
Di sebuah kamar mandi cewek yang berada di lingkungan kampus. Thea memperhatikan parfum beraroma petai yang ia pegang. Ia mencoba menyemprotkan sedikit di punggung tangannya sebelah kiri
Uhuk... uhuk...
"Buset! Ini wanginya petai banget."
Ekspresi Thea menahan tangisnya karena ia tidak suka bau petai dan jengkol. Ia segera membasuh punggung tangannya dengan air mengalir, lalu menggosoknya dengan sabun agar wanginya hilang.
Drrrttt..... drrrttt......
Thea mengecek hpnya yang berdering. Sebuah panggilan telepon masuk dari Rayn.
"Hallo sayang" ucap Rayn dari seberang telepon.
"Hemm" Thea menjawabnya dengan malas.
Sejak kejadian semalam, perasaan cinta Thea menjadi luntur dan tergantikan dengan benci yang datang untuk Rayn. Thea kecewa karena Rayn membentak dan mengancamnya semalam. Ia pikir seorang Rayn yang ia kenal baik mau mengikhlaskan dirinya. Namun, ia salah. Rayn malah berbalik menjadi boomerang bagi dirinya.
"Kamu dimana? Udah nggak ada kelas lagi kan?" tanya Rayn dengan nada lembut. Berharap Thea mau memaafkan dirinya.
"Lagi dikamar mandi. Kenapa?" tanya Thea balik dengan nada ketus.
"Kamu masih marah sama aku sayang? Maaf kalau semalam aku membentakmu."
"Aku akan memafkanmu kalau kita putus." jawab Thea berharap Rayn mau menerima keputusannya.
Rayn yang mendengar permintaan putus dua kali dari Thea jadi tersulut emosi lagi. Ia memukul setir mobilnya untuk melampiaskan emosinya karena dirinya sedang berada di dalam mobil.
Rayn memejamkan matanya sebentar lalu menghela nafas kasar untuk menetralkan perasaannya. Ia tidak mau menyakiti Thea seperti tadi malam.
"Sayang, kita bicara baik-baik lagi ya. Aku menunggumu didalam mobilku." ucap Rayn dengan nada selembut mungkin.
"Bicara lewat telepon kan bisa." tolak Thea karena ia malas bertemu Rayn. Padahal di chatnya semalam ia menerima ajakan Rayn untuk nonton film sebagai bentuk permintaan maaf Rayn.
Thea terpaksa menerima ajakan Rayn untuk menonton film sepulang kuliah karena Rayn menyelipkan kata ancaman yang sama agar Thea mau.
"Kamu nggak mau aku bilang ke Anna kan, soal hubungan kita?"
Tuh kan, lagi-lagi ia diancam dengan ancaman yang sama. Thea semakin membenci sosok yang sedang bertelepon dengannya.
"Iya iya aku kesana sekarang." jawab Thea lalu langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
Thea menatap botol parfum yang ia pegang itu dengan tatapan penuh harapan.
"Kamu harus bantu aku kali ini."
__ADS_1
Thea menyemprotkan parfum petai itu ke seluruh tubuhnya hingga habis satu botol. Ia merasa mual dan pusing mencium baunya yang wah luar biasa. Ia meyakini dirinya kalau ia akan berhasil.
Sambil menahan rasa pusing dan bau yang sangat menyengat. Thea berjalan sempoyongan menuju mobil Rayn yang sedang terparkir di parkiran. Beruntung sore menjelang malam waktu itu, tidak begitu banyak mahasiswa yang sedang berlalu lalang. Sehingga Thea tidak begitu malu ditatap dengan tatapan jijik oleh mereka.
Ada satu dua mahasiswa yang berpapasan dengan Thea. Mereka menutup hidungnya dan menatap Thea jijik. Thea tidak peduli karena hanya sedikit dari mereka yang berpapasan denganya, itupun ia tidak kenal dengan mereka.
Thea terus memastikan tidak berpapasan dengan Anna saat hendak masuk ke mobil Rayn. Saat sudah berada didalam mobilnya Rayn, Thea bernafas lega karena menghirup aroma parfum mobil Rayn yang sedikit menyelamatkan hidungnya.
Berbeda dengan Thea, Rayn yang awalnya senang mendadak jadi agak kecewa karena bau badan Thea berbau petai itu pun sangat menyengat. Tidak hanya itu, ia juga khawatir pada kondisi Thea yang seperti hendak pingsan.
"Sayang kamu nggak papa?"
Bukan pertanyaan itu yang Thea harapkan. Melainkan ucapan putus dari Rayn yang ingin ia dengar karena dirinya sudah tidak kuat lagi menahan bau petai yang mengelilingi indra penciumannya. Meski samar-samar ia mencium bau parfum mobil Rayn, namun tetap saja bau pertai lebih menyengat di hidungnya.
"Nggak papa kok" jawab Thea menahan mual dan pusingnya.
'Ishh.... kenapa Ray nggak protes soal bau petai sih?' ucap Thea dalam hati.
"Kamu tadi habis makan petai?" tanya Rayn yang sudah nggak kuat untuk memendamnya terus.
