Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Menghilangkan Jejak


__ADS_3

Sementara Saka heran kenapa Adilla tak juga pulang kembali kerumahnya, walaupun ia sudah berkali-kali menelpon.


"Pasti Dilla di hasut oleh ibunya dan Sandy, hingga ia berubah pikiran untuk tinggal di sini. Dasar kurang ajar!" umpatnya kesal.


Dia pun memutuskan untuk menyambangi rumah Sandy kembali. Akan tetapi ia kecewa, karena Sandy lebih cerdik. Ia mengajak Nayla dan ketiga anaknya pindah rumah.


Bahkan lokasi restoran yang sempat diketahui oleh Nathan waktu itu, ia perintahkan pada salah satu anak buahnya untuk di handle. Dan jika ada orang yang datang ke restoran mencari dirinya, ia meminta untuk mengatakan bahwa restoran tersebut telah dijual.


Dan pemikiran Sandy benar adanya, karena anak buahnya tersebut memberi tahu padanya jika Saka datang.


[Tuan Sandy, baru saja Tuan Saka datang kemari. Tetapi saya sudah mengatakan semua yang anda ajarkan pada saya. Dengan mengatakan bahwa restoran ini telah di beli oleh saya. Sedangkan anda dan keluarga pindah ke luar kota.]


Membaca pesan yang barusan di kirim oleh salah satu anak buahnya membuat Sandy lega dan tersenyum puas.


"Pemikiranku sejalan dengan Saka, hingga aku satu langkah lebih cepat darinya. Jika tidak pasti saat ini, ia sudah berhasil menemui Dilla lagi. Aku tidak akan memberikan celah sedikitpun untuk Saka bisa mendekati Dilla lagi," batin Sandy senang.


Sementara saat ini di rumah, Saka sedang marah besar dengan membanting senus barang yang ada di rumahnya karena kesal.


"Sialan, kenapa juga Sandy pindah rumah dan hilang jejak begitu saja! salahku yang berpikir Dilla pulang beberapa hari karena untuk sejenak melepas kangen pada ibunya. Ternyata malah pindah! aku kalah cepat dari adikku! jika dari awal aku langsung jemput Dilla, pasti dia masih bisa aku jangkau! aaahhhh..... sialan....!"


Pyang....pyang....pyang.....


Terus saja Saka memecahkan barang-barang yang ada di dalam kamarnya hingga membuat istrinya kaget pada saat mendengar bunyi bising di dalam kamarnya.


Santi segera berlari ke kamar untuk mengecek kondisi kamar. Dan pada saat ia membuka pintu kamarnya, ia pun terperangah melihat lantai kamar yang berantakan penuh dengan pecahan keramik.

__ADS_1


"Astaga...kenapa semua barang mahal kesukaanku kamu pecahkan, mas? jika ada masalah jangan seperti ini dong, vas bunga dan beberapa kendi kesukaanku yang menjadi korban!' bentak Santi kesal.


"Diam kamu! ini semua gara-gara kamu hingga Dilla tidak baik lagi kemari!" bentak Saka melotot ke arah Santi.


"Promo prok prok prok "


Santi bertepuk tangan seraya tersenyum lebar penuh kemenangan.


"Baguslah, jika dia tak kembali lagi kemari. Ternyata dia tahu diri juga, tak perlu aku usir sudah pergi duluan," ucap Santi ketus.


"Apa? jadi kamu senang jika Dilla tidak ada disini? atau mungkin kamu juga yang membuat Dilla pergi dari sini ya?" tanya Saka kesal.


"Bukannya dari awal dia datang aku sudah katakan tak suka, tetapi kamu tetap saja membawanya pulang. Asal kamu tahu ya, mas. Aku belum berbuat apa pun, Dilla sudah pergi. Kebetulan sekali bukan, hingga tak usah membuatku repot untuk membuat ia bisa pergi dari rumah ini," ucap Santi senang.


