
Sandy membawa Adila ke ruangan Saka. Akan tetapi terjadi insiden penolakan lagi terhadap, Adila.
"Pah, jangan bawa aku bertemu dengan papah biologis ku. Karena dia sudah menolakku," pintanya memelas.
Namun Sandy tetap menuntun tangan Adila, hingga ia tak bisa berkutik sama sekali.
"Sayang, kamu nggak usah takut kan ada papah. Papah kandungmu nggak akan kasar padamu," Sandy mencoba menghibur Adila dan menenangkan hati anak kecil itu yang sedang terlihat sangat cemas.
Adila hanya mengangguk pelan, tanpa sepatah kata pun.
Mereka masuk ke ruangan Saka yang kebetulan terbuka lebar.
"Sandy, untuk apa kamu bawa anak itu kemari?" tanya Saka menatap tak suka pada Adila.
"Ka, jawab dengan jujur. Apakah Adila ini anak kandungmu?" tiba-tiba Sandy langsung saja melontarkan pertanyaan.
"Dimana kamu bertemu dengannya? hingga kamupun menyangka aku ini ayahnya?" Saka malah balik bertanya.
Sandy menarik tangan Saka menjauh dari Adila.
"Ka, coba kakak ingat lagi dengan para wanita yang telah kakak tiduri! dan kakak lihatlah dengan seksama wajah Adila. Aku saja baru pertama kali melihatnya sudah menebak wajahnya itu mirip sekali masa kecilmu!" bisik Sandy.
Saka tak menjawab, ia pun menghampiri Adila," siapa nama ibumu di mana alamat rumahmu?"
Mendengar pertanyaan dari Saka, Adila hanya diam saja karena dia ingat betul dengan pesan Nayla.
"Bagaimana ini, mamah melarang aku untuk tidak berurusan dengan Papah Saka. Jika aku jujur pasti papah akan mendatangi mamah. Iya kalau ia mau akui aku, tapi jika tidak... Lagi pula jika memang dia sayang aku pasti tidak akan membiarkan aku dan mamah menderita," batin Adila.
Melihat Adila hanya diam membuat Saka kesal.
"Heh, kenapa kamu malah diam saja?" tanyanya membuyarkan lamunan Adila.
"Kebetulan mamahku sedang ada di luar negeri, jadi dia tak bisa di hubungi," ucap Adila berbohong.
Hal ini membuat Sandy gemas dan kesal.
__ADS_1
"Aduh, kenapa Adila tak mengatakan sejujurnya pada Ka Saka?" batinnya kesal.
"Jika Ka Saka tidak bisa menghubungi ibunya, ia tidak akan tahu siapa itu Adila. Apa yang bisa ia lakukan? Bagaimana pun ia tidak ingin menjadi ayah dari seorang anak yang aneh, yang muncul mendadak," batin Sandy.
"Oh ya, pasti Adila sudah di nasehati oleh Nayla. Makanya dia menutupi jati diri ibunya," batin Sandy lagi.
Ia telah menduganya tapi kembali lagi ia ingin mendengar jawaban dari kakaknya.
"Ka, lihat baik-baik anak ini mirip sekali denganmu. Masih saja kamu tak akui dia? apakah dia itu anakmu?"
"Bukan, dia bukan anakku!" bantah Saka.
"Benar," jawab Adila.
Keduanya bebarengan dalam berkata.
Sambil cemberut, Adila menatap Sandy dan berkata dengan suara sedih," Papah Sandy, dia benar-benar papah kandungku. Percayalah padaku, aku tidak bohong."
Melihat expresi wajah Adila, Sandy menjadi tidak tega. Dia mengelus kepala gadis itu penuh sayang.
"Dila, papah percaya padamu."
"Kamu ini ngomong apa, Sandy. Kenapa kamu malah percaya padanya? kamu lihat sendiri, sama kamu juga ia panggil papah kan? pasti semua pria yang ia temui juga ia panggil papah! atau mungkin yang pernah bersama ibunya banyak hingga ia pun bingung mengetahui mana Papahnya!"
Mendengar ucapan Saka, Adila sangat kesal.
"Jangan tuduh mamahku seperti itu! mamah orang baik tidak serendah yang papah katakan! jika tak mau akui aku ya sudah tak apa-apa! aku memanggil Om Sandy Papah karena memang aku sangat rindu kasih sayang seorang papah." Tak terasa air mata Adila menetes. Sandy menjadi merasa bersalah pada gadis kecil ini.
