
Mobil Andra tiba di kediaman Mahendra. Thea baru mau membuka suara setelah pujian yang Andra lontarkan tadi.
"Makasih Ndra."
"Sama-sama."
Thea keluar dari mobil Andra bersamaan dengan mobil Rayn yang juga baru tiba.
"Darimana Thea?" sapa Anna pada Thea.
"Coffeeshop" jawab Thea.
Mobil Andra pergi meninggalkan halaman rumah Thea begitu juga dengan Rayn. Andra menyadari kalau mobil Rayn mengikutinya, ia ingin tahu apa yang akan Rayn lakukan.
Drrtt....
Drrtt....
Sebuah panggilan telepon masuk dari Rayn. Andra memasang headset bluetooth di telinganya lalu mengangkat telepon itu.
"Ikuti mobil gue! Ada urusan yang harus kita selesaikan sekarang juga." ucap Rayn tanpa basa basi.
"Kita punya urusan apa?" tanya Andra pura-pura polos.
"Kalau lo jantan, lo ikutin mobil gue." Rayn langsung mematikan panggilan telepon sepihak tanpa menunggu jawaban dari Andra.
Rayn langsung menyalip mobil Andra. Andra yang penasaran pun mengikuti kemana mobil Rayn melaju.
Mobil Rayn terlihat berhenti di depan sebuah gedung kosong yang tak berpenghuni. Andra mengamati tempat itu dengan penuh tanda tanya. Ia turun dari mobil lalu menghampiri Rayn yang sudah keluar mobil sambil menatapnya sinis.
"Apa kita akan berburu tuyul disini?" tanya Andra sambil menatap gedung kosong didepannya.
"Ck, tamak sekali. Sudah kaya masih mau coba lewat jalur sesat" gerutu Rayn yang langsung disambut tawa cekikikannya Andra.
"Ikuti gue! " ucap Rayn yang langsung diikuti Andra tanpa banyak tanya lagi, karena sudah jelas dari wayah Rayn yang tak mau bersahabat dengan Andra.
Tap....
Tap....
Tap....
Suara sepatu mereka terdengar jelas saat menaikan anak tangga menuju lantai atas. Andra pikir didalam gedung itu bakal terlihat menyeramkan tapi ternyata ia salah. Meski dari luar tampak menyeramkan tapi dari dalam terlihat bersih tidak ada debu.
Mereka sampai di sebuah ruangan dimana terdapat ring tinju dengan pencahayaan yang sedikit redup. Andra sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini.
__ADS_1
"Lo sudah paham apa yang gue maksud kan?" ucap Rayn sambil melemparkan sepasang sarung tinju pada Andra.
Andra menangkapnya dan tersenyum tipis melihat Rayn sudah siap untuk mengeksekusinya. Ia melepaskan kemeja dan sepatunya sama seperti Rayn, lalu memasang sarung tinju ke kedua tanganya.
Bugh.....
Pukulan pertama diambil oleh Rayn pada pipi kiri Andra hingga darah segar keluar dari bibirnya. Andra merasakan pukulan yang keras hingga merasakan perih dibibirnya.
"Hah.... setelah sekian lama gue puas bisa nonjok muka lo yang sombong itu." ucap Rayn sambil tersenyum smrik.
Sett.....
Andra bisa menghindari pukulan Rayn kali ini. Ia bisa melihat raut wajah Rayn yang kesal karena gagal melayangkan pukulan yang kedua.
Bugh...
"Sss.... " Rayn mendesis karena Andra berhasil memberikan pukulan yang sama seperti yang Rayn berikan tadi.
"Itu untuk ego lo yang terobsesi pada saudara kembar itu dan berakhir menyakiti salah satunya." ucap Andra dengan puas.
Set...
Bugh...
"Ck, lo sudah lama memata-matai gue rupanya." ucap Rayn setelah memberi pukulan di pipi kanan Andra.
Andra mengulurkan tangannya dan disambut Rayn, meski perasaannya masih kesal. Setelah itu Andra bersiap-siap memakai kembali baju dan sepatunya.
"Apa urusan kita sudah selesai?" tanya Andra pada Rayn.
Rayn hanya diam saja, niat hati ingin memberi pelajaran pada Andra. Malah dirinya yang lemas karena pukulan dari Andra.
Tap...
Tap...
Rayn merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini dimana wajah Andra terlalu dekat didepan wajahnya. Jika ada orang lain yang melihatnya sudah pasti orang itu akan salah paham.
