Mencintaimu Adalah Takdirku

Mencintaimu Adalah Takdirku
Hal Penting


__ADS_3

"Aku jadi merasa bersalah sama wanita yang mau dijodohin sama Arya" ucap Aira.


"Kalau dia orang baik, dia pasti mengerti kok" jawab Ananya.


Aira hanya tersenyum sambil memikirkan perasaan wanita yang ingin dijodohkan dengan suaminya itu, dia pasti sangat sakit hati. itu pikirnya.


"Kamu tidak ingin punya anak Ai?" tanya Ananya membuyarkan lamunan Aira.


"Emm....itu... emm..." Jawab Aira terbata-bata.


Jawaban itu membuat Ananya mengerti satu hal, ternyata kakak iparnya itu belum siap dan mungkin belum di sentuh kakaknya. Dan melihat wajah cemas kakak iparnya itu membuat Ananya mengerti tentang apa yang dirasakan Aira sekarang.


"Kamu takut mama tidak menerima anak kalian nanti?" tanya Ananya. Ya, dia mengerti perasaan Aira, dia sangat mengerti. Mungkin jika dia di posisi Aira juga dia pasti akan takut, mengingat penolakan Belinda kepada kakak iparnya itu.


Aira hanya diam, sambil tersenyum getir Apakah wajahku secemas itu sampai Ananya tau apa yang aku takutkan. Batin Aira.


Sebenarnya Ananya hanya menebak saja, dan ternyata benar dugaannya dia takut ibu mertuanya tidak menerima anaknya.


Ananya mengangkat tangannya dan menggenggam erat tangan kakak iparnya.


"Aku yakin, kalau kalian punya anak mama pasti Terima kamu dan anak kamu. Dari dulu mama menginginkan cucu, dan jika kamu memenuhinya mama pasti akan sangat menyayangimu apalagi anak kalian" ucap Ananya meyakinkan kakak iparnya.

__ADS_1


Ananya sangat yakin mengingat Belinda yang menginginkan cucu sampai ingin menjodohkan Arya dengan anak sahabatnya.


"Kalau mama tetap tidak mau menerima bagaimana? Aku tidak ingin anakku merasakan apa yang aku rasakan.


Aku tidak ingin anakku tidak mendapatkan kasih sayang dari omanya. Mungkin aku berlebihan menurut kamu, tetapi jujur aku benar-benar takut. Membayangkan nya saja aku sudah sangat takut.


Jujur aku merasa berdosa karena sudah berprasangka buruk sama mama, tapi aku benar-benar takut anakku nantinya terluka." Jawab Ananya sambil menahan tangisnya.


"Mama pasti akan Terima, aku yakin itu" ucap Ananya terus meyakinkan kakak iparnya itu.


Ananya mengalihkan pembicaraan soal anak dan dia brcerita tentang kuliahnya.


"Udah mau magrib, masuk yuk" ajak Aira kepada Ananya.


Mereka berdua berdiri dari duduknya dan melangkah ke lantai dua sambil bercerita, entahlah mungkin mereka tidak pernah bosan bercerita.


"Aku masuk yah, mau shalat. Kamu juga ambil wudhu gih, terus shalat" pamit Aira sambil masuk ke dalam kamar mereka, sedangkan Ananya hanya menganggukan.


Sebenarnya sudah lama Ananya tidak melakukan kewajibannya ini karena terlalu sibuk mencari cara menyembuhkan hatinya yang sampai sekarang tidak pulih dia tidak tau jika shalat bisa menyembuhkan apapun baik yang terlihat maupun tidak terlihat, tapi dia malah marah kepada Tuhannya karena memisahkan dia dengan kekasihnya. Mungkin dari kalian merasa Ananya telalu lebay, hanya karena pacar Ananya marah, tapi untuk kalian yang pernah merasakan jatuh cinta kalian pasti mengerti rasanya harus melepaskan dengan terpaksa.


***

__ADS_1


Setelah mereka shalat magrib, Aira duduk menjaga suaminya yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.


"Arya" Panggil Aira setelah beberapa menit duduk di samping suaminya.


"Hmmm" Jawab Arya yang masih serius membalas emailnya.


"Arya, aku mau bicara. ini penting" ucap Aira lagi, karena ingin suaminya itu melihat kearahnya. Entah apa yang ingin di bicarakan nya pada suaminya itu.


Arya menoleh melihat wajah serius istrinya, entah ada apa dengan istrinya itu.


.


.


.


.


Hallo kakak-kakak jangan lupa like komen dan vote.


🙏💜🖤

__ADS_1


__ADS_2