
"Apa tidak terlalu cepat sekali kalau minggu depan?" tanya Thea pada Andra yang sedang menyetir mobil.
"Tidak. Aku rasa cukup untuk mempersiapkan semuanya." jawab Andra santai.
Setelah dirasa pertemuannya dengan Andra selesai dan Thea menyetujui hari pernikahan diadakan minggu depan. Andra mengajak Thea untuk jalan-jalan sebentar dan janji akan memulangkan Thea sebelum jam sepuluh.
"Apa itu benar?" tanya Thea masih merasa kalau jawaban Andra belum meyakinkan.
Andra tersenyum lalu menghentikan mobilnya dipinggir jalan.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mengurus semuanya. Apa kamu ingin pernikahan yang mewah?" tanya Andra sambil memegang kedua tangan Thea.
"Tidak. Aku ingin yang sederhana saja dan dihadiri orang-orang terdekat. Maaf Ndra, aku kurang nyaman bertemu banyak orang." jawab Thea.
"Hei... tidak perlu meminta maaf. Ini pernikahan kita, jadi kita lah yang harus merasa nyaman dan berkesan. Kita akan memilih tema yang seperti kamu inginkan. Ingin indoor atau outdoor?" tanya Andra pada Thea.
"Emm....aku tidak tahu. Aku bingung!" jawab Thea.
"Kalau begitu mari kita lihat. Nanti kamu bisa tentukan." ucap Andra lalu mengemudikan mobilnya lagi.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di sebuah pantai yang sepi namun terlihat indah.
"Ayo turun" ucap Andra mengajak Thea untuk keluar dari mobil.
Thea mengangguk mengiyakan, namun tatapannya tak berkedip melihat suasana yang indah didepannya.
"I-ini? Kok tidak ada pengunjung? Apa kita terlalu malam datangnya?" tanya Thea yang bingung melihat dekorasi dinner didepannya, yang mampu menghipnotis mata.
"Kita pengunjungnya. Dan ini belum ada jam sembilan malam." ucap Andra sambil menggeser kursi dan mempersilahkan Thea untuk duduk.
Thea duduk di kursinya begitu juga Andra. Suasana malam yang indah karena langit sedang bersahabat. Taburan bintang-bintang mengelilingi bulan yang terang benderang di langit. Suara ombak seperti alunan musik. Lampu-lampu hias berwarna gold dan taburan bunga mawar menambah kesan romantis.
Dua orang pelayan datang menyiapkan hidangan yang tidak terlalu berat serta menuangkan wine di kedua gelas tersebut.
Tak lupa beberapa pemain biola juga ada untuk membangun suasana lebih romantis.
"Kamu suka?" tanya Andra.
"Iya ini indah banget." jawab Thea masih dengan tatapan mengagumi sekitarnya.
Mereka menikmati hidangan dan wine yang berada dihadapan mereka. Sesekali mereka saling lempar candaan. Tanpa terasa keduanya semakin akrab akhir-akhir ini.
"Ingin berdansa?" ajak Andra pada Thea.
"Eh.... A-aku nggak pinter dansa! " jawab Thea malu-malu.
__ADS_1
"Akan ku ajari" Andra berdiri dan mengajak Thea untuk berdansa. Mau tak mau, ia menerima uluran tangan Andra.
Awal-awal Thea memang masih kaku dan harus dituntun oleh Andra. Lama-lama ia menjadi nyaman dan sudah terbiasa.
Alunan musik terdengar begitu lembut hingga sampai di dua hati yang sedang berdansa. Andra menatap Thea dengan dalam. Sedangkan Thea merasa malu ditatap seperti itu, sehingga ia memilih menundukkan wajahnya.
"Jangan menunduk, biarkan cahaya bulan mengetahui kecantikanmu! " ucap Andra yang membuat pipi Thea semerah tomat.
"Jangan menatap seperti itu! " jawab Thea.
"Kenapa?" goda Andra pura-pura tidak mengerti.
"Aku malu!" jawab Thea masih dengan kepala menunduk.
Andra tersenyum menatap Thea, kemudian ia meraih dagu Thea untuk menatap ke arahnya sehingga kedua mata mereka bertemu.
Andra lebih mendekatkan lagi tubuh Thea untuk merapat kedalam dekapannya. Jarak diantara mereka sangatlah dekat hingga nafas keduanya saling menyapa wajah masing-masing. Ingin rasanya Andra meraup bibir Thea yang dari tadi tidak bisa mengalihkan pandangannya. Namun akalnya masih berfungsi, sehingga dia tidak ingin memaksa orang yang belum mencintainya.
"Ehem.... Ingin melihat tema indoor?" tanya Andra setelah sesi berdansa selesai.
Keduanya tampak canggung satu sama lain. Debaran jantung mereka masih berdegup sangat cepat.
"Boleh" jawab Thea.
