
Keesokan harinya.
Seperti biasa keluarga ini selalu sarapan sebelum memulai aktivitas mereka di luar rumah.
Tetapi Alea tidak ikut sarapan bersama mereka dengan alasan lagi tidak enak badan.
"Alea mana?ko nggak ikut sarapan bareng" tanya Rangga.
"Katanya lagi nggak enak badan, nanti suruh Bibi saja anterin makan ke kamarnya" jawab Amanda sambil mengisi piring suaminya dengan menu sarapan pagi.
"Owhh" hanya itu yang terucap dari bibir Rangga, dan dia mulai menikmati sarapan paginya.
"Mulai hari ini Mama akan kembali ke rumah yang di sanah, sudah lama juga nggak di tempati" kata Bu Riana.
"Kenapa tiba-tiba Mama mau balik lagi ke rumah yang di sanah" tanya Rangga.
"Ya nggak apa-apa, lagipula dari dulu Papa kamu nggak mau di ajak tinggal di sini" jawab Bu Riana.
"Yakin nggak ada apa-apa Ma..? " tanya Amanda.
"Nggak ada, tapi jika Alea ingin tinggal bersama Mama kalian jangan melarang nya kan di sini sudah ada Dea.Biar Alea tinggal bersama Mama di sana" kata Bu Riana.
"Tapi Ma,bagaimana dengan Gani dia bakal nyari-nyari aku nanti! kan kebiasaan nya kalau mau tidur mesti bareng aku" kata Amanda.
"Nanti juga lama-lama terbiasa" kata Bu Riana.
"Ya nggak bisa gitu, Ma.. " jawab Amanda.
"Kan sebentar lagi Rangga akan menikah dengan Alea, tidak mungkin juga dua istri tinggal dalam satu rumah" jawab Bu Riana.
"Aku nggak bisa kalau harus jauh sama Gani! " kata Amanda sambil menatap lekat wajah Ibu Mertua nya.
"Kamu bisa datang kapan saja ke rumah Mama, lagipula nggak jauh juga" jawab Bu Riana.
"Ya sudah terserah Mama saja! " akhirnya Amanda menyerah, apa yang di omongkan mertuanya ada benarnya juga. Mungkin bagi dia tidak masalah jika harus tinggal bersama Alea, meski sudah berubah status menjadi madunya tetapi apa Alea bisa melakukan nya.
__ADS_1
"Nanti Pak sopir saja yang antar ya, aku ada pekerjaan yang nggak bisa di tinggalkan hari ini dan Papa juga" kata Rangga.
"Mama akan di antar sama Dea, dia katanya lagi nggak ada jadwal di kampus nya" jawab Bu Riana sambil menatap ke arah Dea.
"Oh iya, kalau Alea masih nggak enak badan tolong telepon dokter Firman saja! " perintah Rangga terhadap Amanda.
Semenjak hari itu, Rangga menjadikan Firman sebagai dokter keluarga Wijaya.
Setelah beberapa saat kegiatan mereka di ruang makan juga sudah selesai, dan Rangga beserta Pak Wijaya akan segera berangkat ke kantor dengan menggunakan kendaraan yang berbeda.
Setelah Pak Wijaya dan juga Rangga berangkat ke kantor, tinggal Bu Riana dan juga Amanda yang berada di rumah.
"Mama yakin ingin kembali ke rumah? " tanya Amanda lagi terhadap Ibu mertuanya.
"Mama yakin! " jawab Bu Riana sambil tersenyum menatap lekat wajah Amanda.
"Ya sudah, Ma... aku liat Alea dulu sekalian mau telepon dokter Firman" kata Amanda sambil berlalu pergi meninggalkan Bu Riana yang masih berada di ruang tengah.
Setelah Amanda pergi meninggalkan nya, dia juga langsung pergi untuk segera menuju kamarnya untuk segera berkemas. Meski tidak banyak barang yang akan di bawa tetap saja harus berkemas.
Setelah beberapa saat pintu kamar sudah terbuka, dan Alea sendiri yang membuka pintu.
"Baik-baik saja kan? " tanya Amanda terhadap Alea.
"Nggak apa-apa ko hanya pusing sedikit" jawab Alea.
"Ya sudah istirahat saja, dan tunggu sebentar lagi dokter Firman datang itu makan nya jangan lupa di makan! " perintah Amanda terhadap Alea sambil melirik ke arah meja dan ternyata makanan yang di bawa pelayan masih utuh.
"Iya, Mbak... " jawab Alea sambil tersenyum tipis.
"Jangan lupa di makan! mbak ke kamar Gani dulu yah" kata Amanda, dia langsung pergi berlalu meninggalkan kamar Alea.
Setelah Amanda pergi, Alea menutup kembali pintu kamar ya dan duduk di sofa yang ada di pojok kamarnya sambil menatap makanan yang ada di hadapan nya. Sungguh rasanya ingin muntah melihat makan itu, Alea tidak ingin makan dan melakukan apapun. Pikiran nya puyeng melayang ke mana-mana.
Alea terus mengaduk-aduk makanan tanpa memakannya, setelah beberapa saat dia bangkit dari duduk nya dengan niat ingin pergi ke taman belakang.
__ADS_1
Baru akan membuka pintu, dan ternyata sudah ada yang mengetuk nya dari luar.
Alea langsung membuka pintu dan ternyata yang datang dokter Firman.
"Selamat pagi" sapa dokter Firman
"Pagi juga, ada apa ko ke sini nggak ngabarin terlebih dahulu" kata Alea.
"Kan di telepon Kak Manda, katanya kamu sakit" jawab dokter Firman sambil menatap lekat wajah Alea.
"Hanya pusing saja, mereka heboh baru sakit kepala juga seperti sakit parah saja" kata Alea.
"Mereka itu sangat sayang sama kamu, jadi menghawatirkan keadaan mu"
"Sudah di bilang juga dari tadi tidak apa-apa" ucap Alea sambil menggerutu, sebetulnya tidak perlu harus memanggil dokter segala.
"Kamu nggak suka aku datang ke sini? " tanya dokter Firman.
"Ya nggak begitu juga" jawab Alea.
"Lalu kenapa wajah mu masih seperti itu" kata dokter Firman, sambil mengacak rambut Alea dengan kasar.
"Yuk kita duduk di sanah! " ajak Alea terhadap dokter Firman untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Ya sudah... udah sembuh kan sakitnya nggak perlu di periksa! lagipula obatnya sudah datang" goda dokter Firman terhadap Alea, seketika wajah nya berubah menjadi merah merona saat mendengar perkataan dokter Firman.
"Ngomong apa sih" jawab Alea sambil memalingkan pandangan nya ke arah lain.
Mereka berdua berjalan beriringan untuk menuju ruang tamu, setelah beberapa saat kedua orang itu sudah sampai di sana.
Dan Alea mempersilahkan dokter Firman untuk duduk di sofa yang ada di sanah.
"Mau minum apa? " tanya Alea terhadap dokter Firman.
"Astaga masih nanya, kan sudah tahu biasanya minum apa"
__ADS_1
"Siapa tahu sudah ganti minuman kesukaan nya, ya sudah tunggu sebentar aku ambil minum dulu" kata Alea, sambil bangkit dari duduknya lalu pergi untuk segera menuju dapur dan membuat minum untuk dokter pujaan hati, meski mereka sebentar lagi akan ada jarak.