
"Apa Dion sudah bangun?" tanya Andra pada maid nya.
"Belum tuan" jawab maid tersebut sambil menyajikan makanan di meja makan.
"Tolong buatkan kopi dan taruh dimeja makan saja!Nanti aku akan kembali."
Andra beranjak dari tempat duduknya lalu menaiki tangga menuju kamar tamu. Saat hendak membuka pintu kamar tersebut, namun sang penghuni kamar sudah membukanya terlebih dahulu.
Andra pikir ia akan mendapati keadaan Dion yang masih kacau, namun diluar dugaanya. Dion sudah rapi dan siap untuk pergi ke Kantor.
"Lo mau kemana serapi ini?" tanya Andra pada Dion.
"Gue mau ke Kantor lo. Gue mau pamitan sama para karyawan tersayang"
Dion berjalan terlebih dahulu menuju meja makan dan langsung mengisi piringnya hingga membentuk gunungan. Sedangkan Andra hanya meminum kopinya sambil memperhatikan sahabatnya yang sedang lahap makan, seperti sebulan tidak makan.
Andra tidak menegur dan marah pada Dion untuk saat ini. Karena ia tahu sahabatnya sedang galau soal cewek.
"Aduh Ndra! Perut gue rasanya mau meledak"
Dion memegangi perutnya yang kekenyangan karena terlalu banyak makan. Ia rasanya seperti susah bergerak apalagi ke kantor.
"Siapa suruh lo makan?"
"Lah, lo kagak iklas sama anak yatim piatu ini?"
Dion memasang wajahnya memelas, sednagkan Andra menatap datar pada Dion.
"Emang gue bukan?"
Hehe....
Dion hanya cengengesan saja mendengar jawaban sengit dari sahabatnya. Ia dan Andra tidak hanya sahabat seperjuangan namun sudah seperti kakak adik karena mereka tidak punya keluarga lagi.
"Bentar Ndra, gue ke toilet dulu ya! Gue nebeng lo ke kantornya"
Andra hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang sudah berlari ke toilet. Ia melirik pada jam tangan yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lewat sepuluh menit.
Dalam perjalanan menuju ke kantor, Andra memberondong banyak pertanyaan pada Dion. Hingga akhirnya dia tahu, kalau sahabatnya naksir pada kakaknya Rayn.
"Gue mau berangkat sekarang aja deh, setelah dari kantor."
"Lo jaga diri baik-baik ya Ndra!"
"Gue bawa dua anak buah gue. Sisanya sama lo. Jangan lupa dikasih makan, minum, bonus juga karena mereka kerjanya selalu bagus"
"Sama kucing depan kantor lo juga jangan lupa, meski tidak jelas itu asal usulnya dan pendidikannya tapi tu kucing selalu jaga kantor lo sama bang Udin."
__ADS_1
Andra hanya mendengarkan saja karena Dion sedang butuh didengarkan saat ini.
"Nanti kalau Neng Risa nyariin gue, bilang aja gue ke London." sambungnya.
"Ngapain dia nyariin lo?" tanya Andra heran karena Dion bilang kalau Risa bahkan tidak mau menatapnya sama sekali.
"Ada deh" jawab Dion cengengesan.
Andra tak lagi menanyakan lebih lanjut pada Dion karena ia sudah sampai di kantornya.
Andra bergegas masuk kedalam ruang kerjanya meninggalkan Dion yang tebar pesona di lantai bawah. Padahal katanya mau berpamitan. Iya, pamitannya pada karyawati!
"Selamat pagi pak" sapa Yuki pada Andra.
"Pagi" jawab Dion.
"Apa ada jadwal kunjungan ke proyek X?" tanya Andra pada Yuki.
"Ada pak, nanti setelah meeting jam dua siang" jawab Yuki.
"Ubah jadwalnya Yuki. Ganti besok saja! " ucap Andra.
"Tapi pak.... "
"Saya sedang tidak bisa hari ini! "
'Ada apa dengan pak Andra? tidak biasanya dia menolak agenda yang sudah dijadwalkan! ' ucap Yuki dalam hati.
Setelah selesai berpamitan dikantor sahabatnya. Dion pun berangkat ke London hari itu juga bersama kedua anak buahnya. Meski berat karena tidak ingin meninggalkan Risa, namun rasa kecewanya semalam mengantarkan dirinya untuk pergi jauh dari gadis itu.
