Mencintai Si Kembar

Mencintai Si Kembar
Jadilah istriku


__ADS_3

"Ikuti mereka terus dan jangan sampai lengah. Nanti cek cctv dalam villa itu dan kirimkan padaku." Titah Dion pada anak buahnya di seberang telepon.


Tatapan Dion tidak pernah lepas dari seseorang yang sedang membutuhkan bantuan di hadapannya.


"Sorry Ndra, urusan Thea gue serahkan dulu ke anak buah gue. Si eneng lagi butuh bantuan gue saat ini."


Dion keluar dari dalam mobilnya lalu berjalan menghampiri seseorang yang terakhir kali menolak ajakannya.


"Butuh bantuan Neng Risa?" tanya Dion tepat dibelakang Risa.


Risa yang fokus pada teleponnya tiba-tiba terkejut melihat kehadiran seseorang yang menyebalkan akhir-akhir ini.


"Segitunya lihatian abang, kenapa? Abang terlalu ganteng ya?"


Dion menyugar surainya ke belakang untuk menebarkan virus klepek-klepek pada cewek di hadapannya. Tak lupa memasang senyum semanis mungkin agar si cewek ngiler melihatnya.


Bukannya terpesona, justru Risa terheran-heran melihat Dion yang begitu percaya diri. Di matanya, Dion sama saja seperti laki-laki lainnya diluar sana kecuali papa dan adiknya. Andai Risa tahu kalau adiknya juga tidak seperti yang ia pikirkan.


Dion yang merasa diabaikan oleh Risa, tidak pantang menyerah. Ia yang sudah ahli dalam menaklukkan hati cewek, merasa tertantang dengan sikap dingin Risa diawal perkenalan.


"Apa sekarang tidak bisa?" Risa mencoba meminta bantuan pada pihak bengkel langganannya, namun sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.


Risa melirik-lirik pada Dion yang masih setia tersenyum padanya. Ia menghela nafas dengan kasar lalu mematikan panggilan teleponnya.


'Masa iya sih minta bantuan ke dia?' ucap Risa dalam hati.


"Mobilnya kenapa neng? Ngambek?" tanya Dion pada Risa.


"Sudah tahu masih nanya lagi" jawab Risa dengan nada ketus.


"Galak amat sih neng, nanti tambah cantik lho" Dion mencubit pipi kanan Risa dengan gemas.


Risa yang tidak terima disentuh-sentuh oleh Dion, langsung melayangkan cubitan di lengan kanan Dion.


Dion yang di cubit secara tiba-tiba tidak bisa menepisnya. Rasa sakit cubitannya mirip sekali dengan cubitan ibunya. Bukannya meringis kesakitan tapi dirinya mendadak jadi sedih.


"Eh eh kok nangis sih?" Risa bingung karena mendadak Dion terduduk di atas aspal dan matanya sudah berembun.


Dion tidak merespon pertanyaan Risa. Ia mendadak jadi rindu pada almarhum ibunya. Cubitan Risa mengingatkan akan sosok ibunya.


"Maaf sudah terlalu keras mencubitmu. Habisnya kamu sih main sentuh-sentuh pipi orang." Risa berjongkok memastikan sosok cowok dihadapannya baik-baik saja.


"Tidak masalah. Aku hanya rindu ibuku." jawab Dion.


"Ya sudah temui ibumu sana. Bukannya malah seperti ini dipinggir jalan."


"Kamu menyuruhku menyusul ibu ke surga?"


"Eh bukan begitu maksudku. Maaf aku nggak tahu." jawab Risa menunduk karena salah.

__ADS_1


Dion tersenyum melihat Risa, di matanya ia terlihat sangat imut. Dion sampai lupa tujuannya tadi untuk menolong Risa, ia pun tersadar dan langsung berdiri.


"Boleh aku cek ban mobilmu?" tanya Dion pada Risa yang masih terduduk.


Risa berdiri dan mengangguk mengiyakan. Ia juga bingung hendak meminta tolong pada siapa lagi. Sudah menelpon adiknya namun masih belum diangkat. Ia juga tidak mau mengganggu papanya yang sedang lembur.


"Sepertinya ban mobilmu perlu diganti. Bawa ban serep sama peralatannya nggak?"


"Bawa"


Dion melepaskan jasnya lalu mulai mengganti ban mobil Risa yang lecet parah dan terlalu beresiko jika dipaksa berjalan. Setelah itu menggantinya dengan ban serep.


