Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Perhatian Sandy


__ADS_3

Sementara sepanjang perjalanan menuju ke sebuah cafe, Nayla hanya diam saja. Ia teringat kembali masa lalunya yang kelam. Tanpa sadar di dalam mobil ia melamun.


"Tidakkkk....jangan lakukan itu Tuan Muda... tolongg...jangan...


Nayla tak sadar dengan ucapannya, hal ini bahkan sempat terdengar oleh Sandy dan Adilla. Hingga Sandy memutuskan untuk menghentikan laju mobilnya sejenak.


"Nayla, kamu kenapa?" tegurnya seraya menoleh ke arah belakang kemudi.


"Hah.. kenapa? tidak apa-apa kok Mas Sandy." Secepat kilat Nayla menghapus air matanya supaya Adilla tak melihat kesedihan dirinya.


"Mah-mamah pasti ingat yang lalu ya, gara-gara ketemu dengan dua orang tadi? Aku juga baru bertemu sudah tak suka pada mereka, mamah jangan sedih lagi ya. Kita hadapi dunia ini bersama-sama, kan ada aku dan papah Sandy," ucap Dilla menoleh ke arah Nayla untuk menghiburnya.


Adilla duduk di jok depan bersama dengan Sandy, sedangkan Nayla duduk di jok belakang tepatnya di belakang jok kemudi.


"Ya Nayla, kamu tak usah memikirkan dua orang tadi. Aku akan selalu jaga dirimu dan juga Dilla. Jadi sekarang jangan sedih lagi ya."


Mendengar ucapan penghiburan dari Adilla dan Sandy tak lantas membuat Nayla lega. Ia hanya tersenyum kecut tanpa ada suatu kata. Akan tetapi di dalam hatinya tetap saja ada kecemasan akan hari esok.


"Ya Allah, hindarkan aku dan anakku dari mara bahaya. Kenapa aku merasa tak enak hati sejak bertemu kembali dengan ibu tiri dan adik tiriku? hati ini merasa jika kedatangan mereka itu punya niat tidak baik. Lindungi kami selalu ya Allah," doa Nayla di dalam hatinya.


Tak berapa lama, sampai juga mereka di sebuah cafe. Sandy sengaja tak membawa Nayla dan Adilla di cafe atau restoran langganan keluarga mereka. Karena tak ingin ada kata-kata tak sedap lagi seperti waktu itu. Apalagi saat ini kondisi Nayla sedang tidak baik.


"Aku akan ingat selalu wajah ibu tiri dan adik tiri, Nayla. Dan aku tidak akan membiarkan sedikit celah untuk mereka kembali menyakiti, Nayla."


"Aku baru tahu wajah ibu tiri yang begitu jahat pada, Nayla. Yang telah membuat Nayla kehilangan kehormatannya hingga terlahir Adilla. Bahkan Ka Saka mengira jika Nayla hanya pura-pura sedih pada saat di jual oleh ibu tirinya. Ya Allah, permudah langkahku untuk bisa menjadi pelindung Nayla dan Dilla," ucap Sandy di dalam hati.


"Papah Sandy-mamah, kenapa kok malah asik melamun? apa nggak tahu ya, ini perut sudah teramat sangat lapar sekali," tegur Adilla membuyarkan lamunan Nayla dan Sandy.

__ADS_1


"Astaga, maafkan papah ya sayang. Lagi pula pelayannya tidak ada yang mendekat satupun jadi papah bengong sambil menunggu pelayan datang kemari," ucap Sandy seraya melambaikan tangan pada salah satu pelayan yang sedang hilir mudik.


Pelayan itu mendekat padanya seraya membawa daftar menu makanan dan minuman.


"Mba, ada sedikit saran ya. Kalau bisa pelayanannya itu jangan lambat. Kami sudah duduk di sini dalam waktu lama, tapi tidak ada satupun pelayan yang menghampiri kami untuk menanyakan pesanan," tegur Sandy.


