
Malam hari di keluarga Wijaya
Amanda masih belum tidur, dia menunggu kedalam suaminya pulang kantor.
Amanda duduk di atas tempat tidur, sambil bersandar dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Sejak pulang tadi sore Amanda juga belum keluar dari kamar, hal ini membuat bu Riana dan juga yang lain bertanya-tanya.
Tidak biasa Amanda bersikap seperti ini.
Waktu makan malam keluarga Wijaya sudah tiba, Rangga baru sampai di rumah. Sebelum makan malam berlangsung dia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sang istri sudah menunggu nya dari tadi.
Kegiatan rutin Rangga sudah selesai, dia sudah berganti pakaian untuk segera turun dan bergabung bersama yang lain di meja makan.
Rangga dengan perlahan menuruni anak tangga satu persatu, untuk menuju ke ruang makan sebab Amanda sudah terlebih dahulu turun.
Rangga sudah sampai di ruang makan, di sanah sudah berkumpul semua anggota keluarga termasuk juga Alea.
Semua orang sibuk dengan makanan masing-masing, beda lagi dengan Amanda dia hanya mengaduk-aduk makanan tersebut tanpa memakannya.
Rangga terus memperhatikan istrinya, hingga pada akhirnya dia membuka suara.
"Kenapa cuma di aduk-aduk seperti itu, bukan nya di makan! " kata Rangga sambil menatap lekat wajah sang istri.
"Lagi nggak mau makan, masih kenyang" jawab Amanda tanpa melihat ke arah suaminya.
"Apa kamu sakit! " tanya Bu Riana terhadap sang menantu, dan semua orang yang berada di ruang makan pandangan nya fokus ke Amanda.
"Kamu sakit! " tanya Rangga lagi.
Amanda tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala.
"Makan lah... kasian itu makanan jangan di aduk-aduk saja" perintah Rangga terhadap sang istri.
"Iya" jawab Amanda, lalu menyendok makanan ke mulut nya.
__ADS_1
Acara makan malam sudah selesai,mereka kembali ke ruang keluarga sebab Rangga akan memberitahukan semuanya soal orang yang telah melecehkan Alea. Dan orang tersebut sudah di serahkan ke pihak kepolisian dan kasusnya akan segera di proses.
Setelah berada di ruang keluarga, Rangga menatap lekat wajah Alea. Mungkin ini keputusan yang tepat untuk membuka kasus ini, lagipula Alea sudah lebih baik dan mulai berdamai dengan keadaan.
"Alea, kamu harus siap memberi kesaksian nanti di kantor polisi" Pinta Rangga terhadap Alea.
"Untuk apa? " tanya Alea terhadap Rangga.
"Ngapain juga Alea ke kantor polisi" Amanda ikut menimpali.
"Iya, kamu ini ada-ada saja permintaan nya" Bu Riana juga ikut berbicara.
"Dengerin dulu, belum selesai juga ngomong nya" kata Rangga.
"Ya sudah" kata Bu Riana.
Rangga menceritakan semuanya, apa yang telah terjadi bahkan siapa yang sudah merenggut kesucian Alea, sehingga Alea tidak percaya bahwa Rangga telah mengetahui semuanya tanpa di beri tahu. Ternyata kekuasaan bisa mendapatkan yang di inginkan dengan mudah, Alea tidak bisa berkata apapun apalagi yang menyaksikan di situ.
Mereka merasa kesel terhadap Ayah tiri Alea yang sudah menghancurkan gadis tak berdosa itu.
"Seharusnya Ayah tiri jadi pelindung... lah ini malah menghancurkan masa depan nya, kalau aku jadi ibu mu sudah pasti ku bunuh laki model begitu" Maki Amanda dengan kesal terhadap pelaku pelecehan yang terjadi kepada Alea.
"Kenapa Mama kamu mau nikah sama bajingan seperti itu" tanya Dea sambil menatap lekat terhadap Alea.