"Ngapain sih lo?" protes Rayn yang hendak menjauh namun Andra menghentikannya.
"Ssstt.... Calm down boy!" ucap Andra sambil meletakkan jari telunjuknya dibibir Rayn.
"Gue tau lo masih belum bisa move on dari Thea. Tapi mencintai keduanya sangat tidak ramah bintang. Anggap Anna memberimu kesempatan terakhir dan jangan sia-siakan dia." ucap Andra.
"Tidak perlu khawatir dengan Thea. Gue akan selalu ada untuknya dan membahagiakan dia." sambung Andra.
__ADS_1
Andra menunggu beberapa saat tapi Rayn tidak memberi jawaban sama sekali. Ia lalu memutuskan untuk pergi dari sana meninggalkan Rayn seorang diri.
"Aaaarrrrgggg..... " Teriak Rayn frustasi.
Rayn lalu bergegas mengenakan kembali pakaiannya dan juga sepatunya. Ia membawa mobilnya kesuatu tempat dimana ia mencurahkan segala perasaannya.
"Buatkan minuman satu" ucap Rayn pada barista di club malam itu.
Namun kenyataannya Rayn tidak cukup dengan sedikit minuman malam itu. Ia berkali-kali minum hingga mabuk berat. Bayang-bayang tentang Thea dan Andra selalu mengusik pikirannya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Thea.
Tut...
Tut...
Panggilan telepon dari Rayn tidak terjawab, namun Rayn terus mencoba untuk menelepon Thea berkali-kali namun hasilnya tetap sama.
Sedangkan ditempat lain, hp Thea terus berbunyi karena panggilan telepon dari Rayn. Thea yang sedang berada dikamar mandi tidak mengetahui hal itu. Hingga akhirnya Anna yang berniat mengembalikan laptop Thea, tanpa sengaja melihat hp Thea terus berbunyi.
"Rayn?" gumam Anna.
Anna sebenarnya ragu-ragu ingin mengangkat telepon itu karena sudah sangat jelas jika ia memasuki privasi Thea. Tapi Anna benar-benar penasaran hingga akhirnya ia mengangkat telepon itu.
"Akhirnya kamu mengangkat telepon dariku Thea" Anna bisa mendengar suara Rayn yang sedang mabuk.
"Aku sangat merindukanmu sayang." ucap Rayn masih dengan suara seperti melantur.
Deg...
Jantung Anna seperti hendak melompat dari tempatnya. Kata sayang yang Rayn ucapkan membuatnya menangis saat itu juga. Bagaimana bisa Rayn mengucapkan kata sayang itu pada saudaranya sendiri?
"Secepat itukah kamu melupakan cinta kita? Apa kamu akan menerima Andra? Jangan terlalu percaya padanya sayang, sepertinya dia punya maksud lain dibalik perhatiannya padamu itu. Dia sudah lama tahu tentang hubungan kita. Kamu tidak memberitahunya kan?" ucap Rayn lagi.
'Cinta? hubungan?' ucap Anna dalam hati.
"Sayang? Apa kamu tidak merindukan aku? Aku selalu merindukan kamu di setiap saat bahkan hingga detik ini. Aku tahu hubungan kita sudah berakhir, tapi cintaku padamu masih tetap sama sayang." ucap Rayn
Tes....
Air mata Anna sudah jatuh ke lantai sebagai bentuk ungkapan perasaannya saat ini. Ia tidak menyangka tentang apa yang baru saja ia dengar. Bahkan suara telepon dari Rayn yang memanggil-manggil tidak ia jawab sama sekali.
Rayn yang merasa tidak memperoleh jawaban apapun dari Thea memutuskan untuk mengakhiri panggilan telepon itu. Ia tahu Thea tidak akan mau lagi merespon apapun tentangnya, bisa mengatakan perasaannya saat ini sudah membuatnya senang.
Ceklek....
Thea terkejut melihat Anna berada dikamarnya, ia melihat laptopnya tergeletak di meja belajarnya. Thea menebak kalau Anna mengembalikan laptopnya yang dipinjam, padahal sudah ia katakan kalau tidak apa mengembalikannya besok saja. Namun Anna tidak enak jika tidak segera mengembalikannya.
__ADS_1
"Maaf Anna tadi aku di.... kamu kenapa?" Thea terkejut melihat Anna menangis sesenggukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...