Mereka berdua bejalan beriringan menuju sebuah gedung yang tak jauh dari pantai tersebut. Thea pikir lokasi untuk tema indoor lumayan jauh sehingga harus ditempuh dengan mobil. Namun setelah mengikuti Andra ternyata tidak jauh dari pantai.
"Tolong tunjukkan katalog tema indoor" jawab Andra.
"Silahkan dilihat. Ini tema pernikahan Indoor mulai dari yang simple hingga mewah! " jawab karyawan tersebut.
Thea dan Andra membolak-balikkan katalog dan mencari tema yang sesuai untuk mereka.
"Gimana? kamu suka yang mana? atau ingin lihat tema yang outdoor?" tanya Andra pada Thea.
"Coba lihat yang outdoor! " jawab Thea.
Karyawan tersebut menyerahkan katalog tema outdoor. Thea dan Andra sedang sibuk-sibuknya memilih sama seperti sebelumnya.
"Yang ini bagus Ndra! Tapi kalau hujan gimana?" Thea menunjuk pada foto tema outdoor dimana terlihat indah apalagi saat senja tiba.
"Sebentar ya kak kami lihat dulu perkiraan cuacanya! " jawab karyawan tersebut.
Beberapa saat kemudian, karyawan itu datang menunjukkan perkiraan cuaca pada Andra dan Thea.
"Apa ini akurat?" tanya Andra pada karyawan tersebut.
__ADS_1
"Benar kak. Ini akurat dan kami sudah membuktikannya dengan pernikahan-pernikahan klien kami sebelum-sebelumnya." jawab karyawan tersebut dengan ramah.
"Hari sabtu bagaimana? Disini cuacanya cerah!" tanya Andra pada Thea.
Thea mengangguk mengiyakan. Dan tema tersebut akhirnya disetujui. Setelah itu mereka mencicipi hidangan yang ingin mereka hidangkan di hari pernikahan nanti.
"Kira-kira kapan punya waktu luang dalam waktu dekat Thea?" tanya Andra sambil menyetir mobilnya karena saat ini mereka hendak menuju pulang kerumah.
"Emm.... emangnya kenapa?" tanya Thea.
"Kalau ada waktu luang. Kita bisa feeting baju pengantin atau desainernya yang akan datang kerumah." jawab Andra.
"Kalau aku pakai baju pengantinnya mamaku boleh tidak? Masih bagus kok Ndra! " tanya Thea ragu-ragu takut menyinggung Andra.
"Tentu saja boleh. MUA akan datang kerumah kamu nanti. Dan sisanya akan aku tangani." jawab Andra.
"Terimakasih" ucap Thea yang membuat Andra tersenyum.
Sesampainya dirumah, Thea banyak bercerita dengan Amanda lewat video call. Tanpa mereka sadari waktu sudah menunjukkan tengah malam.
"OMG.... so sweet sekali sih. Nanti ku suruh Erik untuk berguru ke Andra biar dia bisa manis-manis juga ke aku." ucap Amanda diseberang telepon.
"Menurutku kalian romantis juga kok. Meski versi berbeda. " jawab Thea sambil cekikikan.
"Ye..... versi kita mah udah kayak kucing sama tikus. Biar saja lah yang penting awet apalagi dia setia itu udah poin penting. " jawab Amanda.
Tak hanya Thea yang belum tidur. Andra pun juga masih terjaga dan juga sedang ngobrol dengan Dion di telepon.
"Wahh... ente kadang kadang ente. Masa gue nggak dikasih tau kapan jadiannya sih. Tiba-tiba udah bilang seminggu lagi mau nikah. Lo hamilin dia ya? Hayok lo ngaku! " tanya Dion dengan penuh selidik.
Uhuk... uhuk....
Andra tersedak kopi yang baru saja ia seruput karena mendengar pertanyaan Dion.
"B**gke lo yon. Gue nggak sebejat itu ya sama anak orang. Sella aja nggak pernah gue sentuh. Yang ada lo tuh perlu diragukan." jawab Andra.
"Hehehe..... santai bro, Gue kan cuma nanya tadi. Dan gue masih ting-ting ya meski colek dikit-dikit." jawab Dion.
"Gue turut bahagia buat lo dan Thea. Tapi ngomong-ngomong gue dibolehin cuti ke Indonesia nggak nih buat hadirin pernikahan lo?" tanya Dion
"Emang gue ngundang?" tanya Andra sambil menahan tawa.
"Asem lo Ndra. Trus gunanya ngomong soal pernikahan lo dari tadi apa, kalau gue nggak lo undang? tanya Dion
"Ngasih tahu doang." jawab Andra sambil tertawa.
__ADS_1
"Pokoknya gue mau hadir. Gue rindu makan bakso pas kondangan dulu. Jangan lupa menu itu lo tambahin khusus gue." jawab Dion.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...