Risa memperhatikan Dion yang tampak serius mengganti ban mobilnya. Sesaat yang lalu sosok cowok dimatanya sangatlah fasih menggombali dirinya. Namun saat Dion diam dan fokus mengganti ban mobilnya, membuat Risa tersenyum tipis tanpa diketahui oleh Dion.


'Padahal kalau diam begitu lebih berkharisma ketimbang penggombal ulung seperti sebelumnya.' ucap Risa dalam hati.


"Udah selesai nih"


"Thankyou"


Selesai mengganti ban mobil Risa, ia mengemasi peralatan dan ban mobil yang bermasalah tadi ke bagasi mobil Risa. Sementara Risa mengambil dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang bergambar tokoh bapak proklamator dan bapak koperasi Indonesia.


"Ini ada sedikit uang sebagai bentuk terim..... "


"Aku sudah punya banyak seperti itu"


Dion menolak uang pemberian Risa karena ia melakukannya murni ingin menolongnya bukan karena imbalan.


"Terus kamu mau apa? "


Dion tersenyum smrik mendengar pertanyaan Risa.


"Jadilah istriku! " jawab Dion.


Plakk....


Satu tamparan keras mendarat di lengan Dion sebelah kiri. Lengkap sudah rasa sakit di kedua lengan tangan Dion.


"Aduhh..... sakit neng. Jangan belajar KDRT dong cantik. Mending belajar jadi ibu yang baik buat anak-anak kita nanti. " Dion mengusap-usap lengannya yang terasa sakit dan panas.


"Rasain, siapa suruh jail banget. Dan jangan terlalu percaya diri ya!"


"Hehe, siapa tahu kan mau." Jawab Dion sambil cengengesan.


Drrrttt...... drrrttt.....


"Apa lagi sih Ben?"


Dion menjawab panggilan telepon tanpa melihat siapa yang meneleponnya. Ia terkejut dengan suara yang menjawabnya yang tak lain adalah Andra.

__ADS_1


"Lo nyerahin tugas dari gue pada anak buah lo? Hah?" tanya Andra dengan suara tegasnya.


"Iya iya Ndra. Gue ambil alih bentar lagi. Nangung nih lagi sama calon bini."


Risa melotot ke arah Dion dan hanya dibalas cengengesan olehnya.


"Awas aja kalau Thea kenapa-kenapa! Aku lempar lo ke laut Dion. Kalau perlu sekalian sama cewek-cewek lo itu."


Andra mematikan teleponnya setelah memarahi Dion. Sedangkan yang dimarahi masih terlihat santai seolah-olah ancaman Andra hanya candaan saja.


Risa yang bisa mendengar obrolan Dion dengan seseorang tadi menjadi teringat sosok nama yang ia dengar.


'Kenapa aku dengar nama itu dua kali. Apa Thea yang aku dengar barusan sama seperti yang pernah aku dengar dari Rayn?' ucap Risa dalam hati.


"Hey neng bengong aja? Sorry nih abang nggak bisa lama-lama. Nggak papa kan kalau neng pulang sendiri?"


Risa mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Dion yang aneh.


"Dari tadi kan aku emang naik mobil sendiri."


"Siapa tahu pengen abang anterin. Hehe"


Dion buru-buru memakai jasnya lagi lalu kembali ke dalam mobilnya. Begitu juga Risa yang sudah memakai seatbeltnya dan hendak menyalakan mesin mobilnya.


Tok.... tok.... tok....


Risa menurunkan kaca mobilnya dan menatap malas pada Dion yang masih mengembangkan senyum padanya.


"Kita belum kenalan neng. Masa udah berkali-kali bertemu bel..... "


"Clarissa Deolinda Roderick. Panggil aja Risa."


Dion mengulurkan tangannya dan dibalas uluran tangan oleh Risa.


"Dion Cavan Sebastian. Panggil aja abang Dion atau mas Dion atau Aa Dion atau akang Dion juga boleh."


Risa hanya bisa menghela nafas kasar dan geleng-geleng kepala.


'Hadehh..... nggak cuma penggombal ulung, ternyata cerewetnya nggak beda jauh kaya emak-emak komplek. Baru kali ini ketemu cowok kaya gini.' ucap Risa dalam hati.


"Kenapa neng? Abang kaya emak-emak komplek?" tanya Dion pada Risa.


Eh...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hai Readers 👋👋👋...


...Selamat membaca ya! Jangan lupa like, coment, & Vote....

__ADS_1


...Terimakasih sudah mau mampir 🧡🧡🧡...


__ADS_2