MENDUNG DI ATAS LUKA

MENDUNG DI ATAS LUKA
Para 18


__ADS_3

Keesokan harinya


Alea sudah tersadar dia sedang makan bubur di bantu Amanda.


Amanda merawat Alea layak nya seorang Kakak terhadap adiknya, dia sangat menyayangi Alea.


"Mbak..! " panggil Alea.


"Iya, apa ada yang sakit? " tanya Amanda terhadap Alea.


"Aku serahkan yah anak ku agar mbak yang merawatnya! " kata Alea terhadap Amanda.


"Kamu itu ngomong apa sih! " jawab Amanda.


"Aku takut tidak bisa merawatnya dengan baik, lagipula aku juga tidak mungkin terus menerus tergantung pada keluarga mbak" jawab Alea, cairan bening sudah keluar dari ujung matanya.


"Nggak usah mikirin yang aneh-aneh kamu fokus untuk sembuh saja, jika kamu sayang pada kami semua harus berusaha untuk sembuh.Dan melupakan semuanya kami di sini keluarga baru mu yang akan merasakan sakit jika kamu juga sakit, kamu tahu sendiri Mama sangat menyayangi kamu" kata Amanda sambil mengusap lembut rambut Alea.


"Terimakasih banyak ya mbak" kata Alea sambil menggenggam erat tangan Amanda.


"Sama-sama, Boleh nanya sesuatu nggak! dan jika menurut mu bisa di Jawab ya jawab tapi jika itu menyakitkan buat kamu nggak usah di jawab" ucap Amanda sambil menatap lekat wajah Alea.


"Mbak mau nanya apa? " kata Alea.


"Apa kamu masih punya keluarga, dan dia tinggal di mana? apa mereka tidak mencari mu? " tanya Amanda dengan hati-hati sebab dia takut melukai perasaan Alea.


Bukan nya menjawab Alea malah memalingkan pandangan nya ke arah lain.


"Jika itu membuat mu sakit! nggak perlu di jawab, cuma beberapa hari ini mbak melihat kamu seperti merindukan seseorang! jika mbak harap jangan ada yang di sembunyikan, sekarang kita keluarga sudah sepantasnya berbagi cerita baik suka maupun duka" kata Amanda dengan nada bicara yang pelan, tetapi bisa di mengerti oleh Alea.


"Nanti setelah pulang dari sini, aku akan ceritakan semuanya apa yang terjadi dengan ku,sangat berharap setelah ini mbak masih seperti ini tidak ada yang berubah sedikit pun" kata Alea.


"Kamu itu tetap adiknya Mbak, meski kita tidak di lahir kan dari rahim yang sama. Saudara tidak harus sedarah" jawab Amanda dengan lembut.


Setelah beberapa saat mereka berbicara dan Alea juga belum bisa menceritakan keberadaan keluarga nya. Amanda juga menghargai keputusan Alea, lagipula dia juga belum di nyatakan sembuh dari kondisi kejiwaan yang di alaminya.


Rangga masih tertidur di atas sofa yang ada di ruangan tersebut, sebab tadi malam dia tidak tidur sedikit pun.

__ADS_1


Suara derap langkah di depan ruangan sudah terdengar, dan seketika pintu terbuka. Terlihat ada satu dokter dan beberapa perawat datang untuk memeriksa keadaan Alea pada saat ini.


Alea di periksa dan setelah beberapa saat pemeriksaan telah selesai, dan dokter beserta perawat sudah keluar dari ruang perawatan Alea.


Setelah dokter dan perawat keluar,datang Bu Riana dan juga Dea.


"Mama sudah datang! " kata Amanda.


"Iya, sekalian Papa juga mau ke kantor! Rangga belum bangun" kata Bu Riana.


"Dia baru tidur tadi pagi Ma... " jawab Amanda.


"Ya sudah bangunkan Rangga kalian pulang dulu, biar Mama sama Dea yang menjaga Alea" kata sang mertua.


"Dea memangnya hari ini tidak ada kegiatan lain? " tanya Amanda, takutnya adik iparnya ada kegiatan tidak mungkin juga membiarkan Bu Riana hanya bersama Alea tidak ada yang lain.