'Yess.... gitu dong dari tadi! Eh... tapi aku harus jawab gimana nih. Kalau aku jawab enggak tapi bau petai nya dari aku. Masa iya aku jawab aku pakai parfum petai. Kan sengaja banget kesannya. Amanda ngeselin banget sih masa cuma ngasih parfum doang. 'Protes Thea dalam hati.
"Sayang?" Rayn yang melihat Thea terdiam sangat lama menjadi bingung.
"Eh... i-iya" jawab Thea.
"Ba-banyak, karena aku lagi suka petai. Kamu ilfil sama aku?"
"E-enggak sayang. Aku khawatir karena kamu kayaknya nggak kuat sama baunya?"
Meski Rayn tidak suka baunya yang menyengat di seluruh mobilnya, tapi rasa khawatir melihat Thea yang hampir pingsan karena manahan baunya lebih penting saat ini.
"Siapa bilang. Aku suka kok sama bauu.... "
Detik berikutnya Thea tidak sadarkan diri.
"Sayang, Uhuk.... uhuk.... "
Rayn seketika langsung panik melihat Thea tidak sadarkan diri. Ia mencoba membangunkan Thea namun tidak berhasil. Dengan jarak yang dekat, Rayn mencium bau pakaian Thea yang berbau petai. Sepertinya ia harus mengganti pakaian Thea agar sang pacar tidak pingsan lagi nanti.
Rayn mengambil masker dari laci dashboard mobilnya untuk ia kenakan agar tidak ikut pingsan. Ia melajukan mobilnya menuju villanya untuk meminta bantuan.
Sesampainya di sebuah villa, Rayn menggendong Thea ala bridal style masuk kedalam villa. Rayn membaringkan Thea disalah satu kamar didalam villa itu. Lalu ia keluar untuk mencari bantuan pada pengurus villa.
Gerak-gerik yang Rayn lakukan telah diawasi seorang anak buahnya Dion yang sejak dikampus mengawasi keduanya. Anak buah Dion yang sudah lama menyamar jadi tukang kebun dan bersih-bersih di area villa keluarga Rayn bisa leluasa bergerak.
__ADS_1
"Nona Thea tidak sadarkan diri bos. Ia dibawa masuk ke dalam villa lalu si cowok terlihat keluar dari villa itu." Anak buah Dion melaporkan setiap apa yang ia lihat pada Dion.
"Ikuti mereka terus dan jangan sampai lengah. Nanti cek cctv dalam villa itu dan kirimkan padaku." Titah Dion pada anak buahnya di seberang telepon.
"Baik bos"
Tak lama kemudian, Rayn terlihat kembali masuk ke dalam villa bersama salah seorang pengurus villanya.
"Terimakasih sudah mau membantu Mbok Tin" ucap Rayn berterimakasih pada Mbok Tin.
Rayn lega karena bau petai di tubuh Thea tidak ada lagi karena sudah ia semprotkan parfum perempuan setelah Thea digantikan baju oleh Mbok Tin selaku pengurus villa keluarganya.
"Sama-sama Tuan Muda. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Mbok Tin pada Rayn.
"Emm.... tolong buatkan teh anget aja."
"Baik, saya buatkan dulu. Permisi! "
Rayn mengangguk mengiyakan. Ia mendekatkan minyak kayu putih dihidung Thea berharap sang pacar akan sadarkan diri.
"Sss.... aku dimana?" tanya Thea setelah tersadar dari pingsannya. Ia memegangi kepalanya yang masih agak pusing.
"Syukurlah kamu sudah sadar sayang. Kamu ada di villa aku." jawab Rayn sambil mengusap pipi Thea.
Thea mengamati ke sekitarnya. Ia memang berada di tempat asing. Namun yang lebih mengejutkan adalah pakaiannya yang ia kenakan berbeda.
Thea melotot ke arah Rayn lalu melompat dari tempat tidur itu untuk menjauhi Rayn sambil menangis.
"Sayang" Rayn mendekati Thea namun Thea menjauhinya terus.
"Kamu apa kan aku Ray?"
"Kamu tadi pingsan. Trus aku.... " Rayn mencoba menjelaskan namun Thea semakin menangis histeris.
"Ini tehnya Tuan Muda." ucap Mbok Tin yang masuk kedalam kamar itu sambil membawa teh yang dipesan Rayn.
Rayn masih belom merespon ucapan Mbok Tin karena ia harus menenangkan Thea yang terus menangis. Setelah Thea berhenti menangis, Rayn menjelaskan semuanya pada Thea. Thea jadi malu sendiri karena sudah berpikiran yang tidak-tidak.
Rayn juga menyuruh Mbok Tin menjelaskan yang sebenarnya pada Thea. Rasanya Thea ingin mengubur diri saja karena saking malunya. Dalam hati Ia mengutuk ide konyol Amanda karena sudah menjadi senjata makan tuan untuknya. Rayn bukannya membencinya tetapi malah semakin perhatian pada dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai Readers 👋👋👋...
...Selamat membaca ya! Jangan lupa like, coment, & Vote....
__ADS_1
...Terimakasih sudah mau mampir 🧡🧡🧡...