
Sebulan berlalu, Aira yang dulunya kuliah sekarang memutuskan untuk tidak kuliah lagi dan menjadi seorang istri, hubungannya dengan Arya juga sekarang semakin dekat. Tetapi tidak dengan Belinda, ibu mertuanya itu semakin hari semakin benci padanya, bahkan karena sikapnya itu Arya dan Aira sering makan berdua dikamar.
Pagi ini juga sama, Arya memutuskan untuk sarapan di kamar bersama Aira.
Arya mengambil telfon rumah dikamarnya dan menelfon Ema
"Ema, bawakan sarapan ke kamar." Kalimat itu sudah biasa didengar Ema, dan dia menjawab dengan lembut "Baik tuan"
Sementara itu, Aira yang baru keluar dari kamar mandi merasa bingung karena tingkah suaminya yang hampir setiap hari makan didalam kamar mereka.
"Sarapan dikamar lagi? " tanya Aira
"Iya" jawab Arya singkat
"Kenapa? kan ada mama di luar, aku kan tidak enak sama mama Ya" sambil memasang wajah sedih.
"Aku hanya mau makan dikamar saja, kan romantis kalau kita makan berdua" Arya memberi alasan sambil menggoda istrinya.
"Iya Ya, aku tau ini romantis. Tapi kasian mama kalau dia makan sendiri terus dibawah"
"Tidak apa-apa, mama kan sudah biasa"
Dan lagi-lagi Aira mengalah.
sementara di meja makan, Belinda menunggu dengan sabar, dan sesaat menatap ke arah tangga, tetapi ketika melihat Ema membawa nampan berisi Sandwich dan susu akhirnya dia bertanya pada ema dengan nada kesal
"Mau kemana kamu bawa nampan itu!"
__ADS_1
"Mau ke kamar tuan nyonya, Tuan meminta saya membawa sarapan keatas"
"Apa benar itu perintah anak saya?"
tanya Berliana dengan menaikan salah satu alisnya dan melanjutkan kalimatnya
"Saya yakin itu bukan permintaan Arya, Itu pasti permintaan wanita munafik itu, Saya sudah curiga selama ini, dia pasti meminta Arya untuk menelfon kamu"
"Maaf nyonya saya tidak tau Apa-apa, saya permisi ke atas dulu"
Ema tidak mau terlibat dengan nyonya besarnya, karena jika Arya tau maka dia akan kehilangan pekerjaannya, apalagi ema tau kalau Arya benar-benar mencintai Aira
Setelah sampai di depan pintu kamar, ema mengetuk pintunya dan dengan ramah Aira membuka pintu kamar
"Selamat pagi nyonya muda, saya mengantarkan sarapan untuk nyonya dan tuan"
"Sama-sama nyonya, jika perlu sesuatu panggil saya saja nyonya"
Ema melangkahkan kakinya namun terhenti
"Ema" Ema membalikan badannya dan melihat wajah nyonya mudanya.
"Iya nyonya"
"Apa mama dibawah? Apa dia sudah makan? "
"Emm, Nyonya bel... "
__ADS_1
"Ema apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain, kenapa masih disini" Arya memotong pembicaraan ema dengan tatapan tajam
"Maaf tuan saya permisi dulu"
Tanpa menjawab, Arya langsung menutup pintunya keras, dan Aira semakin bingung dengan sikap suaminya
"Ya, kamu kenapa?"
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya kesal karena kamu lebih banyak berbicara sama Ema pagi ini" Aira tersenyum malu tapi ia juga bingung karena ia tidak bicara banyak dengan Ema pagi ini.
"Aku hanya bicara sedikit sama Ema, kenapa kamu kesal?"
"Ahh, sudahlah kenapa kamu sekarang jadi bahas ema, ayo kita makan aku sudah lapar" Arya memberi alasan lapar.
Dan akhirnya mereka makan.
Arya memakan sarapannya tetapi matanya tetap lekat pada wajah Aira
"Ya, jangan liatin terus" Sambil menahan malu
"Kenapa? aku kan cuman lihat istri aku. Lagian kan setiap hari aku liatin kamu kaya gini"
Aira hanya Senyum dan menjawab
"Baiklah aku akan tetap mengalah"
Arya melihat sisa roti di bibir Aira,dia mengambil sisa roti itu dan memakannya.
__ADS_1
Aira kaget tapi juga tersenyum malu.