
"Siang, dia siapa? " jawab sang mertua sambil melihat ke arah sumber suara, dan bertanya.
"Kenalin Ma, dia Namanya Alea... gadis yang tempo lalu mas Rangga selamatkan" jawab Amanda sambil mendekat ke arah sang mertua.
Bu Riana menatap lekat wajah Alea, sambil tersenyum tipis"silahkan duduk dulu"Bu Riana mempersilahkan Alea untuk duduk, ini adalah untuk pertama kalinya Bu Riana merespon baik tamu yang datang ke rumah ini. Biasanya juga dia tidak pernah perduli terhadap siapa pun yang datang, bahkan terkadang dia seolah tidak melihat dan mendengar apa yang ada di sekitarnya.
"terimakasih Bu.. " jawab Alea sambil tersenyum tipis ke arah Bu Riana.
Alea dan Amanda pun duduk di sofa yang ada di kamar, Bu Riana pun menghentikan aktifitas nya lalu turun dari tempat tidur terus berjalan ke arah Alea dan juga Amanda.
"Nama mu Alea kan? " tanya Bu Riana terhadap Alea.
"Iya, Bu! " jawab Alea sambil mengangguk.
"Kamu itu sudah lama Mama tunggu kenapa baru pulang sekarang" kata Bu Riana terhadap Alea sambil menatap dengan lekat.
Alea yang mendengar Bu Riana berbicara seperti itu heran, padahal bertemu juga baru kali ini kenapa Bu Riana bicara seperti itu.
"Ma... dia itu Alea! " kata Amanda, dia sudah melihat dengan jelas kebingungan di wajah Alea.
Mungkin Amanda juga akan merasa pusing dengan bertemu nya Alea dengan sang Mama mertua, yaitu dua orang yang mengalami hal yang sama.
Alea dengan keadaan seperti sekarang akibat di renggut paksa kesucian nya oleh ayah tirinya, sehingga dia depresi seperti saat ini.
Sedangkan Bu Riana mengalami hal yang sama yaitu akibat di tinggal sang putri yang baru berusia lima tahun pada saat itu, dan sampai sekarang dia belum bisa berdamai dengan keadaan.
"Dia itu anak Mama, apa kamu lupa? kan Mama punya tiga anak dua perempuan dan satu laki-laki" kata Bu Riana sambil menatap lekat wajah sang menantu.
Amanda yang mendengar itu semua lebih baik mengiyakan semua perkataan nya.
"Iya, dia anak Mama juga!" kata Amanda.
"Sekarang sudah ingat kan, bahwa dia juga anak Mama" kata Bu Riana lagi.
"Mulai saat ini, kamu jangan pergi lagi yah... Mama selalu sendiri di sini! sekarang Rangga sudah punya Rumah dan Dea juga tinggal di sanah. Kamu jangan tinggal di sanah juga yah, tinggal di sini saja sama Papa dan Mama" kata Bu Riana.
__ADS_1
Alea pun tidak menjawab apa yang di katakan Bu Riana, dia malah menatap ke arah Amanda dan Amanda pun mengisyaratkan agar Alea mengiyakan saja apa yang di ucapkan mertuanya. Alea pun mengikuti apa yang di perintahkan Amanda.
"Iya Bu... saya tidak akan pergi ke mana pun dan akan tinggal bersama selamanya" jawab Alea dengan ragu sebab dia juga tidak mengerti apa yang di ucapkan Bu Riana.
Setelah beberapa saat mereka berbincang di dalam kamar, dan Bu Riana tetap kekeh terhadap pendirian nya bahwa Alea itu anaknya.
"Apa kalian sudah makan siang?" tanya Bu Riana.
"Belum ma... " jawab Amanda.
"Kita makan bersama yuk, Mama sudah lama sekali merindukan makan bersama. Coba telepon Ayah mu dan Rangga bilang suruh pulang sama Mama ada hal penting yang ingin di bicarakan! " perintah Bu Riana terhadap menantunya itu
"tapi, Ma... Papa sama Mas Rangga kan lagi di kantor! " jawab Amanda dengan ragu, sebab Rangga paling tidak suka jika di ganggu saat jam kantor.
