Mencintai Si Kembar

Mencintai Si Kembar
Peringatan


__ADS_3

Setelah acara pertunangan selesai dua jam yang lalu. Kini suasana rumah kembali seperti semula. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam lewat, namun kedua anak kembar bukannya tidur malah asik mengobrol.


Topik obrolan yang awalnya curhatan Anna mengenai perasaannya saat acara tadi, dan Thea sebagai pendengar. Berbelok mampir tentang si pendengar yang nyaman dengan cemilannya tanpa khawatir badan melebar.


"Aku rasa ya Te, Andra beneran naksir kamu deh! " ucap Anna setengah berbisik.


Kesunyian malam itu membuat obrolan mereka yang hanya berbisik-bisik bisa terdengar satu sama lain. Hanya ada suara berisiknya Thea yang sedang mengunyah keripik ketela nya.


Thea menoleh ke arah sahabatnya yang dengan santainya mengatakan itu sambil menatap pantulan bulan di kolam renang. Yang dikatakan oleh saudara kembarnya ada benarnya, karena dirinya pun juga merasakan demikian.


"Trus perasaan kamu gimana Te?"


Anna menatap Thea yang masih berfikir sambil mengunyah keripik ketela nya. Ia menunggu jawaban dari Thea, namun yang ia dengar membuat bahunya merosot seketika.


"Emm.... Biasa aja"


Bohong! Sangat bohong kalau perasaan Thea hanya biasa aja.


Thea tidak bisa mengontrol debaran jantungnya. Tatapan, tutur kata, bahkan sikap Andra mampu membuat dirinya meleleh seperti lilin. Namun Thea hendak membangun tembok setinggi langit mulai sekarang. Ia tidak mau merasakan sakit hati untuk yang kesekian. Dirinya akan fokus pada kuliah dan karirnya kedepannya.


"Serius biasa aja? Dia itu ganteng lo Te! Wajahnya blesteran gitu, kayaknya dia punya darah bule dari salah satu orang tuanya! "


"Terus kalau punya darah bule kenapa?" tanya Thea bingung.


Anna menepuk jidatnya mendengar pertanyaan polos yang keluar dari mulut saudara kembarnya.


"Tidak sedikit wanita Indonesia itu mempunyai kriteria pasangan atau suami itu seorang bule atau punya darah bule Te! Karena apa? Karena menurut mereka pria berdarah bule itu bisa memperbaiki keturunan, dan mau menerima kita apa adanya tanpa memandang fisik cantik enggaknya. Berbeda dengan cowok lokal yang memprioritaskan kecantikan pasangannya. Itu menurut beberapa dari mereka ya!"


Thea hanya manggut-manggut sambil menjawab oh yang panjang. Dirinya speechless pada saudara kembarnya yang selalu selangkah didepannya dalam hal wawasan. Thea merasa minder lagi jadinya!


"Emm.... tidak hanya itu. Cowok bule katanya lebih setia gitu ketimbang cowok lokal. Tapi aku nggak percaya sih kalau yang itu!"


"Kenapa?" Tanya Thea penasaran.


"Nggak semua cowok lokal itu tukang selingkuh sih menurutku. Karena selama ini Ray tidak pernah selingkuh dariku"


Uhuk.... uhuk.....


Ah, andai Anna tahu kalau apa yang ia ucapkan tidak seperti kenyataannya. Thea hanya bisa mendoakan untuk kelanggengan hubungan saudara kembarnya dengan tunangannya saja.

__ADS_1


"Kenapa Te?" tanya Anna khawatir.


"Kesedak bumbu balado"


Thea memang tersedak bumbu balado karena mendengar ucapan Anna.


"Hmm..... makanya kalau makan pelan-pelan. Masa cepet banget habisin tiga bungkus keripik ketelanya? Perasaan baru buka satu bungkus tadi! "


Thea hanya nyengir kuda saja mendengar omelan Anna. Thea bahkan juga bingung dengan dirinya sendiri yang tidak ada anggun-anggunnya sebagai putri pengusaha ternama.


Berbeda dengan Anna yang anggun dan menjaga tubuhnya agar tetap ideal sampai membatasi makanannya. Thea pernah menanyakan hal itu pada saudara kembarnya, padahal sang papa dan mama tidak melarang begini begitu tentang penampilan anak-anaknya.


Anna tidak ingin terlihat jelek dimata para karyawannya nanti. Karena itu dirinya menjaga sikap dan penampilannya setiap saat. Ya, penerus perusahaan sang papa adalah dirinya dan juga Thea.


