Mencintai Si Kembar

Mencintai Si Kembar
Kamu terlihat cantik


__ADS_3

"Ngapain sih?" tanya Erik yang melihat tingkah aneh Amanda.


"Coba lihat ini! mereka itu lo terlalu uwuuuww"


Amanda menunjukkan hasil fotonya pada Erik. Erik bisa melihat Thea sedang bersama seorang cowok yang tidak ia kenali. Namun dari tampilannya seperti sudah matang untuk berumah tangga.


"Thea sama siapa itu?"


"Andra pemilik coffeeshop ini. Emm... aku pernah dengar sih dia rekan bisnis papanya Thea juga." Jawab Amanda.


"Ohhh" Erik hanya mengangguk-ngangguk menjawab oh saja.


'Syukurlah itu lebih baik daripada harus jadi pacar keduanya Ray. Eh tunggu, emang mereka udah putus apa? Kok jadi penasaran!' ucap Erik dalam hati.


"Yang kirimin fotonya ke aku" ucap Erik yang membuat Amanda menatap penuh selidik.


"Mau buat apa? kasih tahu Ray?" tanya Amanda pada Erik yang tersyok-syok.


"Kok kamu tahu yang?" tanya Erik pada Amanda.


Amanda menjelaskan semuanya yang ia ketahui pada Erik mulai dari Thea jadian dengan Rayn hingga bisa bertemu Andra, bahkan tentang Rayn yang sudah bertunangan dengan Anna.


"Wahh.... Si kutu kupret tunangan nggak bilang-bilang ke gue. Tapi yasudahlah yang penting dia udah insaf." ucap Erik sambil menyomoti makanannya.


"Insaf insaf, kamu kok nggak ada cerita ke aku kalau kamu juga tahu. Udah tahu temen salah malah didukung huh.... dasar semua cowok sama aja." sahut Amanda.


"Aku udah nasehati dia yang. Tapi dianya aja yang loading sadarnya. Dan aku udah nggak kaya dulu ya." jawab Erik.


Amanda menatap penuh selidik pada Erik, sedangkan Erik hanya santai saja karena ia merasa tidak salah. Tak lama setelahnya ada dua orang pengunjung yang memakai pakaian seksi melewati meja Amanda dan Erik.


"Melonnya kecil ya! " ucap Amanda.


"Gede kok. Eh... " Erik langsung menutup mulutnya dan melirik ke arah Amanda yang sudah siap melayangkan apapun dihadapannya.


"Yang aku nggak sengaja itu, anu dia kecil kok." ucap Erik kelimpungan.


"Nonton bioskop yuk ada film baru?" Namun Amanda sudah siap melayangkan totebag nya ke arah Erik.


"Aku traktir skincare yang, ayokk!" ucap Erik sambil memejamkan mata.


'Duhh.... ni mata kenapa pakek mampir lihat itu sih tadi. Mana Amanda udah mulai mode reog lagi.' ucao Erik dalam hati.


"Ayok, Skincare ku lagi banyak yang habis yang! "


Erik berani membuka matanya dan melihat senyum Amanda terbit.


'Yasudahlah tidak apa-apa isi dompet raib kali ini. Itung-itung belajar nafkahin dia.' ucap dalam hati sambil mengelus dadanya.


"Kamu nggak ikhlas?" tanya Amanda yang melihat raut wajah Erik pasrah.


"Ikhlaslah sayangku. Ayok let's go"


Mereka berdua meninggalkan coffeeshop tersebut setelah membayar makanan dan minuman yang mereka pesan. Tanpa Amanda sadari, ia sudah meninggalkan Thea tanpa pamit karena saking semangatnya.

__ADS_1


"Udah jadi?" Tanya Andra pada Thea.


Thea mengangguk mengiyakan. Andra bisa melihat hasil karya Thea bergambar wajah panda.


"Wahh.... sudah bisa rupanya. Kamu suka panda?"


"Iya, terlihat menggemaskan apalagi kalau beneran ada." jawab Thea sambil membayangkan pipi gempil si Panda.


'Ck.... masa gua kalah sama si panda sih' ucap Andra dalam hati.


Andra kemudian mengajak Thea duduk ditempat duduk yang terletak di sebelah jendela kaca. Dari jendela kaca itu mereka bisa melihat hujan turun membasahi jalanan kota.


Thea menikmati kopinya sambil melihat ke arah jendela kaca. Sedangkan Andra lebih tertarik menikmati kopinya sambil memperhatikan Thea. Thea tak sengaja menoleh kearah Andra hingga membuat Andra tersadar dan membuang tatapannya ke arah lain.


"Ndra, aku ke toilet dulu ya! " ucap Thea yang mendapat anggukan dari Andra.


Setelah selesai dengan urusannya didalam toilet, Thea tak langsung kembali ke tempat duduknya. Ia memperhatikan raut wajahnya di pantulan cermin di didepan toilet itu.


"Ya ampun, ditatap kaya gitu tadi rasanya bikin jantung nggak karuan. Apa dia ada perasaan ya sama aku?" gumam Thea sambil melihat wajahnya lekat-lekat.


