
"Na, kamu kan sudah tiga tahun pacaran sama Rayn. Ada bahas ingin ke jenjang serius tidak? " Tanya Rini pada Anna.
Mereka sedang menikmati makanan di sebuah restauran yang berada di mall tersebut.
"Emm, sejauh ini sih Ray nggak bahas kesitu. Mungkin karena kita masih kuliah kali ya" jawab Anna sambil menikmati makannya.
"Kalau kamu sendiri gimana? " tanya Rini
"Aku sebenarnya juga mau serius sama Ray. Tapi entah kenapa aku merasa kok dia itu mencintai aku masih setengah hati. "
"Hah, maksudnya? Bukannya dia itu bucin akut ya ke kamu? Dulu aja nembaknya super romantis, kaya mau ngelamar aja" tanya Rini
"Entahlah Ri. Dia emang selalu ada buat aku. Sejauh ini sih dia masih setia sama hubungan kita. Tapi ada yang mengganjal dihati aku soal perasaannya. Atau mungkin dulu dia nembak aku jadi pacarnya karna penampilan aku?" jawab Anna.
Mereka berdua sedang terdiam dengan pikiran masing-masing untuk mencari tahu jawabannya.
"Kamu curiga dia dekat sama seseorang tidak?sebelum pacaran mungkin? "
"Dulu sebelum pacaran sama aku. Ray dekat sama Thea" jawab Anna tanpa curiga apapun.
"Bisa jadi Ray ada perasaan sama Thea, Na" ucap Rini yang membuat Anna menaruh sendoknya.
"Enggak mungkin deh, soalnya selama tiga tahun ini Ray biasa aja sama Thea" jawab Anna
Anna mengingat kembali kebersamaannya bersama Ray saat ada Thea. Mereka memang terlihat biasa saja seperti teman biasa dan tidak lebih. Tapi entah mengapa hati Anna jadi ketar-ketir. Apa iya Ray masih menaruh rasa dengan Thea? Begitu juga sebaliknya? Apa selama ini Anna yang menjadi penghalang diantara mereka? Tapi mengapa Ray menembaknya untuk jadi pacarnya? Mengapa tidak Thea saja?
"Iya juga ya"
Sesampainya dirumah Anna masih tidak tenang dengan topik obrolan yang ia bahas tadi dengan Rini. Didalam kamarnya, Anna merenungkan semua itu. Ia kembali bernostalgia didalam pikirannya saat-saat keberadaan Thea ada diantar dia dan Rayn.
Anna pernah melihat sekilas tatapan rindu Rayn pada Thea, namun waktu itu Anna tak begitu ambil hati.
Saat Rayn mengobrol dengan Thea pun juga terlihat biasa saja. Mereka berdua tampak seperti teman yang sedang mengobrol biasa.
Anna juga tidak pernah menemui situasi dimana Thea hanya berdua dengan Rayn. Atau memang dirinya yang tidak tahu saat-saat mereka berdua.
"Tidak mungkin. Ray itu setia sama hubungan kita Anna" ucap Anna meyakinkan dirinya.
Anna yang tidak mau overthinking lagi soal hubungannya dengan Rayn memilih untuk keluar kamar dan mengobrol dengan keluarganya.
Saat menuruni anak tangga. Anna melihat Thea masuk kedalam rumah dengan pakaian lengkap yang ia kenakan saat kuliah tadi. Anna sudah hafal kalau Thea pasti mampir dulu kerumah sahabatnya yaitu Amanda setelah pulang kuliah. Ia tak menaruh kecurigaan apapun pada saudara kembarnya itu.
"Thea" Anna memanggil Thea saat berpapasan turun dari tangga.
"Iya"
"Nanti kamu ada waktu luang tidak? " tanya Anna
"Kenapa? "
"Temenin aku ngobrol"
"Boleh.Tapi aku mandi dulu"
"Oke. Aku tunggu di taman belakang" ucap Anna lalu berlalu.
__ADS_1
Selesai mandi Thea menuju taman belakang yang dimaksud Anna. Ia melihat Anna sedang duduk didepan kolam renang. Disebelah Anna sudah ada beberapa camilan dan minuman.
"Sini Thea" ucap Anna dan diangguki oleh Thea.
"Kamu mau ngomong apa? " tanya Thea sambil mencomot kripik singkong bumbu balado.
"Emm aku ingin tahu apa dulu kamu ada rasa sama Ray? " tanya Anna to the point.
Uhuk... uhuk...
Thea tersedak mendengar pertanyaan Anna barusan. Kenapa Anna tiba-tiba menanyakannya?.