"Kamu udah lama banget ngejomblo Te! nggak ingin coba dengan Andra? Ingat! papa merestui lho."


Thea memutar bola matanya sebal jika mengingat polah tingkah papanya tadi. Papanya sok sok an mendekatkan dirinya dengan Andra meski secara tidak langsung. Padahal dulu dirinya berkoar-koar untuk tidak menjodoh-jodohkan anak-anaknya. Namun kemana prinsip sang papa yang itu? Apa karena dirinya lama menjomblo jadi papanya tidak tega melihat salah satu putrinya tidak bahagia? Atau karena bisnis?


Ah, anak lucnut! buang jauh-jauh tiga kata terakhir mu itu Thea! Sangat tidak mungkin!


"Enggah deh Na, lagi mau fokus kuliah aja karena bentar lagi lulus! "


Ditempat lain tepatnya di sebuah club malam yang tak pernah sepi. Andra sedang menemani sang sahabat yang tengah tidak baik-baik saja perasaannya. Ia hanya bisa mengehela nafas kasar melihat sahabatnya hampir menghabiskan setengah botol minuman beralkohol dihadapannya.


"Lo mau mati konyol atau bagaimana?"


Andra menyingkirkan botol minuman itu karena sangat berbahaya bagi sahabatnya jika terlalu banyak meminumnya.


"Biarin gue meminumnya Ndra. Gu-gue udah nggak semangat hidup lagi Hiks.... hiks... "


Andra menatap sahabatnya dengan penuh prihatin dan lucu. Hanya gara-gara melihat sang gebetan memilih ngobrol dengan cowok lain dari pada dengan dirinya, Dion sudah sekacau ini. Apalagi kalau di tinggal nikah.


"Sebelum janur kuning melengkung, masih banyak kesempatan" ucap Andra pada sahabatnya yang mau berhenti menangis.


"I-itu ssss...sih kata-kata g-gue" jawab Dion mulai kehilangan kesadarannya.


Andra merasa bukan saat yang tepat untuk membahas hal itu dengan Dion sekarang, karena kondisi sang sahabat sedang butuh istirahat. Ia memanggil anak buahnya untuk membawa Dion pulang ke rumahnya agar lebih mudah mengontrol kondisi sahabatnya.


Andra tersenyum smrik melihat seseorang yang ia kenali berada ditempat yang sama. Ia bisa menebak dari raut wajahnya sama kacaunya seperti Dion tadi.

__ADS_1


Ia berdiri dari tempatnya duduk lalu menghampiri orang yang ia kenal itu. Tanpa dipersilahkan terlebih dahulu, Andra duduk dihadapan orang itu yang menatap sebal ke arahnya.


"Apa pesta pertunanganmu masih berlanjut? Ah, beruntung gue belum ganti baju. Masih bisalah bergabung! "


Andra menatap ramah pada sosok dihadapannya yang tak lain adalah Rayn. Atmosfer disekitar mereka mulai memanas meski tidak ada yang bertindak satu sama lain.


"Ck, baru kali ini gue kenal orang sejelek lo."


Andra tersenyum mendengar ucapan Rayn barusan. Sebuah ucapan salam perkenalan yang hangat menurutnya. Ia rasa sesi obrolannya dengan Rayn akan lama, karena itu ia memesan minuman.


"Bukannya lo harusnya di London? Ngapain balik ke Indonesia?"


"Karena Thea" jawaban singkat yang tak membuat Rayn terkejut.


Minuman pesanan Andra sudah tiba, ia meminumnya sambil melirik kearah Rayn yang menatapnya selidik.


"Sejak kapan lo suka sama Thea?"


"Mungkin sejak masih jadi pacarmu. Ah, ralat. Pacar keduamu!"


Deg.....


'Apa Thea memberitahunya? Ah, tidak mungkin. Lalu darimana dia tahu?' ucap Rayn dalam hati.


"Bagaimana kira-kira reaksi Anna jika dia tahu kelakuan terpuji cowok yang dicintainya? Aku rasa dia akan sangat bangga padamu"


"Jangan berani macam-macam! "


Rayn geram pada Andra yang malah cengengesan setelah mendengar peringatan darinya.


"Kalau satu macam, bolehlah!" jawab Andra sambil menaik turunkan alisnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hai Readers 👋👋👋...


...Selamat membaca ya! Jangan lupa like, coment, & Vote....


...Terimakasih sudah mau mampir 🧡🧡🧡...

__ADS_1


__ADS_2