Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Mulai Menderita


__ADS_3

Kini Saka hidup sendiri, bahkan asisten rumah tangga dan pekerja yang lainnya di rumah itu memutuskan berhenti bekerja. Mereka tidak ingin tinggal di rumah Saka.


"Bagaimana aku bisa melewati semua ini jika hanya seorang diri seperti ini. Semuanya pergi dari rumah ini. Sedangkan aku sakit tidak sembuh-sembuh."


"Apa yang harus aku lakukan ya Allah. Jika tidak ada orang yang membantuku. Aku akan sangat repot, ini kaki kenapa juga tak bisa di gerakan!"


"Obatku habis dan tak bisa membeli lagi. Ini semua gara-gara Santi. Dasar istri durhaka, menjual perusahaan tanpa mengatakan padaku terlebih dahulu. Bahkan semua tabunganku di kuras habis."


Selagi terus saja menggerutu, bel pintu rumah berbunyi.


"Ting tong ting tong ting tong"


Dengan penuh susah payah, Saka melajukan kursi rodanya ke pintu ruang tamu.


"Maaf, anda berdua siapa ya?" tanya Saka merasa aneh melihat kedatangan seseorang pria paruh baya dengan satu pria berbadan kekar.


"Saya pemilik baru rumah ini. Kebetulan istri anda telah menjual rumah beserta aset yang lain seperti mobil, terhadap saya beberapa hari lalu. Tetapi saya baru bisa datang kemari. Saya minta anda kemasi pakaian anda dan pergi dari rumah saya sekarang juga!" ucap pria paruh baya tersebut lantang.


"Jangan seenaknya ya, anda berkata. Ini rumah peninggalan mendiang orang tua saya," ucap Saka membantah.


"Saya tidak peduli dan tidak mau tahu jika tentang dari mana rumah ini berasal. Yang jelas saya sudah membayar mahal untuk rumah ini dan mobil milik anda."


"Jika tidak percaya, saya bawa semua surat-suratnya. Ini lihat saja semuanya asli bukan palsu!"


Sejenak Saka melihat surat penting itu , dan benar itu memang sertifikat rumah miliknya dan juga surat-surat mobil.


"Baiklah, saya akan pergi dari rumah ini sekarang juga. Sebentar, saya akan mengemasi pakaian saya."


Dengan bersusah payah, Saka melajukan kembali kursi rodanya masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya untuk mengemasi pakaiannya. Setelah itu ia kembali melajukan kursi rodanya keluar ruang tamu. Dan saat itu juga ia pergi dari rumah peninggalan orang tuanya yang ia ambil paksa dulu dari orang tuanya.


"Kenapa nasibku jadi seperti ini ya? aku harus terusir dari rumahku sendiri. Aku tidak tahu sama sekali jika Santi juga mencuri sertifikat tanah rumah dan juga surat-surat mobilku."

__ADS_1


"Aku pikir hanya perusahaan yang ia jual. Tetapi malah semuanya seperti ini. Lantas dengan kondisiku yang seperti ini, aku harus kemana?"


Saka terus saja menggerutu sepanjang perjalanan pergi dari rumahnya sendiri. Ia bingung harus kemana karena tak punya arah dan tujuan.


Ia melajukan kursi rodanya hanya asal melaju saja. Hingga di tempat sepi, ia di sergap dua orang yang berbadan tegap dan sangat menakutkan.


"Heh, pak. Mau kemana sendirian?" tanya salah satu dari pria itu.


"A-aku nggak tahu mau kemana, aku sendiri juga bingung," ucap Saka tanpa sadar.


"Begini saja, pak. Bapak sebaiknya ikut kami saja, ke rumah kami. Dari pada bapak tak tentu arah di jalanan seperti ini kan berbahaya," ucapnya.


"Seriusan?" tanya Saka sumringah.


"Serius, pak. Mau ya ikut kami."


Saka hanya mengangguk, dia sedang tidak bisa berpikir jernih. Hanya percaya saja dengan dua pria yang tak di kenalnya sama sekali itu.


"Biarlah aku tinggal di sini bersama mereka, sepertinya ini panti jompo. Tetapi kok tidak ada plang atau plakat yang menunjukkan nama panti jompo ya?" batin Saka.


"Bapak-ibu, ini aku bawakan teman baru untuk kalian. Jadi kalian kerjanya harus lebih semangat lagi! jika tidak ingin aku hukum!" bentak salah satu pria bertubuh besar itu.


"Kerja?" Saka memicing alisnya.


"Iya, kerja? kenapa kaget seperti itu? kami membawa anda kemari dan kami pertemukan dengan mereka ya untuk kerja."


"Apa lagi kondisi anda ini sangat mendukung. Jika anda mengemis di lampu merah dengan kondisi seperti ini pasti akan banyak menghasilkan uang," ucapnya terkekeh.


"Mengemis?" Saka masih belum percaya.


"Iya, pak tua. Mengemis di jalanan atau lampu merah, dan untuk yang lain mengamen bagi yang masih sehat," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau!" bentak Saka ia akan melarikan dirinya tapi di tahan oleh salah satu pria itu.


"Eh pak! nggak usah melawan ya! jika tidak ingin kami sakiti!" saat itu juga salah satu pria menggulingkan kursi roda yang sedang di duduki Saka.


Hingga Saka pun terjungkal ke lantai, tetapi dia pria itu tidak menolong malah mereka tertawa terbahak-bahak setelah itu berlalu pergi dari rumah kecil itu dan menguncinya dari luar.


Saka di tolong oleh yang lainnya.


"Pak, lain kali tak usah melawan. Mereka itu sangatlah kejam. Apa yang mereka lakukan itu belum seberapa, jangan sampai mereka melakukan hal yang lebih kasar dari ini," ucap pria paruh baya yang lainnya.


Mereka membantu Saka untuk bisa duduk di kursi rodanya lagi.


"Jadi setiap hari kalian di paksa untuk mengemis di jalanan?" tanya Saka heran.


"Iya, kami di paksa untuk mengemis di jalanan atau lampu merah. Dan jika hasil yang kami peroleh sedikit, pasti kami akan mendapatkan hukuman dengan tidak di beri makanan sama sekali," ucap salah satu pria paruh baya seusia Saka.


"Astaga, kenapa kalian diam saja dan tak berusaha kabur?" tanya Saka.


"Sudah beberapa kali kami berusaha kabur. Tetapi selalu gagal, dan jika kami ketahuan kabur. Kamu selalu mendapatkan hukuman di pukul di seluruh tubuh kami."


Mendengar apa yang dikatakan oleh beberapa pria paruh baya seusia dirinya. Saka menjadi begidig ngeri. Dia membayangkan hal itu terjadi pada dirinya.


"Ih, lihat wajah kedua pria tadi serem sekali. Apa lagi sampai mereka main kasar. Iih.. ngerinya. Kenapa aku malah terdampar seperti ini?" batin Saka kesal pada diri sendiri.


Malam menjelang, sehabis maghrib. Di saat yang lain istirahat, tetapi Saka di minta mulai mengemis.


"Heh bapak, kami ingin tes anda ya. Jika anda mulai mengemis seperti apa hasilnya."


Saat itu juga, Saka di dandani layaknya seorang pengemis. Di pakaikan baju yang compang camping. Wajah di poles hitam-hitam sehingga tidak terlihat jelas wajah aslinya. Setelah itu dia pria ini membawa Saka di bawah lampu merah.


Sementara satu pria mengintai cara kerja Saka dari arah yang lumayan jauh. San satu orangnya lagi, pulang ke rumah untuk menjaga yang ada di rumah.

__ADS_1


__ADS_2