"Maafkan kami, Tuan. Karena kebetulan ini masih terlalu pagi juga, dan para pelayan yang datang baru beberapa orang. Dan kebetulan kami juga sedang sibuk mengurus banyaknya orderan on line." Sang pelayan menangkupkan kedua tangannya di dada seraya tersenyum ramah.


"Ya sudah kali ini saya maafkan, tapi jika lain kali saya datang lagi kemari masih seperti tadi. Saya akan komplen ke atasan kalian," ucap Sandy sedikit mengancam supaya pelayanan di cafe tersebut lebih baik lagi.


"Baik, Tuan. Sekali lagi kami minta maaf dan tak akan ulangi lagi."


"Ya sudah, ini pesannya. Dan tolong jangan sampai kami menunggu lama lagi seperti tadi. Karena anak kami sudah teramat lapar," ucap Sandy seraya melirik ke arah Adilla.


"Baik, Tuan. Akan segera kami siapkan saat ini juga."


Tak lama kemudian, makanan dan minuman telah tersaji di meja. Segera Adilla makan dengan lahapnya karena ia sudah merasakan lapar.


"Dilla, makannya yang pelan. Nanti kesedak loh," tegur Nayla yang melihat Adila makan begitu lahapnya.


Melihat cara makan Adilla, Sandy menjadi teringat akan Saka.


"Mirip sekali dengan cara makan Ka Saka, kasihan kamu Dilla harus mendapatkan penolakan dari papah kandungmu," batin Sandy terus saja memperhatikan Adilla hingga ia melupakan makannya sendiri.


"Pah, kenapa nggak makan malah menatapku seperti itu? apa aku aneh ya cara makannya?" tegur Adilla yang membuat Sandy terhenyak dari lamunannya.


"Hhee papah itu gemas melihat cara makanmu itu." Sandy meraih tidur dan mengusap bibir Adilla yang belepotan makanan.

__ADS_1


"Hhee maaf ya, pah. Aku lapar banget hingga makan belepotan," Adilla meraih tidur yang ada di tangan Sandy dan ia mengusap sendiri bibirnya.


Nayla hanya diam saja tanpa ikut berkomentar karena pikirannya sedang asik entah kemana.


Beberapa menit kemudian mereka telah berada di dalam mobil karena sudah selesai acara sarapan bersamanya.


Sandy langsung melajukan mobilnya arah pulang ke rumah Nayla. Dan pada saat Sandy sejenak duduk di teras halaman rumah Nayla bersama dengan Adilla. Datanglah beberapa warga dengan raut wajah emosi.


"Nah ini, Pak RT. Pria yang sering datang ke rumah Nayla. Bahkan di anak haram itu memanggilnya dengan sebutan papah."


"Iya, pak RT. Mungkin saja pria ini salah satu langganan Nayla. Atau bahkan memang ayah kandung dari Dilla."


Mendengar ucapan dari beberapa warga, Sandy memicingkan alisnya. Akan tetapi ia sengaja diam karena melihat mimik mulut Pak RT akan berkata sesuatu.


"Kalian yang tenang ya, biar saya yang akan selesaikan masalah ini," ucap Pak RT menenangkan warga yang begitu murka.


"Dilla, mana mamahmu? coba panggil kemari ya, kami ingin bicara sebentar." Pinta Pak RT.


Adilla langsung berlari kecil menuju ke dalam rumah untuk memanggil Nayla.


"Mah, di luar ada Pak RT dan beberapa warga ingin bertemu mamah." Ucap Adilla lantas ia berlari lagi menuju ke depan rumah dimana Sandy sedang duduk.


"Ada apa ya? kok perasaanku nggak enak seperti ini?" gumam Nayla seraya melangkah keluar rumah guna menemui Pak RT dan beberapa warga.


"Mari silahkan masuk pak RT dan bapak-bapak sekalian," salah Nayla.


Mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu. Bahkan Sandy dan Adilla juga ikut pindah duduk di ruang tamu dengan Sandy memangku Adilla.

__ADS_1


"Ada perlu apa ya pak, pagi-pagi kemari?" tanya Nayla memicingkan alisnya.


__ADS_2