
Mamah Nany meminta Sandy untuk menemui istri dan anaknya.
"Sandy, mamah ingin sekali bertemu dengan istri dan anakmu," ucapnya tiba-tiba.
"Baiklah, mah. Tapi nanti saja setelah pulang dari kantor, kita sama-sama ke rumah Nayla ya?" ucap Sandy.
"Baiklah, Sandy."
"Mah, untuk sementara waktu jangan katakan hal ini pada papah ya. Tolong ini menjadi rahasia aku dan mamah dulu, karena aku tak ingin ada suatu insiden yang terjadi. Aku nggak tega mah, pada Nayla dan Dilla jika mendapatkan suatu penolakan lagi kali ini oleh papah. Tunggu waktu yang tepat saja untuk menjelaskan pada papah, apa lagi kita akan sedang sibuk mengurus keperluan pernikahan Ka Saka," pinta Sandy.
"Baiklah, Sandy. Mamah tahu kok posisi di rumah ini. Kadang mamah juga sedih kenapa papah tak bisa bersikap adil pada kalian berdua. Ya sudahlah, sekarang kamu kembalilah ke kantor supaya tidak ada yang curiga," pinta Mamah Nany.
"Ya mah, aku berangkat ke kantor lagi ya. Mamah tak perlu risau, aku tidak pernah iri dengan Ka Saka. Aku selalu bahagia dengan apa yang aku punya walaupun aku tak pernah mendapatkan hak sepenuhnya atas segala perusahaan yang papah miliki. Biar saja Ka Saka yang mendapatkan itu, aku yakin suatu saat nanti bisa mempunyai suatu usaha sendiri tanpa tergantung pada papah."
Sandy memeluk mamahnya sebelum berangkat kembali ke kantor.
Sandy anak yang sangat baik, ia tak pernah iri pada Saka. Walaupun sebenarnya perilaku Papahnya itu kurang tepat dengan mengatasnamakan perusahaan untuk Saka. Padahal ia juga berhak atas perusahaan itu, karena ia juga anak kandung dari Papah Alan.Tapi ia hanya di pekerjaan di perusahaan itu sebagai wakil direktur saja. Tak punya wewenang penuh hanya sebagai cadangan jika Saka sedang sibuk.
Saat ini Papah Alan juga menghandle suatu perusahaan tapi tidak sebesar perusahaan yang saat ini di handle oleh Saka. Perusahaan kecil ini sebenarnya kelak akan di berikan untuk Sandy, tapi hingga saat ini belum juga di alihkan nama dengan alasan dirinya masih kuat bekerja dan Sandy belum pantas untuk memimpin perusahaan kecil itu.
Sandy kembali ke kantor dengan hati yang lega. Ia sangat senang karena sudah bisa berkata jujur pada mamahnya. Dan kini ia sedang menata hatinya lebih lagi untuk kelak bisa berkata jujur pada Papahnya.
*******
Tak terasa sore menjelang, Sandy ingat akan janjinya pada mamahnya yang akan mengajaknya menemui Nayla dan Adilla. Ia pulang dengan penuh kegembiraan.
"Mah, apakah sudah siap?" tanya Sandy merangkul Mamah Nany.
__ADS_1
Belum juga mamahnya menjawab, papahnya telah menyela terlebih dahulu karena kebetulan melintas dan mendengar percakapan antara Sandy dan Mamah Nany.
"Siap kemana? kalian mau kemana, kok papah nggak di ajak?" tanyanya menyelidik.
Pada saat Sandy bingung mau menjawab apa, Mamah Nany yang menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
"Mamah yang meminta Sandy untuk sejenak mengajak mamah ke taman. Mamah bosan di rumah terus sendirian sementara setiap harinya suami dan anak-anak mamah di sibukkan dengan pekerjaan. Bahkan hingga hari liburpun tidak ada waktu untuk mamah," ucapnya sengaja menyindir Papah Alan.
"Hem, mulai memancing emosi. Tahu seperti ini aku tidak bertanya yang hanya membuat mood aku hilang. Sudah tahu aku sibuk kerja, masih saja protes. Janganlah bersikap manja seperti istri yang lain, lebay tahu." Ucap Papah Alan seraya berlalu pergi dari hadapan Mamah Nany dan Sandy.
