
Di saat mereka sedang berbincang tiba-tiba pintu kamar pun terbuka dengan cepat, terlihat dua lelaki berdiri di depan pintu dengan deru nafas yang cepat.
"Mama baik-baik saja kan? " tanya Rangga sambil mendekat ke arah sang Mama dan memperhatikan seluruh anggota tubuh nya.
"Mama nggak apa-apa, cuma mau bilang ini Ghia sudah pulang" kata Bu Riana sambil menunjuk ke arah Alea.
Pak Wijaya pun tidak bisa berkata apapun dia hanya menatap Alea sekilas lalu duduk di samping sang istri.
"Ma sudah lah... mau sampai kapan seperti ini! ingat masih ada Dea dan juga Rangga. Sudah lima belas tahun loh, waktu yang cukup lama untuk Mama bisa menerima kenyataan" kata Rangga sambil mengelus tangan sang Mama.
"Kalian ini ngomong apa sih... bukan nya di sambut Ghia pulang malah bicara seperti ini" jawab Bu Riana.
"Ayolah Ma... dia itu Alea bukan Ghia,jangan pernah bilang semua anak perempuan itu dia yang telah pergi, ikhlas kan dia agar bisa tenang" kata Pak Wijaya mempertegas ucapan nya.
"Kalian ini kenapa sih nggak pernah percaya dengan ucapan ku, dan kamu juga Rangga anak Mama seharusnya kamu percaya dengan yang di ucapkan" kata Bu Riana mulai meninggi suaranya.
"Bukan nggak percaya Ma... tapi dia itu Alea namanya jangan suka ganti-ganti nama orang" jawab Rangga dengan nada bicara yang lembut, agar sang Mama bisa memahami maksud dari perkataan nya.
Alea yang menyaksikan itu semua hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Kejadian seperti ini bagi Bu Riana bukan untuk pertama kalinya, bahkan jika pergi ke luar dan bertemu orang banyak pasti ada saja anak gadis orang yang di panggil Ghia dan harus ikut pulang bersama nya.
"Sekarang kalian berdua harus percaya bahwa dia itu Ghia" ucap Bu Riana sambil menatap ke arah Rangga dan juga Pak Wijaya dengan bergantian.
"Iya, percaya... tapi ada syarat nya? " kata Pak Wijaya.
"Apa itu syarat nya? " tanya Balik Bu Riana.
__ADS_1
"Jangan paksakan Ghia untuk tinggal di sini ya, biarkan tinggal bersama Rangga dan juga Amanda" kata Pak Wijaya sambil menatap lekat wajah sang istri, sudah pasti setelah ini istri nya akan memaksa Alea untuk tinggal di rumah ini. Sedangkan Alea atau pun Bu Riana memiliki penyakit yang sama, jadi tidak ada yang akan merawat Alea.
"Kan sudah ada Dea yang tinggal bersama mereka, masa Ghia juga harus tinggal di sana juga! " jawab Bu Riana.
"Mama kan belum sembuh dan Ghia juga masih harus mendapatkan pengobatan, jadi kalau tinggal di sini siapa yang akan menjaga Ghia saat Papa ke kantor! " kata Pak Wijaya dengan nada suara yang sangat lembut, sungguh suami yang sangat mencintai istrinya. Selama lima belas tahun Pak Wijaya selalu sabar menghadapi istrinya yang mempunyai gangguan mental.
Terkadang dia yang merasa bersalah ketika harus melihat istrinya seperti ini, andai saja waktu itu dia tidak lalai dalam berkendara mungkin saja istrinya tidak pernah mengalami hal seperti ini. Hingga Dea yang menjadi korban tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ibu.
"Nanti kalau sudah sembuh boleh ko Ghia tinggal di dini bersama Mama! " kata Rangga ikut menimpali ucapan sang Ayah.
"Ya sudah kalau begitu kita makan siang bersama, mumpung Ghia juga ada kita sudah lama tidak kumpul seperti ini" kata Bu Riana dengan raut wajah sangat gembira, sudah sejak lama tidak ada pancaran kebahagiaan di wajah sang Mama. Semoga saja kehadiran Alea bisa menyembuhkan Bu Riana.
Mereka semua keluar dari kamar untuk segera menuju ruang makan.
Setelah beberapa saat mereka sudah berkumpul di meja makan hanya saja ada yang kurang.
Amanda sangat menghawatirkan keadaan Dea, pasti anak itu merasa sedih. Sebab Dea selalu berfikir bahwa sang Mama tidak pernah menyayangi dirinya.
"Tunggu sebentar aku panggil dulu " kata Rangga sambil bangkit dari duduknya, dia berjalan perlahan untuk segera pergi ke kamar Dea.Sudah bisa du pastikan anak itu sedang menangis di dalam pelukan Amanda, memang Amanda itu istri dan menantu yang sangat baik bisa menguras suami keluarga dan juga bisa mengayomi.
*****
Di kamar Dea sedang menangis sambil mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya.
Amanda tidak sedikit pun melarang nya, dia membiarkan Dea menangis sampai puas bahkan memberikan ruang untuk bisa melampiaskan kekesalan nya.
Setelah cukup lama Dea menangis di dalam pelukan sang kaka ipar, tangisan Dea sudah mulai mereda dan sudah sedikit lebih tenang.
__ADS_1
"Masih mau menangis? " tanya Amanda sambil menatap lekat wajah Dea yang mulai sembab di akibatkan karena menangis.
Dea pun tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepala nya.
"Jika belum puas maka menangis lah, tapi kamu harus janji setelah ini kakak nggak mau lagi melihat kamu menangis seperti ini, kamu juga harus ikhlas menerima kenyataan dan sikap Mama yang seperti itu, sudah tahu kan apa yang terjadi dengan nya. Dia bukan tidak menyayangi kamu hanya saja keadaan yang memaksakan dia menjadi seperti itu! " kata Amanda dengan nada suara yang sangat pelan tetapi mampu di pahami oleh Dea.
"Iya kak" Jawab Dea sambil mengangguk pelan dan suara segukan akibat menangis pun masih terdengar.
"Jika sudah lebih tenang, cuci muka dulu terus kita turun pasti sudah di tunggu di bawah" kata Amanda.
Dea pun mengusap air mata yang masih mengalir dengan tangannya, lalu bangkit dari tempat tidur untuk segera menuju kamar mandi.
Dia akan segera mencuci wajahnya agar tidak terlalu terlihat jika dirinya telah menangis.
Di saat Dea sedang berada di dalam kamar mandi pintu kamar pun terbuka, terlihat dengan jelas seorang lelaki dewasa yang memiliki postur tubuh yang tinggi sedang berdiri di depan pintu. Dia sebelum masuk menelisik ke setiap sudut ruangan seperti ada yang di cari.
"Mencari apa mas...? " tanya sang istri terhadap suami.
"Dea mana? " tanya Rangga sambil berjalan perlahan mendekat ke arah sang istri.
"Lagi bersih-bersih di kamar mandi" jawab Amanda.
"Tapi dia nggak apa-apa kan? " tanya Rangga lagi.
"Sekarang sudah lebih tentang ko! " Jawabnya lagi.
"Syukur lah jika dia tidak kenapa-kenapa, menang kamu itu istri terbaik... terimakasih banyak telah menerima semua keluarga ku dengan segala kekurangan nya" kata Rangga sambil menatap lekat wajah sang istri.
__ADS_1
"Kamu itu ngomong apa sih mas... sudah kewajiban seorang istri berbakti terhadap suaminya, seharusnya aku yang minta maaf belum bisa memberikan kamu keturunan" ucap Amanda dengan wajah sendu.