"Telepon saja nanti Mama yang bicara! " perintah sang mertua.
Setelah beberapa saat Amanda pun diam sejenak, setelah itu mengambil ponsel nya lalu mulai mengusap layar ponsel dan menghubungi suaminya.
Setelah beberapa saat panggilan pun tersambung.
"Ada apa dengan Mama? " tanya Rangga.
"Pokoknya, Papa dan kamu Mas... di tunggu sekarang" kata Amanda.
Tanpa ada jawaban lagi panggilan pun sudah berakhir.
"Terimakasih banyak, memang kamu itu menantu terbaik" kata Bu Riana.
Mereka masih asik berbincang dan Bu Riana terus berpikir bahwa Alea itu anaknya.
Percakapan mereka pun di buyar kan oleh suara seseorang yang memangil Amanda.
"Ka Manda? " panggil Dea dari luar kamar, sebab dia sudah tahu dari pelayan bahwa Amanda sudah datang me jemput nya.
"Iya" jawab Amanda dari dalam kamar.
__ADS_1
Dea pun langsung masuk ke dalam kamar sang Mama, dia baru pertama kali bertemu dengan Alea. Meskipun Amanda sering bercerita tentang Alea terhadap dirinya lewat panggilan telepon.
"Ka.. dia siapa?" tanya Dea, sambil melihat ke arah Alea.
"Astaga Dea.. bagaimana sih kamu ini, dia itu kakak kamu masa lupa" kata sang Mama sambil menatap heran terhadap Dea.
"Kakak yang mana Ma...? " tanya Dea terhadap sang Mama.
"Iya, Ma... mungkin Dea sedikit lupa" Amanda menyela pembicaraan mertuanya dan Dea.
Amanda pun memberi isyarat agar Dea mengikuti apa yang di ucapkan sang Mama.
Dea duduk di samping sang Mama lalu menggenggam tangan nya.
"Ma... sampai kapan akan terus seperti ini dan terus berpikir bahwa semua anak perempuan yang datang ke rumah ini adalah kak Ghia"kata Dea sambil menatap lekat wajah sang Mama, sungguh dia merasakan selama ini Dea tidak mendapatkan kasih sayang seorang Mama, sebab yang ada di pikiran sang Mama itu hanya Ghia.
" Kamu itu bicara apa sih, dia itu kakak kamu "jelas Bu Riana, dengan nada bicara yang sedikit meninggi.
" Sudah, Dea... !"kata Amanda memperingatkan adik ipar nya itu agar berhenti bicara dan jangan memaksa apapun terhadap sang Mama, sebab itu semua bisa mengakibatkan hal fatal. atau bisa saja Bu Riana kembali histeris seperti dulu.
"Memang dari dulu Mama itu tidak pernah menyayangiku" kata Dea sambil melepaskan genggaman tangan nya, lalu bangkit dari duduk nya dan pergi keluar kamar meninggal kan semua yang ada di sanah.
Melihat Dea seperti itu, Alea pun merasa semakin bersalah sebab karena kehadiran nya di rumah ini. Bu Riana menganggap dia itu anaknya.
"Mbak bagaimana ini? " tanya Alea terhadap Amanda.
"Biarin aja dulu, paling juga ngambek nya sebentar nanti Mas Rangga yang akan membujuk nya" jawab Amanda.
"Tapi nggak apa-apa mbak di biarin! kalau tambah ngambek nanti bagaimana? " kata Alea.
"nggak masalah, saya sudah tahu cara membujuk nya sebab dari kecil saya yang merawatnya jadi paham betul sifatnya seperti apa" jawab Amanda.
"Maaf ya mbak... ini semua gara-gara saya jadi seperti ini" kata Alea sambil menundukkan kepala nya, dia berpikir bahwa dirinya sumber masalah yang terjadi pada saat ini.
"Nggak harus minta maaf toh ini bukan salah kamu juga, mungkin lagi sensitif saja perasaan Dea pada saat ini! " kata Amanda berusaha untuk menenangkan Alea.
__ADS_1
Di saat mereka sedang berbincang tiba-tiba pintu kamar pun terbuka dengan cepat, terlihat dua lelaki berdiri di depan pintu dengan deru nafas yang cepat.