"Aku juga nggak tahu, Mama nikah sama bajingan itu saat usiaku sepuluh tahun. Awalnya dia baik seperti Ayah lain nya tapi pas malam itu, Mama lagi nggak di rumah.Dia masuk ke kamar dan mengancam ku Akan membunuh Mama jika berani mengadukan semua yang telah terjadi" jawab Alea dengan suara yang berat menahan tangis, Bu Riana yang duduk di samping Alea langsung merangkul bahunya. Mengelus dengan lembut agar Alea sedikit lebih tenang dan merasa kuat, bahwa sekarang ada keluarga baru yang menyayangi nya.
Tanpa harus memikirkan yang lain.
"Jangan sedih, kita semua di sini ada untuk kamu" kata Amanda juga.
"Pokoknya, kamu harus ceritakan semua nya nanti biar bajingan itu membusuk di penjara. Kalau saja ada di sini sudah pasti ku potong tuh tongkat sakti milik nya" oceh Dea dengan emosi yang meluap, dia. merasakan jengkel terhadap Jamin yang tidak punya Moral itu.
Alea mengangguk pelan, mendengar perkataan dari Dea yang di kuasai luapan emosi.
__ADS_1
"Pa.. kenapa diam saja! nggak merasa jengkel apa sama pelakunya? " tanya Bu Riana terhadap suaminya.
"Terus Papa harus ngapain Ma... kan sudah berada di tangan yang berwajib, kita percayakan saja sama mereka biarkan proses hukum yang berjalan" kata Pak Wijaya.
"Hukum sekarang tidak bisa di percaya, terkadang bisa di beli dengan uang" kata Bu Riana mendengus kesal.
"Kita kan punya banyak uang, sanggup lah beli hukum buat cecunguk satu itu" ucap Pak Wijaya sambil tersenyum tipis, dia berkata seperti itu untuk menghibur sang istri.
Setelah cukup lama perbincangan di antara mereka, dan semua yang ada di ruang keluarga tidak mengetahui bahwa Rangga telah menghajar bajingan itu dengan membabi buta.
Hingga harus di larikan ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum di jemput oleh pihak kepolisian.
Semua anggota keluarga Wijaya telah kembali ke kamar masing-masing, Rangga dan Amanda sebelum naik ke kamar. Mereka pergi ke kamar bayi Alea yang masih harus mendapatkan perawatan, setelah melihat bayi tersebut. Rangga dan Amanda segera menuju kamarnya, untuk melupakan sejenak semua beban yang ada dengan tertidur. Sebab tidur bisa meringankan beban yang ada, setidaknya lupa sesaat meskipun setelah bangun sudah menanti.
Setelah sampai di dalam kamar, Amanda duduk dan menatap lekat wajah suaminya dia menunggu Rangga jujur atas darah yang ada di kemeja nya. Meskipun kemarin bilang nya habis menolong orang kecelakaan tetapi Amanda tidak percaya, apalagi sekarang sudah tahu bahwa pelaku pelecehan Alea sudah di temukan. Sudah bisa di simpulkan bawa darah tersebut ada kaitannya dengan orang itu.
"Mas... nggak lagi berbohong kan sama aku, atau menutupi sesuatu? " tanya Amanda mantap lekat wajah suaminya, dia mencari kebenaran lewat tatapan itu.
"Maksudnya" tanya balik Rangga.
"kemarin malam, nyampe ke rumah larut malam dan ada bercak darah di kemeja mu apa itu ada hubungan nya dengan orang tersebut" tanya Amanda lagi.
Rangga menjadi salah tingkah saat sang istri bisa mengaitkan rentetan kejadian yang telah lalu.
"Aku nggak bohong sayang.. orang tersebut di temukan berkat pencarian dari orang suruhan Papa" jawab Rangga.
"Tapi kamu yang menghajar orang itu" kata Amanda lagi sambil menatap lekat wajah suaminya.
"Nggak ko cuma sedikit memberi pelajaran untuk dia" jawab Rangga.
"Sudah lah yuk kita tidur, sudah malam juga" ajak Rangga terhadap sang istri.
Baru juga Rangga akan naik ke atas tempat tidur, mata nya melihat amplop coklat yang ada di atas nakas. Dia mengambil nya dan lalu membuka terus di baca, sungguh dia merasa kaget setelah membaca itu semua.
__ADS_1
"Sayang....! " hanya itu yang terucap dari bibir Rangga.