Di tempat lain, tepatnya dikediaman keluarga Roderick. Risa sudah siap dengan kopernya yang baru saja dimasukkan ke bagasi mobil.
"Kamu hati-hati disana nak! Jaga diri baik-baik! Tadi adikmu Ray ingin mengantarmu ya tapi katanya kamu larang takut telat masuk kuliah?" ucap bu Ishana pada putrinya.
"Iya ma. Tapi Risa sudah pamitan kok tadi pagi sama Ray." jawab Risa.
"Yasudah kalau begitu. Risa berangkat dulu ya ma! "
Risa berpelukan dengan mamanya sambil menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia bertekat untuk segera menyelesaikan kuliah S2 nya secepat mungkin agar bisa berkumpul lagi dengan keluarganya. Ia segera masuk ke mobil bersama sang papa yang sudah menunggunya.
Awalnya Risa ingin menghabiskan libur kuliah bersama Kevin, namun sang keadaan tidak sesuai ekspektasinya. Ah, Risa jadi teringat insiden putus asanya waktu itu. Jika Dion tidak menyelamatkan dirinya, maka sudah jelas ia tidak akan kembali ke London untuk menyelesaikan kuliahnya.
Ada rasa sesal pada dirinya karena bersikap tidak baik pada Dion. Namun Risa murni sedang tidak ingin membuka hati untuk laki-laki manapun. Sakit hatinya masih belum kering, dan ia tidak ingin menambah rasa sakitnya lagi.
"Nak?"
"I-iya pa?"
__ADS_1
Risa tersadar dari lamunannya selama perjalanan didalam mobil.
"Kenapa melamun?" tanya pak Edwin pada putrinya.
"Tidak ada apa-apa kok pa" jawab Risa
"Harusnya liburanmu kali ini bahagia bersama Kevin seperti biasanya. Jangan merasa putus asa hanya perkara dirinya. Banyak yang sayang sama kamu, siapa tahu Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu."
Risa jadi terharu mendengar perkataan papanya. Papa benar ia tidak bisa terus menerus meratapi Kevin hingga berakhir seperti insiden di jembatan waktu itu. Ada keluarga yang sayang dan khawatir padanya. Risa harus memikirkan perasaan keluarganya juga.
"Risa mengerti pa"
Risa menghambur ke pelukan papanya. Dari kaca mobil sang sopir bisa melihat kalau suasana di kursi penumpang terlihat sedih campur haru.
"Jaga diri baik-baik ya!" Ucap Pak Edwin pada putrinya setelah sampai di bandara
"Siap papa"
Risa meninggalkan papanya yang masih setia menatap kepergiannya.
"Man kita ke kantor sekarang" ucap Pak Edwin pada sopirnya.
"Baik Pak"
Pagi berganti siang hingga menjelang sore, waktu menunjukkan pukul tiga lebih tujuh menit. Di meja kerja yang berisi tumpukan berkas-berkas penting, Andra berusaha untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Thea meski kemungkinannya sangat kecil karena tidak ada janji temu diantara mereka.
"Huhhh...... akhirnya"
"Yuki saya pulang dulu!"
"Iya pak" jawab Yuki dengan nada lemas seperti belum makan dari kemarin.
Andra beranjak dari tempat duduknya, lalu meninggalkan ruang kerjanya dan melewati Yuki yang asik melamun.
Setelah Andra keluar dari ruang kerjanya, baru Yuki mulai bertingkah untuk mengekspresikan perasaannya.
"Pak Andra jahat banget sihhhh. Masa nyuruh yayang Dion ke London Huaaa..... hiks... hikss.... awas aja ya bos kampret. Aduhh.... duh.... "
Yuki meringis kesakitan karena kakinya menendang meja bosnya dengan keras. Ia langsung menyesali perbuatannya dan meminta maaf pada Andra seolah-olah Andra masih berada disana dan mendengar permintaan maafnya.
Karma dibayar instan, lain kali jangan begitu ya Yuki. Hihihi....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai Readers. ...
Terimakasih sudah mau membaca karya novel ku ini Ya. Aku senang ada yang mau membacanya hingga saat ini. Maaf jika ceritanya kurang menarik karena aku baru belajar membuat novel. Aku akan terus update menuntaskan cerita ini hingga selesai. Sekali lagi terimakasih sudah mau mampir 🤗🧡🧡
__ADS_1