Thea terdiam sejenak mencerna apa yang ia rasakan saat ini. Akalnya menyuruhnya untuk tidak terbuai lagi dengan yang namanya laki-laki. Namun hatinya bertolak belakang, dimana ia ingin membuka hati untuk Andra.


"Aih... Nggak-nggak Thea. Kamu jangan ke ge-eran, bersikaplah biasa saja. Toh, Andra nggak ada nyatain perasaan ke kamu." gumam Thea sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.


Thea kembali ke tempat duduknya, dimana Andra tersenyum padanya.


"Emm... aku harus pulang sekarang. Terimakasih sudah mengajarkan membuat latte art" ucap Thea


"Eh! Emm... Aku pulang bareng temen aku aja deh Ndra" jawab Thea.


Andra merasa kecewa sebenarnya, tapi apa boleh buat. Dirinya juga tidak bisa memaksa Thea.


Thea mencoba menelepon Amanda karena pesan yang ia kirim tidak dibaca olehnya.


"Hallo Te" ucap Amanda diseberang telepon.


"Kamu dimana?" tanya Thea sambil melirik ke kanan dan kekiri mencari keberadaan sahabatnya itu.


"OMG.... duh maaf ya Te, aku lupa kalau tadi ke coffeeshop bareng kamu. Aku lagi di toko skincare sama Erik." jawab Amanda.


Thea menghela nafasnya kasar dan hal itu tak luput dari tatapan Andra padanya.


"Yaudah deh, aku pulang dulu sekarang." ucap Thea pada Amanda.


"Maaf banget ya Te. Kayaknya aku udah mulai pikun deh." jawab Amanda.


"Hmm"


Setelah mengakhiri panggilan telepon itu, Thea hendak membayar kopi yang ia pesan namun dilarang oleh Andra.


"Tidak perlu bayar. Kan kamu sendiri yang buat! " ucap Andra.


"Makasih Ndra" ucap Thea yang tak mau berdebat dengan Andra.

__ADS_1


"Sama-sama" jawab Andra.


"Jadi pulang dengan temanmu?" tanya Andra


" Emm... e-enggak jadi." jawab Thea


"Aku antar pulang aja ya, sudah malam ini! " Andra berdiri dari duduknya.


"Eh, enggak usah Ndra. Duh jadi ngerepotin kamu banget aku hari ini! " tolak Thea


"Sama sekali enggak ngerepotin kok. Aku harus mastiin kamu pulang dengan selamat. Ayo! "


Mendengar ucapan Andra membuat hati Thea menghangat. Jika dirinya sebuah lilin sudah pasti dia meleleh saat ini. Namun Thea dengan cepat mengambil alih kesadarannya, ia harus meyakinkan dirinya untuk tidak baperan.


Thea menyetujui tawaran Andra yang mengantarnya pulang kerumah. Dan sekarang mereka berdua berada dalam mobil menuju ke kediaman rumah Thea.


Suasana tampak senyap karena tidak ada yang berbicara satu sama lain setelah lima belas menit berada dalam mobil. Hingga akhirnya mobil mereka berhenti di sebuah lampu merah. Ada seorang anak laki-laki yang menjajakan dagangannya pada Thea.


"Balon lampunya kak dua puluh lima ribu" ucap Anak laki-laki itu sambil menggigil karena menahan dingin.


"Kakak beli satu" Jawab Thea sambil mengeluarkan uang lima puluh ribu dan memberikannya pada anak laki-laki itu.


"Terimakasih ini kembaliannya"


"Tidak perlu"


Anak laki-laki itu tersenyum senang dan mengucapkan banyak terimakasih pada Thea. Andra menyerahkan jaket yang ia simpan di kursi belakang pada Thea.


"Berikan ini padanya. Kasihan dia sepertinya kedinginan." ucap Andra yang diangguki oleh Thea.


Anak laki-laki itu menerimanya dan juga mengucapkan terimakasih pada Andra. Lampu menunjukkan warna hijau hingga mobil mereka kembali melaju.


"Kira-kira dimana ya orang tuanya? Kasihan sekali dia harus berjualan seperti itu." ucap Thea


"Mungkin dia ingin membantu orang tuanya. Karena jika dia tidak memiliki orang tua, sudah pasti diasuh di panti asuhan." jawab Andra.


"Iya juga ya. Kasihan sekali dia! "


Andra tertawa melihat Thea memegang balon lampu. Menurutnya Thea terlihat sangat menggemaskan seperti anak kecil pulang dari pasar malam.


"Kenapa tertawa?" tanya Thea heran.


"Enggak kenapa-kenapa" jawab Andra.


"Ishh.... bohong. Pasti ada apa-apa dimuka aku kan jadi kelihatan jelek." Thea mencoba membuk kamera hpnya dan mencari noda di wajahnya namun tidak menemukannya.


"Kamu nggak jelek, Kamu terlihat cantik. "


Bluss....


Ucapan Andra mampu membuat pipi Thea merona seperti kepiting rebus. Thea membeku seketika karena ucapan Andra seperti terngiang-ngiang di pendengarannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2