
"Coba lihat nak, ini ada titipan untukmu" ucap Pak Yuda pada Thea.
Pak Yuda masuk ke dalam kamar Thea yang sedang dirawat. Ia membawa buket bunga garbera berwarna pink dan putih. Keempat orang yang ada diruangan tersebut menatap pada buket bunga yang dibawanya.
"Dari siapa papa? " tanya Thea penasaran.
Tidak mungkin Amanda. Jangankan buket bunga, jajan yang ia bawa untuknya saat menjenguk dirinya yang sakit dulu saja malah dicemilin Amanda dengan santainya.
Thea juga tidak memberi tahu kalau dirinya sedang sakit. Dia juga tidak punya banyak teman, paling-paling yang dekat dengannya cuma Amanda, Erik, Anna dan Rayn.
"Dari Andra" jawab Pak Yuda.
Deg......
Thea melupakan satu orang yang baru saja ia kenal. Thea menerima buket bunga itu dan membaca tulisan di kartu ucapannya.
(Hai Thea
Kata papamu kamu sakit ya?
Semoga cepat sembuh, jangan lama-lama sakitnya.
Asli, rasanya nggak enak. Aku udah pernah ngerasain.
Mending di omelin emak-emak sih dari pada sakit. Kalau diomelin emak-emak ditinggal tidur bisa lupa, tapi kalau sakit tidur pun jadi nggak nyenyak.
Semoga kamu suka bunganya. Kalau suka bisa aku kirimin nanti sekebon. Maaf tidak bisa menemuimu langsung. Aku harus mengurus bisnis yang ada di London selama satu tahun. Jangan Rindu Thea itu berat kamu nggak akan kuat, biar aku saja.
Dari Andra Nicholas Oliver)
Thea speechless setelah membaca isi pesan itu. Thea pikir Andra orangnya berbobot kalau bicara, namun mengapa mendadak kata-katanya jadi kayak buaya darat cap cicak. Meski ia baru mengenalnya, namun ia bisa menilai kalau Andra bukan seperti yang ada di tulisan pesan itu. Seperti sangat jomplang sekali.
"Kok Andra bisa tahu pa? " tanya Bu Veronica pada suaminya.
"Tadi dia menelepon papa katanya tidak bisa hadir di pertemuan sore tadi yang sudah dijawalkan, karena ia ada di London untuk mengurus salah satu bisnisnya disana selama satu tahun. Untuk pertemuan sore tadi akan dihadiri oleh tangan kanannya. Papa pun juga tidak bisa hadir karena nggak tega meninggalkan Thea. Dan Andra mengirimkan bunga ini untuk Thea setelah tahu kalau Thea sakit " jawab Pak Yuda.
__ADS_1
"Wahh bisa aja nak Andra" ucapan bu Veronica membuat semua orang yang ada diruangan itu menatap Thea penuh arti sambil melempar senyum kearah Thea, kecuali Rayn.
Rayn membuang wajahnya karena api cemburu. Ia tidak bisa apa-apa saat ini. Lagi-lagi sosok Andra membuat dirinya tersaingi.
'Ck, siapa sih dia? Berada di London saja masih bisa merayu Thea, apalagi di negara ini.' ucap Rayn dalam hati.
"Andra romantis juga ya Thea orangnya" ucap Anna menggoda saudara kembarnya.
Thea tidak tahu harus menjawab bagaimana karena ia belum begitu mengenal Andra seperti apa. Ia tersenyum saja mendengar ucapan Anna. Yang ia tahu, cowok yang romantis padanya adalah Rayn.
Andai Anna tahu kalau Rayn memperlakukan dirinya dengan sangat romantis. Namun dibalik sikapnya yang romantis itu ada secuil luka di kedalaman hati Thea. Tidak sebesar perlakuan Rayn padanya, namun sakit saat melihat Rayn dan Anna bersama.
Jika di Indonesia malam hari, maka berbeda dengan London yang menunjukkan waktu siang hari. Andra terkejut membaca chat yang masuk dari Dion, dimana Dion mengirimkan sebuah foto buket bunga bertuliskan kata-kata yang membuatnya ingin muntah saja.
"Apa maksudmu malah mengirim Thea bunga dengan surat khas anak abg yang lagi mabuk cinta?" Andra langsung mengomeli Dion saat panggilan telepon itu diangkat oleh sang sahabat.
