Mencintai Si Kembar

Mencintai Si Kembar
Air mata sedih dan bahagia


__ADS_3

Tok..... tok...... tok......


"Boleh kakak masuk, Ray?" tanya Risa yang masih berdiri diambang pintu yang sedari tadi setengah terbuka.


Rayn sedang rebahan ditempat tidur dengan tangan kanan sebagai bantal, sedangkan lengan tangan kirinya menutupi kedua matanya.


Mendengar sang kakak ingin masuk ke kamarnya, Rayn menyingkirkan tangan kirinya dan membuka kedua matanya. Ia membenarkan posisinya untuk duduk bersila.


"Masuk aja kak" jawab Rayn.


Risa berjalan mendekati sang adik yang terduduk diatas tempat tidurnya. Ia duduk disebelah Rayn yang sangat jelas tidak ada tergambar raut wajah bahagia sepulang dari rumah keluarga Anna.


"Seperti wajah-wajah akhir bulan. Kamu nggak bahagia dengan keputusanmu tadi?" tanya Risa pada adiknya.


"Bahagia kok kak" jawab Rayn cepat.


"Jangan bohong Ray! Aku sangat mengenalmu dari kecil meski kita berpisah beberapa tahun belakangan ini."


Rayn menyesal tidak mengunci pintu kamarnya setelah pulang dari rumah Anna. Ia jadi diintrograsi oleh kakaknya sendiri. Padahal bukanya tidak bahagia, namun dirinya sedang kepikiran soal Thea yang belum menjawab telepon dan chatnya.


Rayn bahagia dengan Anna. Namun disisi lain Rayn juga sedih tentang hubungannya dengan Thea. Rasanya masih berat untuk melepas Thea yang ia sayangi dari dulu.


"Kamu ada perasaan dengan Anthea?"


Pertanyaan Risa mampu membuat Rayn terkejut bukan main. Ia bertanya-tanya dalam hati bagaimana kakaknya bisa mengetahuinya.


"Ray?"


"I-iya kak, apa tadi?" jawab Rayn gugup.


"Kamu ada perasaan dengan Anthea?" tanya Risa untuk yang kedua kalinya.


"Enggak kok. Kak Risa ini ada-ada aja pertanyaannya." Rayn mencoba untuk biasa saja namun Risa sudah menemukan jawabannya saat Rayn terkejut dan melamun tadi.


Risa menghembuskan nafas kasar lalu mencoba untuk membicarakan masalah sang adik dengan baik-baik.


"Kakak tahu kamu berbohong Ray. Kakak bisa lihat secara jelas saat kamu dan Thea saling memandang penuh arti di meja makan tadi. Kakak juga ingat saat kamu mabuk waktu itu dan merancau soal Thea."


Deg.....


Rayn sudah kalah telak dan tidak bisa berbohong lagi. Ia hanya bisa menunduk pasrah dihakimi oleh sang kakak.


"Ray, lihat kakak! "


Rayn mendongak dan memberanikan diri untuk menatap sang kakak.

__ADS_1


"Kamu cintanya sama Anna atau sama Thea?" tanya Risa pada adiknya.


Mulut Rayn rasanya keluh untuk menjawab pertanyaan itu. Bukan karena ia tidak mencintai salah satunya, namun Rayn mencintai keduanya.


"Kalau kamu cintanya sama Thea. Kenapa kamu menjalin hubungan dengan Anna selama tiga tahun? bahkan kamu menyetujui pertunangan dengannya hari minggu ini. Lepaskan Anna jika kamu tidak ada perasaan dengannya Ray. Kamu menyakiti Anna jika seperti ini caranya."


"Aku cinta sama Anna kak. Tapi.....tapi aku juga cinta sama Thea." jawab Rayn


Dugaan Risa salah soal Rayn yang hanya mempermainkan Anna dan mencintai Thea. Fakta yang ia dengar sangatlah membuat siapapun bisa syok dan pingsan saat itu juga. Bagaimana bisa Rayn mencintai keduanya, itulah yang ada dalam pikiran Risa.


"Kamu tidak bisa mencintai keduanya Ray. Bukannya kebahagiaan yang mereka terima, namun rasa sakitlah yang mereka terima. Apa Anna mengetahuinya?"


Rayn menggeleng sebagai jawaban tidak. Mana berani dirinya jujur pada Anna.


"Sebelum Anna mengetahuinya, alangkah baiknya kamu memutuskan hubunganmu dengan Thea jika ingin bersama Anna. Bukan hanya hubunganmu dengan Anna saja yang bisa hancur jika Anna mengetahuinya. Namun kamu bisa menghancurkan hubungan kedua keluarga, bisnis papa, bahkan hubungan sesama saudara."


Nasehat yang sama seperti yang Erik ucapkan waktu itu. Rayn merasa jika dirinya egois telah mempertahankan Thea padahal Thea sendiri sudah tidak ingin menjalin hubungan dengannya. Ia juga tidak berfikir soal resiko yang sebesar itu. Benar kata orang kalau cinta itu membutakan.


