Mencintai Si Kembar

Mencintai Si Kembar
Ancaman untuk Rayn


__ADS_3

Empat minggu kemudian.....


"Mama Anna mau pulang." ucap Anna yang masih terbaring lemas.


Meski sempat mengalami amnesia. Perlahan ia dibimbing untuk mengingat orang-orang penting dalam hidupnya seperti keluarganya.


Bu Veronica menoleh pada suaminya. Dan dijawab anggukan kepala olehnya.


"Papa akan tanyakan dulu pada dokternya." ucap Pak Yuda kemudian melenggang keluar dari kamar perawatan anaknya.


Beberapa saat kemudian setelah Pak Yuda berkonsultasi dengan dokter. Ia kembali ke ruang perawatan anaknya.


"Gimana pa?" tanya Anna.


"Papa sudah bicara dengan dokter Adam dan beliau mengizinkan kamu pulang. Dengan catatan harus rutin minum obat dan tidak boleh absen untuk kontrol ke rumah sakit."


Mendengar jawaban dari papanya. Anna bersorak senang yang membuat kedua orang tuanya juga ikut bahagia.


Setelah berkemas dan siap untuk pulang. Anna didudukan dikursi roda dan didorong oleh mamanya. Saat baru keluar dari kamarnya, tak sengaja ia bertemu dengan Rayn yang kepergok mengintip ke kamar perawatannya.


"Ngapain kamu disini?" tanya Pak Yuda dengan ekspresi datar.


Anna memperhatikan interaksi antara papanya dengan laki-laki yang tak ia kenal. Interaksi yang menurutnya menegangkan yang tidak ia pahami.


"Papa dia siapa?" tanya Anna menatap papanya.


"Bukan siapa-siapa. Thea kamu antar mama dan Anna dulu ke mobil. Nanti papa menyusul" ucap Pak Yuda yang melihat Thea baru pulang dari kampus.


"Iya pa" jawab Thea membantu membawakan barang-barang Anna.


Setelah Istri dan kedua putrinya pergi menuju parkiran rumah sakit. Pak Yuda kembali menginterogasi Rayn seperti sebelum-sebelumnya.


"Sudah berapa kali saya bilang agar kamu tidak mengganggu anak saya. Tapi tetap saja kamu setiap hari datang kesini. Saya harap ini yang terakhir kali." ucap Pak Yuda penuh penekanan.


"Maaf om. Saya hanya ingin melihat keadaan Anna." jawab Rayn.


Pak Yuda menghembuskan nafas kasar. Lagi-lagi alasan itu yang Rayn buat saat kepergok olehnya.


"Apa selanjutnya kamu akan terus seperti ini?" tanya Pak Yuda.


Rayn mengangguk mengiyakan. Entah keberanian dari mana ia tidak mau berhenti menemui Anna meski tidak langsung bertatap muka dengan Anna langsung.


"Untuk apa?" tanya Pak Yuda lagi.


"Saya mencintai Anna om. Saya ingin memastikan ia baik-baik saja setiap hari." jawab Rayn.


"Bersama keluarganya Anna sangat aman. Jadi tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Dan saya tegaskan kalau ini yang terakhir kalinya. Jika kamu masih berusaha mendekati Anna lagi, maka saya pastikan hubungan bisnis yang sudah lama terjalin antara saya dengan papa kamu akan berakhir." Ucap Pak Yuda dengan penuh penegasan lalu kemudian pergi menyusul anak istrinya tanpa menunggu jawaban dari Rayn.

__ADS_1


"Yang sabar ya bro. Mungkin ini yang terbaik untuk lo dan Anna. Biarkan Anna pulih dulu." ucap Erik yang baru saja datang.


Rayn mengangguk mengiyakan meski rasanya berat, lalu menoleh kearah sahabatnya yang merangkul pundaknya.


"Lo darimana?" tanya Rayn.


"Tadi gue ngobrol bentar sama temen lama gue yang nggak sengaja ketemu. Dia abis cek kesehatan tadi." jawab Erik.


Mereka berdua pun akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.


Setelah sampai dirumah, Anna tertegun mengamati setiap inci dari rumahnya. Tak sedikitpun ia mengingat masa-masa dirinya berada dirumah tersebut.


"Selamat datang dirumah sayang" ucap Bu Veronica pada Anna.


"Ini rumah kita ma?" tanya Anna.


"Iya ini rumah kita nak" sahut Pak Yuda


"Ayo kami antar kamu ke kamar kamu untuk istirahat" lanjutnya.


Anna mengangguk mengiyakan. Dan setelah sampai dikamarnya ia juga masih tertegun menatap seisi kamarnya dimana semua serba lengkap dan mewah. Anna mencoba mengingat-ingat tentang masa-masa dirinya berada dikamarnya, namun tidak bisa meski sudah ia paksakan.


"Jangan dipaksakan untuk mengingat semuanya, suatu saat nanti kamu akan ingat sayang" ucap Bu Veronica yang tahu isi pikiran Anna dari raut wajah anaknya.


