
Satu minggu telah berlalu setelah mendapatkan pengobatan dari dokter Firman.
Keadaan Alea pun berangsur-angsur membaik, Amanda dan juga Rangga selalu berada di samping Alea agar wanita itu kuat menghadapi kenyataan.
Alea sekarang sudah mulai mau berbicara meskipun hanya sedikit, dia juga sudah mau keluar kamar meski hanya sekedar hanya duduk di taman belakang.
"Lea... sini dulu! " Panggil Amanda, dia selalu mengajak Alea dalam mengerjakan apapun. Sebab dengan cara seperti ini Alea juga tidak terfokus dengan semua masalah nya.
"Iya mbak, tunggu sebentar " jawab Alea dari arah kamar nya.
Setelah beberapa saat Alea keluar dari kamar, dengan mengenakan pakaian hamil. Beberapa hari lalu Ananda membelikan banyak sekali baju-baju untuk Alea gunakan. Dia sangat menyayangi Alea seperti juga Rangga yang menyayangi, dia yang selalu berharap ingin mengandung tetapi Tuhan belum juga mempercayai nya untuk itu. Dengan kehadiran Alea di antara mereka,Amanda selalu berfikir positif bahwa ini semua rencana sang Maha Kuasa.
"Nah keliatan lebih cantik kan jika menggunakan pakaian seperti ini" kata Amanda sambil menatap Alea sambil tersenyum tipis.
"Terimakasih banyak ya mbak... sudah menerima ku dengan baik, ternyata yang menolong ku dalam keadaan seperti ini yang bukan siapa-siapa" kata Alea sambil menunduk.
Amanda yang tahu betul perasaan Alea pada saat ini, langsung memeluk gadis itu sambil berkata "mulai sekarang kita keluarga, jadi kalau ada masalah apapun jangan sungkan untuk cerita" kata Amanda sambil mengelus punggung Alea.
"Eh kita jemput Dea yuk! katanya dia pulang ke rumah ini tapi minta di jemput, mobil nya di bengkel? " ajak Amanda terhadap Alea, mungkin dengan cara seperti ini bisa mempercepat kesembuhan Alea.
"Dea itu siapa mbak? " tanya Alea terhadap Amanda.
"Eh iya sampai lupa, Dea itu adik bungsu mas Rangga! sejak Mama sakit dia sudah tinggal di rumah ini" jawab Amanda.
"Mamanya Pak Rangga sudah lama sakit nya yah mbak? " tanya Alea terhadap Amanda.
"Mama sakit setelah kehilangan Kakak nya Dea hilang" Jawab Amanda.
"Hilang maksudnya! " tanya Alea.
__ADS_1
"Setelah tragedi di lima belas tahun lalu, mbak juga pada saat itu belum menikah sama mas Rangga. Dari situ Mama mulai sakit-sakitan, Mama belum bisa menerima kenyataan bahwa dia telah pergi untuk selamanya" jawab Amanda.
"Kasihan juga ya" ucap Alea.
"Makanya kamu harus sembuh, agar bisa menjaga anak kamu dengan baik. kamu juga perempuan yang sangat beruntung bisa hamil meskipun dengan cara seperti itu, dari sini juga kamu bisa mengambil hikmah bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan" kata Amanda.
"Iya, mbak.. aku juga mau sembuh dan terimakasih banyak untuk semuanya! " ucap Alea.
"Sudah lah, jangan terimakasih terus kapan berangkat nya kita! " ucap Amanda sambil menggandeng tangan Alea untuk segera keluar rumah, mereka akan segera pergi menjemput Dea.
Amanda membuka pintu kendaraan yang akan mereka tumpangi, dia sudah terbiasa mengendarai mobil sendiri dan jarang sekali menggunakan jasa sopir. Terkadang Rangga juga merasa kesal terhadap istrinya, dia sudah menyiapkan sopir tetapi Amanda tidak mau dengan Alasan tidak mau di tunggu saat pergi ke mana pun.
"Silakan duduk! " Amanda mempersilahkan Alea untuk duduk di kursi samping pengemudi, sebab dia sendiri yang akan mengemudikan mobil tersebut.