"Mah, nggak usah di pikiran perkataan papah tadi ya. Nggak usah sedih, yang terpenting saat ini kita akan happy. Aku yakin mamah pasti akan suka dengan Nayla apa lagi dengan Adilla yang sangat pintar dan lucu," bisik Sandy menghibur mamah Nany yang raut wajahnya berubah tatkala mendengar perkataan Papah Alan.
"Kamu nggak usah khawatir, bukan satu atau dua hari papahmu bersikap seperti ini pada mamah. Kan sudah dari kamu dan kakakmu kecil. Tapi mamah masih bisa bersyukur karena tidak semua anak mamah yang sifatnya menurun dari papah. Tapi hanya Saka saja yang mirip papahmu, sedangkan kamu tidak. Tetaplah menjadi pribadi yang baik ya Sandy," pesan Mamah Nany.
"Pasti dong, mamahku sayang."
Sandy melajukan mobilnya menuju ke rumah Nayla, dimana saat ini Adilla sedang gelisah menunggu kepulangan dirinya. Hingga satu jam berlalu, Sandy baru sampai di pelataran rumah Nayla yang tak begitu besar.
"Papah Sandy...."
Terdengar Adilla berteriak seraya berlari menuju arah dimana saat ini mobil Sandy terparkir.
"Hallo anak papah yang cantik dan pintar."
Sandy yang baru keluar dari mobil langsung memeluk Adilla.
"Pah, ini pasti...
__ADS_1
"Iya sayang, ini Oma kamu. Namanya Oma Nany," ucap Sandy menyela perkataan Adilla yang belum terselesaikan.
"Hallo, Oma. Senang sekali bisa bertemu dengan Oma."
Dengan wajah riangnya dan senyuman manisnya, Adilla mengulurkan tangannya untuk menyelami Mamah Nany.
Sejenak Mamah Nany diam terpana melihat si kecil Adilla, ia benar-benar tak percaya dengan sosok gadis kecil yang ada di hadapannya itu.
"Ya Allah, anak ini memang mirip sekali dengan masa kecil Saka. Wajahnya tidak ada yang di buangnya sama sekali," batin Mamah Nany.
"Oma kenapa? sakitkah?" tegur Adilla seraya mengguncang perlahan jemari Nany yang membuat ia terhenyak kaget dari lamunannya.
"Eh nggak sayang, Oma nggak sakit. Oma itu senang sekali bisa bertemu dengan Dilla. Kenapa kita nggak bertemu sejak dulu ya? oh iya, mana mamahmu? Oma ingin bertemu," ucap Nany seraya menggenggam jemari kecil Adilla.
Baru juga ia bertemu dengan Adilla tapi hatinya sudah cocok dengan anak kecil itu.
"Mamah ada di dalam rumah, Oma. Yuk pah-oma, kita masuk. Kebetulan mamah sudah memasak untuk kita, pah."
Ajak Adilla seraya tangan kanan menggenggam Nany dan tangan kiri menggenggam Sandy dan mengajaknya melangkah masuk ke dalam rumah.
Setelah sampai di dalam rumah, Nayla pun menyalami mertuanya itu tanpa ada rasa sungkan. Dan sejenak Sandy sengaja mengajak Adilla menjauh dari Nayla dan Mamah Nany.
"Nayla, Sandy sudah cerita semuanya sama mamah. Mamah minta maaf ya atas apa yang dulu pernah di lakukan oleh Saka," pinta Nany dengan mata berkaca-kaca.
Sementara saat ini Sandy sengaja mengajak Adilla bermain sejenak di pelataran rumah supaya Nany bebas bercengkrama dengan Nayla.
"Nyonya, itu sudah menjadi masa lalu saya. Dan saya juga sudah merelakan semua yang terjadi pada diri saya. Mungkin ini sudah menjadi jalan hidup bagi saya. Jadi nyonya tak perlu merasa bersalah seperti ini,' ucap Nayla tersenyum.
__ADS_1
"Nyonya? aku ini sudah menjadi mamahmu. Jadi panggil mamah saja, supaya tidak ada sekat pemisah diantara kita." Ucap Nany seraya menepuk bahu Nayla.