Mencintai Si Kembar

Mencintai Si Kembar
Sedang tidak baik-baik saja


__ADS_3

"Aku minta maaf sayang. Aku mengaku salah. Tolong berikan satu kesempatan lagi untuk hubungan kita." ucap Rayn dengan penuh harapan.


"Keputusanku sudah bulat. Aku harus pulang sekarang." Anna berdiri dari duduknya dan hendak pergi namun dicegah oleh Rayn.


Rayn sekuat tenaga mencoba menjelaskan pada Anna namun hasilnya nihil. Anna tetap pada pendiriannya dengan keputusannya tadi.


Tak sampai disitu, Rayn sampai mengejar Anna hingga ke mobilnya dengan harapan yang sama.


"Aaaaarrrrrgggg..... " Rayn berteriak frustasi saat mobil Anna sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Bego banget sih lo Ray. Kenapa lo ceroboh banget sih. Nggak nggak, gue nggak mau hubungan gue putus begitu aja sama Anna. Meski gue sempat mendua tapi gue cinta sama dia. Gue harus perjuangin hubungan gue sama Anna." ucap Rayn lalu bergegas masuk kedalam mobilnya.


Rayn melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia tidak peduli berapa banyak pengendara lain yang memaki-maki dirinya. Rayn mencoba menelusuri setiap jalan menuju arah rumah Anna, berharap masih bisa bertemu mobil Anna dijalan.


Sedangkan di mobil lain, Anna tengah menangis sambil menyetir. Air matanya terus lolos membasahi pipinya. Ia melirik kearah sepion mobilnya, dimana ia melihat mobil Rayn berada dibelakangnya beberapa meter.


"Untuk apa kamu ngejar-ngejar aku? Bukannya sudah bagus ya aku lepasin kamu? Kamu bisa leluasa menjalin hubungan dengan Thea tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi? Ah aku lupa, kalau dia sudah berubah jadi buaya darat. Mana cukup dia dengan satu cewek saja. Pasti menginginkan aku dan Thea juga." Ucap Anna sambil tertawa.


Anna menertawakan nasib cintanya yang miris. Karena saking kacau suasana hatinya. Ia sampai tak sadar ada pengendara motor yang menyeberang. Anna terkejut hingga membanting setirnya, membelokkan mobilnya hingga menabrak pembatas jalan.


"ASTAGA ANNA" teriak Rayn dari dalam mobilnya melihat mobil Anna mengalami kecelakaan.


Rayn segera menepikan mobilnya lalu keluar dari dalam mobil. Ia berlari menuju mobil Anna dimana body depannya sudah ringsek dan mengeluarkan asap. Rayn mengintip jendela mobil Anna sambil mengetuk-ngetuknya berharap Anna baik-baik saja.


"Sayang sayang. Kamu baik baik saja? jawab sayang! " Rayn berteriak frustasi sambil mencoba membukan pintu mobil Anna namun sangat sulit.


"Apa bisa dibuka mas?" tanya dua bapak-bapak pengendara motor yang menghampiri Rayn.


"Tidak bisa pak. Tolongin pak! " ucap Rayn.


"Sebentar, tolong minggir dulu mas. Lebih baik masnya telepon ambulan, karena sepertinya pemilik mobil ini sedang tidak baik-baik saja didalam sana!" ucap salah seorang bapak-bapak itu.


Rayn memberi ruang pada bapak-bapak itu untuk mencoba membuka pintu mobil Anna. Ia menghubungi ambulan agar segera datang. Tak lama kemudian pintu mobil Anna bisa dibuka.

__ADS_1


"Sayang" Rayn melihat kepala Anna berdarah dan Anna tidak sadarkan diri.


Wiu.... wiu.... wiu....


Ambulan yang membawa Anna sudah sampai dihalaman rumah sakit terdekat. Rayn mengikuti Anna yang dibawa oleh para perawat menggunakan brankar.


Raut wajah Rayn terlihat sangat khawatir hingga tak sadar dirinya meneteskan air mata. Rayn takut Anna kenapa-kenapa, ia juga takut kehilangan Anna. Bayangan tentang senyuman Anna dan masa-masa bersama mereka datang dipikiran Rayn.


"Kamu harus kuat sayang. Aku mencintaimu sayang" ucap Rayn tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Anna.


