dan dompetnya. Ia keluar dari kamar dan memastikan ke sekeliling rumah. Dan benar saja keluarga nya masih berada di ruang keluarga.


"Mau kemana nak?" tanya Pak Yuda pada putrinya.


"Anu pah, mau ke luar sebentar ke toko buku."


"Ini sudah malam nak. Apa tidak bisa besok saja?" tanya bu Veronica pada putrinya.


"Thea butuh bukunya sekarang ma. Boleh ya? nanti sebelum jam sembilan, Thea udah pulang kok ma."


"Papa anterin ya nak?" tawar papa pada Thea


'Aduh, gimana ini.' ucap Thea dalam hati.


"Emm, Thea lagi ingin sendiri pa" dalam hati Thea berdoa semoga dilancarkan urusannya hari ini.


Pak Yuda menghela nafas kasar, ia tidak tega sebenarnya pada putrinya itu karena baru beberapa hari sembuh. Namun ia juga tidak ingin terlalu mengekang Thea. Selama ini Thea tidak pernah menghancurkan kepercayaannya. Thea selalu menjadi anak yang penurut pada orang tuanya.


"Ya sudah. Hati-hati dijalan. Kalau ada apa-apa langsung hubungi papa! "


"Baik pa"


Thea tidak ingin berbohong pada orang tuanya. Ia mampir terlebih dahulu ke toko buku sebelum menemui Rayn di Blue Cafe. Thea membeli buku tentang kewirausahaan untuk dibaca-baca nanti setelah itu ia bergegas menuju Blue Cafe.


Tidak butuh waktu lama, Thea sudah sampai di Blue Cafe. Ia memesan secangkir mocha latte sambil menunggu kedatangan Rayn.

__ADS_1


"Duh, bilangnya dari mana ya?"


Thea bingung hendak mengatakan apa untuk pembukaan.


"Tanya google kali ya?"


Thea mulai mengetik 'tutorial mengatakan putus dengan pacar'.


"Sepuluh cara putus baik-baik biar nggak sakit hati. Buset, ada sepuluh cara! "


Thea membacanya sekilas namun tidak ada yang sesuai dengan yang ia cari. Namun ia tidak pantang menyerah, ia melirik sekilas ke sekitarnya untuk memastikan apakah Rayn sudah datang.


"Terima kasih telah menjadi teman chat ku..... haiss. Ray kan bukan teman chat ku" Thea membaca kalimat yang dianjurkan dari salah satu website.


"Ish.... kok nggak ada yang nunjukin kalimat yang cocok sih?"


"Hai sayang" Rayn tiba di samping Thea dan tersenyum menatapnya.


Thea terkejut hingga membuat hpnya melompat dari tangannya dan jatuh ke lantai. Ia mengambil hpnya lalu memasukkannya kedalam saku jaketnya.


"Si-silahkan duduk Ray. Mau pesan apa?"


" Emm...Sama deh kaya kamu" jawab Rayn lalu mamanggil pelayan cafe itu.


'Rileks Thea rileks. Tuntasin hari ini trus pulang. Ingat deadline mu hari ini sebelum jam sembilan malam.' ucap Thea dalam hati.


"Kamu kenapa sayang?" Rayn menatap Thea seperti sedang gugup.


"Harusnya kalau masih nggak enak badan jangan dipaksain keluar dulu sayang."


Rayn mengatakannya sambil mengusap punggung tangan Thea. Thea menjauhkan tangannya yang dipegang Rayn secara perlahan.


"Aku ingin mengatakan hal penting sama kamu Ray"


ucap Thea sambil mencoba menatap Ray.


"Kan bisa lewat telepon."


"Lebih baik bicara langsung aja." jawab Thea


Thea menundanya sebentar karena ia tidak ingin saat mengatakan hal sakral itu malah kaku, karena kedatangan pelayan yang mengantarkan minuman Rayn.


Setelah pelayan mengantarkan minuman yang dipesan Rayn. Thea dan Rayn meminum meminumnya sedikit lalu kembali fokus pada tatapan mereka satu sama lain.


Rayn menatap Thea dengan penuh cinta. Tak henti-hentinya ia memuji sang pacar dan menasehati untuk selalu menjaga kesehatan. Thea hanya terseyum saja tanpa menjawabnya. Ia melirik pada jam tangannya yang sudah menujukan pukul sembilan tiga puluh lima menit.


"Ray? "


"Apa sayang?"


"Aku ingin mengatakan hal penting"

__ADS_1


"Iya"


"Aku ingin kita putus"


Seketika senyuman Rayn meluntur saat itu juga. Ia terasa seperti disambar petir tepat dihatinya.


"Kamu ngomong apa sih?"


"Aku serius ingin kita putus"


"Kamu bohong kan?"


Thea menggelengkan kepalanya. Ia melepaskan kalung yang ia pakai. Dimana kalung berliontin love yang pernah dikasih Rayn waktu itu.


"Aku kembalikan ini. Maaf"


Thea meletakkan kalung itu di dekat minuman Ryan. Rayn menatap kalung yang dikembalikan oleh Thea.


"Apa salahku sayang?"


Thea tidak menyangka Rayn mengucapkan kalimat itu. Tiga kalimat dimana menujukan bahwa Rayn meremehkan janjinya. Thea tertawa kecil menertawakan dirinya yang dibodohi oleh sosok dihapannya. Sosok yang ia cintai.


"Aku yang salah. Aku salah sudah menghianati saudaraku. Aku yang salah karena masih mencintaimu meski aku sudah tahu kamu milik Anna. Aku yang salah sudah mau menunggumu dan berharap janjimu itu benar."


Deg.....


Rayn merasa tertampar oleh janjinya dulu.


"Maaf kan aku sayang. Tolong jangan tinggalin aku. Aku akan.... "


Perkataan Rayn terpotong karena Thea mengangkat telapak tangan kanannya mengisyaratkan pada Rayn untuk berhenti bicara.


"Sudahlah Rayn. Keputusanku sudah bulat. Aku harus pulang sebelum jam sembilan malam"


Thea berdiri dan hendak menuju kasir untuk membayar kedua minuman itu. Namun Rayn mencegahnya dengan cara memegang pergelangan tangan kanan Thea.


Thea menatap Rayn begitu juga Rayn menatapnya. Thea mencoba melepaskan tangan Rayn namun tidak bisa karena Rayn memegangnya dengan sangat kuat.


"Lepasin Ray" ucap Thea dengan penuh penekanan.


"Kamu belum dengerin penjelasan aku Thea" suara Rayn seperti menahan marah. Thea mendadak jadi takut, namun ia berusaha tidak menunjukkan ekspresi takutnya itu pada Rayn.


"Aku akan memberitahu Anna soal hubungan kita kalau kamu ingin kita putus. Anna akan membencimu begitu juga kedua orang tuamu" Rayn tersenyum sinis menatap Thea.


'Maaf sayang aku nggak bisa melepaskan kamu' ucap Rayn dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hai Readers 👋👋👋...


...Selamat membaca ya! Jangan lupa like, coment, & Vote....

__ADS_1


...Terimakasih sudah mau mampir 🧡🧡🧡...


__ADS_2