"Eh kenapa Thea? minum dulu" Anna memberikan minuman di depannya untuk Thea.
Thea mengambilnya dan meminumnya untuk meredakan rasa keterkejutannya barusan.
"Huhh... bumbu bubuk balado nya bikin kesedak" jawab Thea yang bisa diterima oleh logika.
"Hati-hati Thea kalau makan" ucap Anna sambil mengusap-usap punggung Thea.
'Duh, aku harus jawab apa coba? Kenapa tiba-tiba Anna menanyakan hal itu sih? Apa Anna curiga soal aku dengan Ray? Apa tadi Anna melihat aku dengan Ray? Padahal tadi aku memilih pulang sendiri tanpa diantar Ray?' ucap Thea dalam hati.
"Sudah mendingan? " tanya Anna yang melihat Thea diam saja.
"Su-sudah"
Krikk... krikk...
"Kamu kenapa Anna tiba-tiba tanya soal itu?" Thea ingin memastikan rasa penasarannya. Apa benar Anna sudah tahu hubungannya dengan Ray?.
"Kenapa? "
"Ray sepertinya tidak sepenuhnya mencintai aku Thea. Entah mengapa aku merasa perasaannya Ray itu tidak sepenuhnya untukku." ucap Anna sambil menatap rembulan yang terang bersama bintang-bintang di langit malam itu.
Thea bingung ingin menjawab bagaimana. Ingin mensupport Anna agar tidak perlu overthinking soal hubungannya dengan Ray, tapi bagaimana dengan dirinya dan Ray. Tapi kalau Thea menasehati untuk melepaskan Ray jika Ray tidak ada perasaan tulus untuknya, kasihan juga Anna.
"Coba kamu bicarakan baik-baik dengan Ray, Na. Aku tidak tahu harus bilang apa. Kamu yang lebih berpengalaman soal pacaran" jawab Thea pada akhirnya.
"Hehehe. Iya juga ya. Btw kamu dulu kan dekat sama Ray. Apa kamu tidak ada perasaan suka sama Ray, Thea? "
"Aku tidak membencinya. Aku suka dia sebagai teman mengobrol dulu. Hanya itu. " jawab Thea
'Maaf Anna' Thea meminta maaf didalam hatinya.
Anna tak membahas hal itu lagi. Memang sepertinya tidak ada apa-apa diantara Thea dan Rayn. Mungkin hanya overthinking dirinya saja. Mereka berbincang-bincang dengan berbagai topik setelahnya hingga keduanya mengantuk dan masuk kekamar masing-masing.
Ditempat lain Rayn yang belum tidur memilih untuk menikmati kopinya di balkon kamarnya. Semilir angin menerpa rambutnya. Ia melihat kearah langit yang dihiasi bulan dan bintang malam itu. Kebersamaannya dengan Thea sangat membuatnya nyaman.
Rayn tidak menyesal menembak Thea jadi pacarnya, ada rasa bahagia dalam dirinya. Namun ia merasa sedikit menyesal kenapa tidak dulu Tgea saja yang ia jadikan pacar, malah menjadikan Anna pacarnya.
Ada perasaan tidak tega pada Anna jika harus memutuskannya. Sudah tiga tahun ia berpacaran dengan Anna, pasti akan melukai perasaannya. Apalagi jika ia tahu dirinya membawa Thea kedalam hubungannya. Namun Rayn juga tidak ingin berpisah dari Thea.
Nasehat yang diberikan oleh Erik kembali berputar dalam telinganya. Apa iya jika dirinya sekarang sudah menjadi playboy? Sepertinya memang iya.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari Thea. Rayn langsung membacanya.
__ADS_1
Thea
(Ray sudah tidur?)
Rayn
(Belum sayang. Kamu kenapa belum tidur?)
Thea
(Lagi kepikiran sesuatu)
Rayn
(Apa?)
Thea
(Anna)
(Dia tadi tanya ke aku apa aku ada perasaan sama kamu? )
(Aku berbohong sama dia Ray. Aku nggak tega sama dia)
(Apa lebih baik kita akhiri saja ya hubungan ini. Aku takut Ray)
Rayn
(Kamu nggak cinta sama aku sayang? )
Thea
(Cinta)
Rayn
(Aku akan menyelesaikan semuanya. Kita nggak akan berpisah. Kamu percaya kan sama aku?)
Thea
(Iya aku percaya)
Rayn
(Jangan dipikirkan lagi. Ini sudah malam tidurlah)
Thea
(Oke)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai Readers 👋👋👋...
...Selamat membaca ya. Jangan lupa dukungannya....
__ADS_1
...Thankyou 🧡🧡🧡...