Rayn mengacak-acak rambutnya hingga kusut. Mau tidak mau ia memang harus menerima permintaan putus dari Thea untuk kebaikan dirinya dan semua orang. Rayn akan belajar move on nanti. Ia akan berguru dengan ahlinya yaitu Erik.


"Ray, mengerti kak" jawab Rayn.


Di tempat lain, Anna sedang berbunga-bunga hingga tidak bisa tidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia menelepon sahabatnya, Rini untuk berbagi cerita.


"Aku turut senang mendengarnya Na. Kalau perlu pernikahanmu barengan aja sama aku trus punya anak juga bareng, hehehe" jawab Rini dari seberang telepon.


"Iya deh, yang penting kalian bahagia. Eh, kok nangis sih? "


"Aku menangis karena saking bahagianya Rin" jawab Anna.


"Jadi ingin ikutan nangis juga, sekali lagi selamat Anna"


Disebelah kamar Anna, ada seorang gadis yang mencoba menenangkan dirinya yang sedang menangis didalam kamar.


"Cengeng banget sih kamu Thea! Bukannya kamu ingin putus dari Ray, harusnya kamu senang bukannya sedih." ucap Thea sambil menyeka air matanya.


Ia tahu Rayn mencoba menghubungi dirinya dan mengirimkan banyak chat padanya. Namun ia masih ingin menenangkan dirinya dulu agar tidak kentara meratapi nasib cintanya yang miris.


Sepuluh pesan masuk dari Rayn belum Thea jawab, dan sekarang ia mendapat pesan baru yang masuk dari Rayn lagi. Thea mencoba untuk melihat chat yang masuk dari Rayn. Ia tidak ingin terus-terusan meratapi diri terus menerus hingga matanya bengkak. Sangat tidak lucu jika besok pagi ia jadi leluconnya Amanda.


Rayn


(Apa kamu sudah tidur, Thea?)


Dari sekian chat Rayn sebelumnya yang selalu memanggilnya dengan sebutan sayang. Kali ini Thea mendapat panggilan yang tidak aneh sebenarnya namun membuat Thea merasakan keanehan pada diri Rayn.

__ADS_1


Thea


(Belum)


Mendapat balasan dari Thea, Rayn langsung menelponnya saat itu juga. Beruntung kakaknya sudah keluar dari kamarnya setengah jam yang lalu.


Thea terkejut saat ada panggilan telepon masuk dari Rayn. Ia bingung ingin menjawab atau tidak karena ia masih sesenggukan bahkan suara ingusnya masih sangat jelas.


Thea mengambil tisu yang berada di laci meja belajarnya. Tisu yang sama dimana ia beli sesaat sebelum kejadian bertemu dengan Andra untuk pertama kalinya. Ia jarang menggunakannya sehingga masih tersisa banyak, sangat sayang sekali kalau dibuang begitu saja.


Thea mengelap air matanya dan juga ingusnya sebelum menjawab panggilan telepon dari Rayn. Setelah selesai, ia bergegas hendak menjawab telepon dari Rayn sebelum ancaman darinya mengultimatum lagi.


Namun saat ia hendak menjawab teleponya, ternyata sudah terputus. Sesaat kemudian Rayn mengirimkan pesan pada Thea.


Rayn


(Aku ingin bicara serius Thea)


Thea membacanya dan Rayn langsung menelponnya lagi.


"Ada apa?" tanya Thea tanpa basa-basi.


"Maaf kan aku. Aku telah menyakiti perasaanmu. Aku mengaku salah."


Thea mengartikannya tentang kejadian di meja makan tadi. Sedangkan Rayn bermaksud meminta maaf soal apa yang selama ini ia perbuatan pada Thea.


"Kamu benar ingin putus dari aku Thea?" tanya Rayn pada Thea.


"Iya" jawab Thea dengan penuh keyakinan.


"Boleh aku tahu, apa sampai detik masih ada cinta untuk ku?"


Wajah Thea menengadah ke atas, air matanya jatuh berduyun-duyun. Senang rasanya bisa mencintai dan dicintai tapi situasi mengklaim cintanya adalah salah.


"Sudah tidak ada" jawab Thea.


Rayn tersenyum mengejek dirinya, tanpa Thea tahu dirinya pun juga patah bersama air mata yang jatuh setelah mendengar jawaban Thea. Sudah tidak ada harapan lagi tentang cintanya yang baru tumbuh. Ada rasa sesal didiri Rayn akan kecerobohannya dulu dalam memilih pasangan. Namun sekarang adalah saatnya menerima takdir.


"Aku tidak akan memaksakan dirimu untuk mencintaiku lagi. Mungkin benar apa katamu jika putus adalah jalan yang tepat untuk kita." ucap Rayn.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hai Readers 👋👋👋...


...Selamat membaca ya! Jangan lupa like, coment, & Vote....

__ADS_1


...Terimakasih sudah mau mampir 🧡🧡🧡...


__ADS_2