"Dasar istri durhaka! kamu sama sekali tidak pernah mendukung niat suami! selalu saja kamu menentang kemauan suami! menyesal aku telah menikah denganmu!" bentak Saka tak bisa mengontrol emosinya.


Selama mereka menikah, memang sering debat. Dan Santi selalu menang karena dia selalu mengancam akan mengusir Saka dari rumah. Karena secara tidak langsung, semua harta Saka telah berpindah tangan pada Santi, pada saat penyuntikan dana tersebut.


"Apa kamu nggak salah bicara, hah? justru aku yang telah di jadikan layaknya seperti boneka dan alat bagimu saja! sejak usahaku bangkrut, memang kamu yang menyuntikkan dana. Tetapi tetap saja semuanya aku yang menjalankan karena kamu sama sekali tak tahu menahu tentang perusahaan bukan?" ucap Saka


Keduanya terus saja berdebat tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Keduanya sama-sama keras sifatnya. Hingga pertengkaran berakhir dengan Santi yang berlalu pergi dari hadapan Saka.


"Jika aku bisa urus sendiri perusahaan pasti sudah sejak dulu aku pergi dari hidup Saka dan aku urus sendiri perusahaan. Salahku dahulu pada saat mendiang orang tuaku masih hidup, aku tidak mau belajar berbisnis. Kini aku baru merasakan seperti ini!" batin Santi.


*******

__ADS_1


Pagi yang cerah secerah hati Adilla. Dia kini fokus dengan membantu usaha restoran orang tuanya. Dia yang rajin mengecek beberapa restoran yang ada di beberapa kota. Setiap ia mengecek satu restoran yang di ketahui oleh Saka, ia sengaja menyamar.


"Aku bukannya takut dengan Saka, tetapi aku tak ingin berhubungan lagi dengan dirinya karena aku ingin menuruti apa yang di nasehat kan orangtuaku. Makanya aku menyamar seperti ini," batin Adilla yang merasa jengah dengan penyamarannya.


Memang Sandy yang meminta seperti itu supaya aman dan persembunyian mereka tidak terjangkau oleh Saka. Karena Sandy tahu benar bagaimana sifat Saka yang bisa menghalalkan segala cara demi untuk keinginan pribadinya.


Sandy bukan hanya kalah dan takut. ia tak ingin orang-orang yang ia sayangi yang kena dampaknya. Jika mengingat ego, ia sudah pasti akan melawan Saka.


Pencarian demi pencarian terus saja Saka lakukan terhadap Adilla tapi tidak membuahkan hasil.


"Nathan, masa iya kamu tak tahu dimana Sandy sekarang?" tanya Saka menyelidik.


"Saya memang tak tahu, Tuan. Saya sudah berusaha mencari ke segala penjuru, tetapi tidak ada tanda-tanda Tuan Sandy," ucap Nathan.


Padahal ia sama sekali tak mencari Sandy, karena terakhir ia mendapat chat pesan dari Sandy supaya jika dia di minta mencari oleh Saka tak usah di dengarkan.


"Untuk apa aku patuh padanya, sebenarnya aku ingin pindah kerja pada Tuan Sandy saja yang baik hati. Tetapi aku takut istri dan anakku yang menjadi korban jika aku pindah kerja," batin Nathan.


"Ya sudah, kita hentikan saja pencarian terhadap dirinya. Dan jika kamu dengar informasi tentang keluarga Sandy jangan lupa memberitahu padaku ya?" ucap Sak kecewa.


"Baik, Tuan Saka.


Kini Saka sudah menyerah, ia tak lagi berusaha mencari keberadaan Adilla. Karena semuanya hanya sia-sia saja.


Berbeda situasi di rumah Sandy yang baru. Semua merasa senang bisa berkumpul bersama.

__ADS_1


"Ternyata memang harta paling indah itu keluarga. Tidak ada hal lain selain mamah, papah, dan adik-adikku," batin Adilla.


__ADS_2