"Nggak ada Kak, pulang saja! istirahat di rumah biar yang jaga Kak Alea aku sama Mama" jawab Dea.


Setelah beberapa saat Amanda juga membangunkan Rangga, mereka akan segera pulang terlebih dahulu.


Rangga sudah bangun, sebelum pulang Rangga juga pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci muka dan menghilangkan rasa kantuk.


Rangga sudah berada di dalam kendaraan untuk segera sampai di rumah, perjalanan yang di lalui lumayan lama.


Rangga melakukan kendaraan dengan kecepatan sedang, pagi yang begitu indah sang mentari bersinar tanpa malu memancar kan seluruh cahaya.


Cahaya mentari yang mampu menghangatkan kulit, tetapi tidak untuk menghangatkan hati yang sedang gundah.


Setelah cukup lama mereka di perjalanan,kendaraan sudah mendarat dengan sempurna di area pekarangan rumah.Pasangan suami istri itu keluar dari dalam kendaraan dan langsung masuk ke dalam rumah.


*****


Di tempat lain


Seorang lelaki yang sudah tidak lagi muda telah berhadapan dengan seseorang yang telah di perintahkan nya.


"Kamu yakin alamat nya di sini? " tanya Pak Wijaya.

__ADS_1


"Benar tuan, dia lelaki yang berada di dalam CCTV tadi malam" jawab joko, dia seseorang yang di suruh Rangga untuk mencari tahu apa yang terjadi tadi malam sampai Alea histeris kembali.


"Awas kamu memberi kabar salah" kata Pak Wijaya.


"Menurut info yang saya Terima dia itu Ayah tiri dari Non Alea"jawab Joko.


" Yang benar kamu, tapi kenapa Alea bisa histeris seperti tadi malam saat melihat nya "selidik Pak Wijaya terhadap Joko.


" Itu yang sedang kami cari tahu, beri kami waktu sampai besok lusa"Joko meminta waktu lebih banyak untuk menggali informasi tentang latar belakang Alea dan orang yang berada di dalam CCTV.


"Baiklah, silahkan kamu pergi dan cari tahu yang sesungguhnya" jawab pak Wijaya dia mempersilahkan joko untuk meninggalkan ruangan nya.


Joko berpamitan untuk pergi menjalankan misi yang telah di perintahkan oleh Pak Wijaya.


Setelah joko keluar, Pak Wijaya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan pandangan ke atas langit-langit ruang kerja. Tangan satunya memijat pelipis, dia merasakan pusing kepala nya.


Setelah cukup lama Pak Wijaya merenung di dalam Ruang kerja nya, dia di kagetkan dengan terbuka pintu ruangan tersebut.


"Pak bagaimana hasil dari orang yang di suruh mencari tahu latar belakang Alea" tanya Rangga terhadap sang ayah.


"Sudah ada hasilnya tinggal lihat beberapa hari ke depan, dia minta waktu sampai lusa untuk info yang lebih jelasnya! " jawab Pak Wijaya.


"Sukur lah kalau sudah ada info" jawab Rangga.


"Ya sudah silahkan kembali ke ruangan mu, Bapak lagi pusing mau istirahat sebentar! " Pak Wijaya mempersilahkan Rangga untuk keluar dari Ruangan nya.


"Aku pergi ya, apa mau ke dokter? " tanya Rangga terhadap sang Ayah


"Tidak perlu ini hanya butuh istirahat sebentar" jawab sang Ayah terhadap Rangga.


Akhirnya Rangga keluar dari ruangan sang Ayah, Dia berjalan cepat untuk segera sampai di ruangan pribadi nya.


Rangga sudah sampai di ruangan nya, dia langsung menuju kursi kebesaran nya dan memulai aktivitas yang menguras pikiran.


Lembar demi lembar tumpukan kertas yang ada di hadapan nya mulai di periksa.


Waktu bergulir begitu cepat, sudah waktunya seluruh karyawan akan meninggalkan kantor. Sebab jam kerja telah berakhir, begitu juga dengan Rangga.

__ADS_1


Dia segera bergegas keluar dari ruangan untuk segera pulang, sebab dia juga harus ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alea sekarang.


__ADS_2