"Iya ma" jawab Anna sambil tersenyum manis.


"Emm... Anna ingin mengobrol sebentar ma dengan Thea, setelah itu Anna akan istirahat." pintanya pada mamanya.


"Ya sudah kalau begitu. Mama sama papa keluar dulu." ucap Bu Veronica lalu mengelus kepala Anna dengan sayang, setelahnya ia keluar bersama suaminya untuk memberi ruang pada kedua anaknya.


"Sini Thea! " pinta Anna pada Thea untuk duduk disebelahnya.


Thea menuruti ucapan Anna dan langsung duduk disebelahnya.


"Kamu tahu nggak cowok yang ada didepan ruang perawatan aku tadi? Dari tadi aku kepikiran terus Thea sama dia! Apa aku mengenalnya?" tanya Anna.


Thea bingung ingin menjawab bagaimana. Ia takut kalau jujur bisa mengganggu kesehatan Anna.


"Jangan dipikirin, nanti bisa membuat kepala kamu sakit. Sepertinya dia ada urusan dengan papa, karena dia berbicara dengan papa." jawab Thea.


"Iya juga ya. Tapi kenapa nada bicara papa seperti itu. Seakan-akan papa tidak menyukai kedatangannya?" tanya Anna.


"Emm... mungkin karena situasinya tidak tepat. Karena sudah bukan jam kerjanya papa. Papa sedang ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya." jawab Thea.


'Duhh kalau aku tetap disini terus bisa-bisa Anna memberondong pertanyaan terus tentang Rayn.' ucap Thea dalam hati.


"Tapi entah kenapa kok perasaan aku, cowok itu nggak asing ya sama aku?" tanya Anna masih mode penasaran.

__ADS_1


'Tuh kan! ' ucap Thea dalam hati.


"Itu cuma perasaan kamu aja kali. Aku juga sering merasa seperti itu sama orang lain yang wajahnya agak mirip-mirip sama temen aku." jawab Thea.


"Mungkin kali ya" jawab Anna.


"Ya sudah kamu istirahat dulu. Jangan mikirin yang macem-macem Oke! " ucap Thea.


Anna mengangguk lalu Thea berpamitan untuk keluar kamar Anna. Membiarkan saudara kembarnya untuk istirahat karena baru keluar dari rumah sakit.


Ceklek.....


Thea menutup pintu kamar Anna. Saat ia berbalik badan, ia terkejut melihat papa dan mamanya berada tepat didepannya.


"Astaga jantung Thea rasanya kayak mau jatuh! " ucap Thea sambil mengelus-elus dadanya untuk memenangkan dirinya.


Kedua orang tua Thea terkekeh melihat ekpresi Thea yang terkejut. Thea terlihat sangat menggemaskan.


"Apa Anna tadi menanyakan soal Ray?" tanya Pak Yuda yang sejak tadi penasaran.


"Iya pa" jawab Thea.


"Kamu tidak memberi tahu tentang dia pada Anna kan?" tanyanya lagi.


"Tidak kok pa." jawab Thea.


"Jangan pernah beritahu tentang Rayn pada Anna. Anna tidak boleh terganggu karena sedang masa pemulihan." ucap Pak Yuda.


"Tapi bagaimana kalau suatu saat nanti Rayn mencoba kembali dengan Anna pa? melihat usahanya yang tidak pernah berhenti mengunjungi Anna waktu di rumah sakit." tanya Bu Veronica pada suaminya.


"Tidak akan berani lagi dia mencoba mendekati Anna." jawabnya dengan tegas.


Pak Yuda kemudian berlalu meninggalkan istrinya dan Thea yang masih berdiri didepan kamar Anna. Ia ingin menenangkan pikirannya dulu karena akhir-akhir ini Rayn membuatnya jengkel.


"Kapan Andra akan melamar kamu Thea? Apa kalian tidak jadi ke jenjang serius setelah mengetahui Anna dan Rayn tidak jadi bersama?" tanya Bu Veronica pada Thea.


"Segera mama. Kami berencana akan langsung menikah saja jika papa dan mama merestui." jawab Thea.


"Secepat itu? apa kamu tidak ingin bertunangan dulu? Mama tidak memaksa kamu jika kamu tidak ingin nak. Maaf jika sebelumnya mama egois dan pilih kasih." ucapnya.


"Mama jangan bilang seperti itu. Thea sudah menerima lamaran Rayn sebulan yang lalu. Rayn mencintai Thea dan Thea juga ingin belajar mencintainya." jawab Thea.


"Mama do'akan yang terbaik untuk kalian berdua." ucapnya lalu memeluk Thea dalam pelukannya.


'Hati Thea memang terasa seperti teriris ma jika mengingat mama lebih sayang sama Anna daripada sama Thea. Meski mama mencoba memperlakukan sama pada kami berdua, tapi Thea bisa merasakan perbedaan kasih sayang yang mama berikan.' ucap Thea dalam hati hingga membuat air matanya menetes dan segera ia hapus sebelum ketahuan sang mama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2