
Keesokan harinya.....
"Istirahat dulu nak! " ucap Pak Yudha pada Thea yang sedang lari pagi bersama di sekitar rumah.
"Ini Pa, minum dulu! " Thea menyerahkan botol minum pada papanya yang sedang duduk ditepi jalan.
"Terimakasih" jawabannya lalu meneguk minuman yang diberikan oleh Thea.
"Emm... Pa. Thea mau ngomong sama papa!" ucap Thea yang sudah duduk disebelah papanya.
"Mau ngomong apa sayang?" tanya Pak Yudha sambil menyeka keringat didahulukan dan lehernya dengan handuk kecil yang ia bawa.
"Andra dan Thea ingin meminta izin sama papa untuk menikah!" ucap Thea.
Deg.....
Pak Yudha seketika langsung menoleh menatap putrinya. Ia mencoba mencerna ucapan putrinya barusan.
"Apa papa tidak salah dengar? Kamu ingin menikah dengan Andra?" tanya Pak Yudha masih dengan ekspresi terkejutnya.
Thea mengangguk mengiyakan. Ada perasaan gugup dalam dirinya menghadapi papanya. Ia tahu tidak mudah meminta izin untuk hal seperti ini pada papanya.
"Nak apa tidak terlalu cepat? kenapa tidak tunangan saja dulu? Kamu sudah yakin dengan pilihan kamu?" tanya Pak Yudha sambil memegang kedua bahu lengan tangan Thea.
"Apa menurut papa Andra orangnya jahat atau buruk perilakunya?" Kini giliran Thea yang bertanya pada papanya.
"Tidak" jawabannya.
"Kalau begitu apa dia tidak pantas untuk Thea?" tanyanya lagi.
"Kamu kenapa bertanya seperti ini?" tanya Pak Yudha yang masih bingung.
"Jika menurut papa, Andra orangnya tidak baik maka Thea tidak akan meminta izin pada Papa untuk menikah dengannya." ucap Thea mencoba menjelaskan pada papanya.
"Andra melamar Thea sebulan yang lalu pa. Dan Thea menerimanya." sambungnya sambil tertunduk malu.
"Benarkah? kenapa kalian merahasiakan semua ini dari papa? Kenapa tidak dilakukan dengan sakral saja? Biar terasa istimewa!" tanya Pak Yudha dengan wajah berbinar.
"Sederhana tapi istimewa kok pa. Bukan maksud ingin merahasiakan dari papa dan mama. Tapi keadaan Anna sedang sakit saat itu, jadi tidak ingin menambah beban pikiran papa dan mama." jawab Thea.
"Kamu jangan ngomong seperti itu. Berita bahagia seperi ini bukan beban pikiran. Meski papa suka dengan Andra karena dia anaknya baik dimata papa dan Papa sempat berharap kamu sama dia. Tapi mengingat Rayn yang menyakiti Anna membuat papa trauma melepas kalian." ucap Pak Yudha.
__ADS_1
Thea menatap ke arah papanya. Ia bisa melihat kesedihan dimata sang papa.
"Maaf pa" ucap Thea lirih sambil menunduk.
"Sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Sekarang mari kita bicarakan tentang kamu dan Andra. Kapan kira-kira dia akan datang kerumah untuk menemui papa dan mama?" tanya Pak Yudha mencoba mengalihkan pembicaraan agar anaknya tidak berlarut dalam rasa bersalahnya.
"Aku bilang untuk menunggu papa ada waktu luang dulu." jawab Thea.
"Nanti malam suruh Andra datang kerumah." ucapnya yang diangguki oleh Thea.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam......
"Kenapa mondar mandir gitu sih? mending kamu dandan yang cantik trus pakai gaun yang cakep." ucap Amanda diseberang telepon.
"Kira-kira nanti papa merestui nggak ya? kok jadi takut gini?" tanya Thea pada Amanda.
"Merestui kok. Tenang saja! Aku aja merestui kamu sama Andra, jadi papa kamu juga harus merestui." jawab Amanda sambil mengunyah makanan ringan.
Thea mencebikan bibirnya dan memutar bola matanya malas mendengar jawaban Amanda. Sedangkan Amanda malah cekikikan diseberang telepon.
Tok....
Tok....
Tok....
Ceklek.....
"Eh... Anna kamu ngapain disini? kok nggak pakai kursi roda? kenapa nggak bilang sama aku, kan kamu harus istirahat dannn.... " ucap Thea.