"Maaf masnya tidak boleh masuk. Tolong tunggu diluar saja." ucap salah seorang perawat lalu menutup pintu ruang UGD itu.


Rayn mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar menyesali perbuatannya. Rasa takut akan kehilangan Anna mendominasi perasaannya hingga tidak sadar ia belum menghubungi orang tua Anna.


Ceklek....


"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Rayn pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD.


"Cedera dikepala pasien cukup parah. Maka harus segera dilakukan tindakan operasi. Untuk itu kami perlu persetujuan pihak keluarga terlebih dahulu." ucap dokter tersebut.


"Iya Ray ada apa?" tanya Pak Yuda diseberang telepon.


"A-anu om. I-ini saya sedang dirumah sakit. Anna mengalami kecelakaan." ucap Rayn hingga tangannya bergetar.


"APA? Kamu jangan bercanda Ray! " Rayn bisa mendengar suara Pak Yuda yang panik. Ia juga bisa mendengar suara mamanya Anna yang juga ikut khawatir.


"Saya serius om. Om bisa bicara dengan dokternya." Ucap Rayn lalu menyerahkan hpnya pada dokter yang masih berada di hadapannya.


Rayn menyimak percakapan antara dokter dan Pak Yuda yang bisa ia dengar. Rayn mendengar Pak Yuda menyetujui operasi Anna untuk segera dilakukan.


"Ray kamu tandatangani dulu perizinan operasi Anna. Om akan segera berangkat kesana sekarang! " ucap Pak Yuda pada Rayn yang sudah memegang lagi hpnya.


"Baik om" jawab Rayn.

__ADS_1


Rayn melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Yuda. Ia menemani Anna hingga ke ruang operasi. Meski tidak diperbolehkan masuk, Rayn setia menunggu diluar ruang operasi.


Tak lama kemudian Pak Yuda, Bu Veronica, dan juga Thea datang. Mereka menghampiri Rayn yang sedang duduk sendirian di depan ruang operasi.


"Apa yang terjadi Ray? Kenapa Anna bisa mengalami kecelakaan?" Itulah pertanyaan pertama yang diajukan oleh Pak Yuda pada Rayn karena tadi belum sempat bertanya ditelepon.


Glek....


Rayn merasa gugup dan takut menghadapi papanya Anna, namun ia juga tidak bisa berbohong apalagi dengan orang yang lebih tua. Rayn menceritakan saat Anna mendatanginya dan meminta putus darinya hingga kecelakaan itu terjadi.


Plak....


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Rayn. Rayn merasakan panas dan perih diarea pipinya. Ia bisa melihat darah segar keluar dari bibirnya. Raut wajah Pak Yuda sudah merah padam. Ia benar-benar marah pada Rayn. Sedangkan Bu Veronica menangis disisi Thea. Thea membeku mendengarkan penjelasan dari Rayn. Ia tidak menyangka perbuatannya hingga mampu mencelakai saudaranya.


"Apa yang kamu lakukan hingga putriku memutuskan hubungan kalian hah?" ucapan Pak Yuda terdengar menyeramkan hingga membuat nyali Rayn menciut seketika.


"Ma-maaf om sa-saya sempat menghianati hu-hubungan kami" ucap Rayn sambil tetunduk.


"Ba**ngan kamu Ray. Beraninya kamu menyakiti putriku" Pak Yuda sudah memegang kerah baju Rayn dan hendak melayangkan pukulan padanya namun dihentikan oleh istrinya.


"Pa sudah pa. Ini dirumah sakit! " ucap Bu Veronica pada suaminya.


"Dengan siapa kamu menduakan anak saya? Apa kamu kepergok dengan perempuan itu tadi sehingga membuat Anna berakhir seperti ini?" tanya Pak Yuda yang sudah menurunkan nada suaranya.


Rayn melirik ke arah Thea yang menundukkan wajahnya dengan perasaan bersalah. Rayn merasa tidak mungkin jujur kalau ia dan Thea lah yang sudah menghianati Anna. Rayn tidak tega melihat Thea dibenci keluarganya.


"Sa-saya.... " ucap Rayn gugup.


"Dengan Thea papa" jawab Thea memotong ucapan Rayn.


Deg....


Semua orang menatap ke arah Thea termasuk Rayn. Mata Rayn melotot tidak menyangka Thea akan jujur dihadapan orang tuanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2