Namun seketika, Adila mengusap air matanya dan tersenyum pada Sandy.
"Om, terima kasih ya telah percaya padaku."
Adila tersenyum karena Sandy telah percaya dengan ucapannya. Melihat senyumnya, Sandy bersimpatik. Apa yang harus ia lakukan kepada Adila yang sangat menggemaskan ini selain menyayanginya?
"Sandy, kenapa kamu...? kamu tahu aku tidak..." Saka mencoba mengatakan bagaimana bisa ia memiliki anak perempuan jika pacar saja ia tidak punya.
__ADS_1
Sandy tahu jika Saka keberatan. Tetapi hari nuraninya tetap percaya pada, Adila. Tetapi ucapan Adila saja tidak cukup meyakinkan. Hanya ilmu pengetahuan yang dapat memecahkan teka-teki ini.
"Ka Saka, aku tahu kamu bingung sekarang dan tak bisa menerima seorang putri yang mendadak datang ke kehidupanmu begitu saja. Bagaimana kalau kamu melakukan tes DNA? kamu bisa memastikan jika dia adalah putrimu atau tidak," ucap Sandy.
Saka rasa itu juga ide yang bagus, jika tes DNA tidak mungkin berbohong. Begitu hasilnya keluar gadis kecil itu tidak akan berani memanggil papah lagi.
"Dila, apakah kamu bersedia melakukan tes DNA denganku? jika tes membuktikan kamu itu putriku, aku akan mengakuimu. Jika ternyata sebaliknya, kamu harus berhenti memanggilku papah, ok?"
Saka yakin jika Adila bukan putrinya. Meskipun Adila sangat mirip dengannya , bisa jadi itu hanya kebetulan. Lagi pula dunia ini luas.
Adila tidak khawatir tes DNA, karena ia yakin hasilnya akan sama seperti dugaannya. Setelah itu Saka harus mengakuinya sebagai putrinya. Jadi ia menyetujui tes DNA itu.
"Baiklah. Namun ingat apa yang barusan papah katakan, papah tak bisa menariknya kembali," kata Adila.
"Aku tidak akan melakukannya," jawab Saka.
"Jangan khawatir, Dila. Natan dan Om yang akan menjadi saksinya. Papahmu tidak akan menarik kembali kata-katanya ," Sandy meyakinkan.
Kebetulan di ruangan tersebut ada Natan juga yang sempat mendengar semuanya.
"Baiklah, Papah Sandy aku selalu percaya padamu karena kita kan friend." Adila mengacungkan jari kelingking pada Sandy, dan ia pun melakukan hal yang sama. Dan kedua jari kelingking mereka saling bertaut satu sama lain.
Adila tersenyum manis pada Natan dan Sandy," Terima kasih Papah Sandy, terima kasih Om Natan."
Meski Adila tidak tersenyum padanya, Saka merasa senyum Adila seperti obat menyembuhkan rasa sakit apapun. Tiba-tiba, dia tidak berpikir itu memuakkan lagi ketika Adila memanggilnya papah. Di sisi lain, dia bahkan menikmatinya. Tapi tetap saja, mereka perlu menunggu hasil tes DNA.
Natan menggunting rambut Saka dan Adila untuk di bawa ke pusat tes DNA di rumah sakit terdekat. Dengan koneksi Saka sekalipun, mereka tidak bisa mendapatkan hasil secepatnya hingga harus menunggu sampai besok pagi.
Akhirnya Sandy mengajak Adila pulang terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan pulang, Adila bertanya satu hal pada Sandy.
"Papah Sandy, dari tadi aku perhatikan papah memanggil Papah Saka adalah Kaka. Apa papah Sandy ini adiknya?" tanya Adila menyelidik.
"Ya, sayang. Papah ini memang adik kandung papahmu."
"Berarti seharusnya aku panggilnya bukan Papah ya, tapi paman atau om," ucap Adila terkekeh.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, sayang. Jika Dila nyaman panggilnya papah, om nggak keberatan kok."
"Betapa bahagianya aku jika Papah Saka seperti Papah Sandy tak usah pake acara tes DNA dan percaya kalau aku ini anak kandungnya," batin Adila kecewa dengan sikap Saka.