"Husstt.... banyak banget pertanyaannya. Apa aku boleh masuk?" tanya Anna memotong ucapan Thea.
Thea mengangguk mengiyakan. Lalu mereka pun duduk di kursi yang ada di kamar Thea.
"Kamar kita beda ya nuansanya. Aku pikir anak kembar seleranya sama." ucap Anna yang masih mengamati seisi kamar Thea.
"Oh iya katanya kamu mau dilamar ya nanti?" tanya Anna sumringah.
"Sebenarnya sudah sebulan yang lalu. Tapi kami ingin meminta restu papa sama mama." jawab Thea malu-malu.
"Wahh.... siapa dia? Kalian sudah berapa lama berpacaran? Apa kamu sudah memperkenalkan dia sama aku? Orangnya seperti apa?" kini giliran Anna yang memberondong pertanyaan.
__ADS_1
"Diaa.... eh kayanya sudah datang. Ayo kita lihat!" Thea mengajak Anna untuk mengintip pembicaraan Andra dan kedua orang tuanya di ruang tamu.
"Kenapa dia datang sendiri Thea?" tanya Anna yang ikut bersembunyi bersama Thea.
"Dia yatim piatu dan juga tidak punya saudara. Emm... seingatku sih dia punya sahabat dekat tapi katanya sedang ditugaskan di luar negeri." jawab Thea sambil berbisik.
"Ohhh.... kasihan juga ya. Nanti kalau sudah menikah lebih baik punya anak banyak saja biar nggak kesepian. Hihihi...." ucap Anna yang menggoda Thea.
Thea merasa malu mendengar ucapan Anna. Ia saja tidak kepikiran sampai kesitu. Merasa dicintai saja sudah membuat Thea bahagia meski belum tumbuh rasa cinta dari dirinya. Setidaknya ia punya kemauan untuk belajar membuka hati untuk Andra. Terlebih, ia tidak mau lagi berurusan soal cinta segitiga dengan saudara kembarnya. Mengingat hal itu membuat Thea kembali merasa bersalah pada Anna.
"Coba lihat, sepertinya papa suka sama dia!" ucap Anna yang fokus mendengarkan pembicaraan tersebut.
Thea tersenyum tipis mendengar papa dan mamanya merestui dirinya dan Andra. Ia juga bisa melihat raut wajah Andra yang berbinar bahagia.
"Eh apa nih?" tanya Anna sambil menghentak-hentakkan kakinya karena merasa ada yang memainkan kakinya.
"Ada apa?" tanya Thea bingung menatap Anna.
Mereka berdua melihat kebawah dan mendapati seekor anak kucing berwarna putih sedang memainkan kaki Anna.
"Aaaaa..... " Teriak Anna merasa takut dan geli pada anak kucing yang terus mengejarnya.
Tanpa ia sadari, ia sudah keluar dari persembunyiannya. Thea menepuk dahinya karena Anna sudah ketahuan menguping pembicaraan orang tuanya dan Andra.
"Mamaaa.....Anna takut ma. Anna dikejar-kejar terus." Ucap Anna yang berlindung dibalik punggung mamanya.
Bu Veronica memanggil ART untuk membawa keluar anak kucing tersebut. Karena ia tahu kalau sejak dulu Anna takut pada kucing.
"Maaf Nyonya, ini kucing tetangga yang sering main disekitar sini." ucap ART tersebut lalu membawa kucing itu untuk dipulangkan.
Pak Yudha hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Sedangkan Andra baru tahu kalau ada orang yang takut pada kucing se menggemaskan itu.
"Thea" panggil Pak Yudha yang memergoki Thea hendak kembali ke kamarnya dan tidak ingin ketahuan kedua orang tuanya ataupun Andra.
'Haduhh.... padahal tinggal dikit lagi.' ucap Thea dalam hati.
Thea berbalik dan mendekat ke arah papanya. Ia bisa melihat raut wajah Andra yang menahan tawa.
"Sini nak! " ucap Pak Yudha menepuk sisi kosong di sebelahnya agar Thea mau duduk dekat dengannya.
"Papa dan mama merestui kalian. Katanya kalian ingin menikah minggu depan ya? Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Pak Yudha yang membuat Thea melongo.
__ADS_1
'Gila si Andra. Kok bilangnya minggu depan sih?' ucap Thea dalam hati sambil melihat ke arah Andra yang tersenyum manis pakek banget.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...