
Hari berganti hari bulan pun berlalu begitu cepat, tak terasa Arya dan anaknya sekarang sudah setengah tahun menikah.
Kehidupan pernikahan mereka pun harmonis dan bahkan terlihat lebih harmonis walaupun mereka belum melakukan hubungan suami istri.
Hari ini, seperti biasa mereka mengawalinya dengan doa dan sarapan. Tapi semenjak Aira meminta untuk makan bersama dengan Belinda akhirnya arya menyetujui permintaan istrinya dan mereka makan bersama walaupun Belinda masih tidak menyukai Aira.
Aira tetap berusaha untuk mengambil hati mertuanya, walaupun nanti dibalas dengan hinaan dan cercaan.
Sarapan pagi ini raut muka Belinda sangat bahagia.
"Ya, hari ini kan Ananya pulang jadi kamu bisa kan jemput dia, soalnya dia mau kamu yang jemput" Tanya belinda dengan mata penuh harap.
Ananya adalah anak kedua Belinda dan adik dari Arya Wardana. Anak dari Tuan Wardana dan Belinda hanya mereka berdua. Dia baru saja menyelesaikan studinya di luar negri, dia mengambil jurusan kedokteran lebih tepatnya kedokteran spesialis kandungan. Dan sekarang dia kembali ke tanah air untuk bekerja dirumah sakit yang dibangun kakaknya sebagai hadiah untuknya karena sudah menyelesaikan S2 nya.
Sebenarnya Arya ingin Ananya melanjutkan kuliahnya lagi, tetapi Ananya menolak dengan alasan capek.
__ADS_1
"Iya, Aku udah janji sama dia jadi aku bakalan jemput dia. Nanti aku bawa Aira juga" jawabnya sambil menatap istrinya.
"Kenapa harus bawa dia sih, kamu jemput sendiri kan bisa. Kalau kamu bawa dia, dia hanya akan buat kamu malu" jawab Belinda dengan nada kesalnya sambil menatap sinis menantunya.
Entah kenapa saat melihat menantunya itu dia sangat-sangat tidak menyukainya, karena dalam pikirannya Aira adalah wanita yang hanya menginginkan uang putranya saja.
Aira hanya tersenyum kepada suaminya sambil menggelengkan kepalanya seperti kode bahwa dia tidak apa-apa jadi jangan membesarkan masalah, tetapi Arya justru tidak menyukai jika istrinya itu terus mengalah kepada mamanya.
"Mah cukup. Bukan karena Aira tidak mau Arya menjawab hinaan yang mama kasih kedia tetapi Arya juga punya batas kesabaran. Arya mau makan sama mama di meja makan sekarang juga karena dia yang minta. Saat mama hina dia dan merendahkan dia Arya hanya diam karena dia yang memintanya, dia tidak mau mama menangis gara-gara dia. Jadi tolong Mah, hargain dia." Jawab Arya penuh penekanan di kalimat terakhirnya.
"Bela aja terus" jawab Belinda lalu pergi meninggalkan meja makan.
Rasanya Aira ingin menangis sekencang-kencangnya tetapi dia tidak mau Arya semakin marah kepada mamanya, rasa sakitnya dia simpan dalam-dalam bersama dengan air mata yang tidak di izinkan nya untuk keluar.
Arya ingin menjawab ucapan Mamanya tetapi tangannya di genggam oleh Aira.
__ADS_1
"Aku nggak apa-apa Arya, kamu lihat aku. Apa aku terlihat sedih? Tidak kan" sambil tersenyum manis di hadapan suaminya.
Dia memang sangat pintar menyembunyikan rasa sakitnya, dulu waktu ibu tirinya menyiksanya dia tidak pernah menangis di depan ibu tirinya dan ayahnya jadi ayahnya memikirkan kalau memang Aira sangat menyayangi ibunya. Dia memang sangat pintar menyembunyikan rasa sakit hatinya dan tak pernah mengizinkan air matanya turun tanpa seisinya.
"Kamu mungkin bisa bohong sama orang lain Ai, tapi kamu tidak bisa bohong sama aku. Aku tau kamu sedih" Jawab Arya sambil memegang pipi Aira.
"Maafin mama yah, kita berusaha sama-sama. Kita buat mama sayang sama kamu" sambung Arya lagi.
"Kenapa kamu minta maaf, Aku nggak apa-apa" Sambil menggenggam tangan suaminya yang menempel di pipinya itu.
"Terimakasih Ya" Sambil tersenyum.
Tanpa menjawab, Arya langsung merangkul istrinya. Mereka meresapi pelukan itu cukup lama.
βππππ πππππ-πππππ π ππππππ ππ¦π‘π ππππ, ππ πππ πππ π§π π₯π π€
__ADS_1
π ππππͺ ππππͺπππ βΊπ€