"Iya, " jawab Alea sambil masuk ke dalam kendaraan lalu duduk.
Kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang, membelah keramaian kota di siang hari. Jalanan yang di padati kendaraan itu menambah indah suasana perjalanan, kendaraan dari berbagai jenis berjalan di posisinya masing-masing. Hingga perjalanan pun lancar tanpa hambatan apapun, Alea terus menatap keluar jendela.
Terus berpikir apakah sang Mama segitu tidak perduli nya, sehingga tidak ada mencari nya.
Amanda sesekali melirik ke arah Alea yang terus terdiam, tidak ada kata yang keluar dari bibir Alea.
"Apa kamu menginginkan sesuatu? " tanya Amanda.
Seketika Alea pun menoleh ke arah sumber suara "tidak" jawab Alea singkat.
"Bukan nya ibu hamil itu suka ngidam! jika kamu ingin sesuatu jangan sungkan untuk bilang sama mbak ya... takut anak mu ngeces nanti jika Mamanya ngidam tidak kesampaian! " kata Amanda sambil tertawa kecil, dia berusaha untuk mengajak Alea untuk berbicara lebih lanjut. Agar tidak bengong terus menerus.
"Aku tidak ingin apapun , jangan khawatir nggak akan ngeces ko! " jawab Alea sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Mungkin saja Rangga jika bertanya pada Alea siapa yang menghamili nya, sudah bisa menjawab tetapi itu semua tidak mereka lakukan. Rangga dan Amanda memberikan ruang bagi Alea agar dia bercerita sendiri tanpa di minta, mereka takut salah bicara dan melukai perasaan Alea.
Perjalanan pun sudah cukup lama, kendaraan yang mereka tumpangi sudah memasuki area perumahan mewah.
Setelah beberapa saat kendaraan pun berhenti di salah satu rumah berlantai dua, sang penjaga pun sudah membuka pintu gerbang dan kendaraan berhenti di depan rumah.
"Kita sudah sampai!" kata Amanda sambil membuka sabuk pengaman, lalu keluar untuk membuka pintu samping dan mempersilahkan Alea untuk turun.
"Ayok turun! " ajak Amanda terhadap Alea.
"Aku takut mbak... " kata Alea sambil menunduk dan meremas ujung baju.
"kenapa harus takut, kan ada mbak bersama kamu... ayok" Ajak Amanda sambil meraih tangan Alea, setelah membuka sabuk pengaman.
Setelah di bujuk akhirnya Alea pun turun dari mobil lalu mengikuti Amanda untuk segera masuk ke dalam rumah, setelah mereka berada di dalam langsung di sambut kedatangan mereka oleh pelayanan yang ada di rumah itu. Amanda di kenal di rumah ini orang yang sangat baik dan tidak membedakan kasta antara dirinnya dan para pelayanan.
"Selamat siang Bu...! " sapa salah satu pelayanan yang menyambut kedatangan nya.
"Siang juga Bi... Dea di mana?" tanya Amanda terhadap pelayanan tersebut.
"Non Dea di kamar atas, baru saja tadi keluar dari kamarnya Nyonya besar" jawab nya.
"Baiklah Bi... saya ketemu Mama dulu yah" kata Amanda sambil mengajak Alea untuk segera pergi dan menuju Kamar sang ibu mertua.
Setelah beberapa saat Amanda pun sudah sampai di depan pintu kamar sang ibu mertua, dengan perlahan dia membuka pintu kamar lalu masuk dengan perlahan di ikuti Alea dari belakang.
"Siang Ma...? " Sapa Amanda terhadap sang Mama mertuanya yang sedang merajut pakaian bayi, sebab itu kegiatan sehari-hari nya. Dia selalu berfikir bahwa anak nya yang meninggal pada saat kecelakaan waktu lima belas tahun lalu,akan datang kembali dan akan mengenakan pakaian yang di buatnya. Berbagai cara telah di tempuh untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik dan sembuh, tetapi sampai sekarang masih ketergantungan dengan obatan, terkadang menangis histeris memangil nama anaknya.
"Siang, dia siapa? " jawab sang mertua sambil melihat ke arah sumber suara, dan bertanya.
__ADS_1