"Kenapa? gue rasa tidak ada yang salah disitu. Bunganya bagus mana wangi lagi. Kata-katanya juga bukan kata-kata vulgar. " jawab Dion dengan santainya.
"Bangsat lo Dion! Ganti kata-kata menjijikanmu itu. "
Ya, oknum dibalik bunga dan pesan tersebut adalah Dion. Andra tiba-tiba meneleponnya tadi untuk mengirimkan sesuatu pada Thea yang sedang sakit di rumah sakit. Cara Dion memberi sesuatu pada seorang gadis sangat berbeda dengan Andra.
Sella lah yang pertama merayu perasaannya hingga akhirnya Andra terbiasa dan nyaman dengannya. Namun seiring berjalannya waktu, Sella mendapat kenyamanan dari cowok lain yang tidak ia dapatkan dari Andra.
"Bunganya sudah dikirim" jawab Dion dengan polosnya.
"Oh ****!" umpat Andra.
"Lo kenapa sih? Perkara kartu ucapan aja uring-uringan nggak jelas. Dengerin gue ya bro, cewek itu bakalan seneng kalau kita sebagai cowok bisa ngasih perhatian apalagi ucapan yang manis-manis gitu. "
"Itu berlaku buat cewek-cewek lo yang lo gantung perasaannya. Gue aja baru kenal Thea. Iya, kalau Thea suka. Kalau enggak, gimana coba? Gue aja eneg membacanya."
"Pasti suka lah. Lo aja ganteng begitu masa enggak suka." jawab Dion.
"Idihh, lo kanapa sih? Lo normal nggak sih?" Andra merasa jijik saat Dion memuji dan menggodanya dengan kata-katanya meski hanya bercanda.
__ADS_1
"Kamprett lo Ndra! Gue masih normal ya! ***** gue juga lebih suka bunga telang ketimbang pisang." protes Dion pada Andra.
Andra tertawa mendengar Dion yang marah-marah di seberang telepon.
Setelah pulang dari rumah sakit. Rayn menuju ke club malam dimana ia selalu melampiaskan kekesalannya pada minuman-minuman itu. Setelah puas dengan minumannya, Rayn pulang ke rumah dengan sempoyongan.
"Ray kamu mabuk? " tanya Risa pada adiknya.
Rayn hanya terseyum saja menatap sang kakak dihadapannya.
"Astaga Ray. Kalau papa dan mama tahu kamu mabuk berat kayak gini mereka bisa marah besar" Risa membopong adiknya masuk kedalam kamarnya sebelum ketahuan papa dan mamanya.
Risa merebahkan tubuh Rayn diatas tempat tidurnya. Ia menutup hidungnya karena bau minuman yang Rayn konsumsi sangat menyengat. Risa melepas sepatu adiknya dan menyelimuti sang adik.
"Thea.... " rancau Rayn setengah sadar.
"Siapa itu Thea? bukannya pacarnya itu Anna?" ucap Risa saat menyelimuti adiknya.
"Awas lo Andraaa..... Berani lo rebut Thea dari gueeee..... Hahaha....... "
Risa hanya geleng-geleng kepala mendengar sang adik merancau tidak jelas. Ia tidak mengenal nama-nama yang disebutkan sang adik, namun ia penasaran mengapa sosok Thea tidak boleh direbut dari sisi Rayn.
Risa keluar dari kamar Ray dan menutup pintunya kembali. Ia berbalik arah dan terkejut mendapati sang mama ada di hadapannya.
"Ma-ma belum tidur? " tanya Risa gagap karena terkejut.
Bu ishana mengehela nafas kasar atas apa yang dia lihat barusan. Ia melihat sang putra yang mabuk berat dibopong oleh kakaknya agar segera masuk kedalam kamar supaya tidak ketahuan orang tuanya. Terutama suaminya yang keras dalam mendidik anak-anaknya. Suaminya bisa marah besar melihat Rayn pulang dengan keadaan mabuk-mabukan.
"Apa Ray mabuk lagi? " tanya Bu Ishana pada putrinya.
"I-iya ma" jawab Risa jujur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai Readers 👋👋👋...
__ADS_1
...Selamat membaca ya! Jangan lupa like, coment, & Vote....
...Terimakasih sudah mau mampir 🧡🧡🧡...