Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Kebersamaan Adilla & Sandy


__ADS_3

Pada saat arah pulang tepatnya jam makan siang, Sandy bertanya dengan khawatir," Dilla apa kamu lapar, bagaimana kalau Papah mengajakmu untuk makan siang?"


Adila meraba perutnya, dia hanya memakan sepotong roti tadi pagi. Sekarang Sandy mengajaknya makan siang, dia merasa lapar sehingga ia mengangguk dengan gembira.


Sandy melajukan mobilnya menuju ke sebuah cafe yang terdekat. Lantas dia turun dari mobil dan menuntun Adila masuk ke dalam cafe. Akan tetapi Adila berhenti sejenak.


"Ada apa, Dilla?" tanya Sandy heran.


"Aku ingat Papah Saka, pasti dia belum makan siang kan Papah Sandy?" tanya Adila.


"Ya ampun, Dilla. Padahal Ka Saka begitu kasar padanya, tetapi anak ini malah ingat pada Ka Saka," batin Sandy kagum dengan kepedulian Adila.


'Kamu nggak usah khawatir sama Papah Saka, ia pasti bisa pesan makan sendiri," ucap Sandy.


"Pah, coba telpon Papah Saka. Tanya apakah mau di bawakan makan siang sekalian," pinta Adilla seraya mengguncang lengan Sandy.


Sebenarnya Sandy enggan apa lagi pada saat ingat perlakuan kasar Saka pada Adilla. Tetapi ia tak tega melihat wajah polos Adilla, hingga ia pun menelpon Saka saat itu juga.


"Ka Saka, apa kamu mau pesan makan siang sekalian?"


"Ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan, jadi aku makan siangnya telat. Tak usah repot-repot biar nanti aku minta Natan saja yang memesankan."


Setelah itu, Saka menutup panggilan telepon dari Sandy.


"Apa jawabnya, pah?" tanya Adilla penasaran.


"Papah Saka nggak mau, katanya masih kenyang."


Adilla hanya diam tak berkata lagi, Sandy pun mengajak Adilla masuk ke dalam cafe tersebut.


Pada saat Sandy masuk dengan menggenggam tangan Adila semua karyawan yang ada di cafe tersebut menatap ke arah mereka karena keluarga dari Sandy pelanggan setia kafe tersebut sehingga semua karyawan telah hafal dengan Saka dan seluruh anggota keluarganya. Apalagi mereka adalah dari kalangan elite yang sering wara wiri nongol di acara televisi.


Sandy dan Adilla menjadi pusat perhatian. Adilla juga mirip Sandy, sehingga kerumunan sekitar mereka mulai bergosip.


"Gadis kecil itu manis sekali, kira-kira siapa ya?"


"Dia mirip dengan, Tuan Sandy. Mungkinkah ia anak haramnya?"

__ADS_1


"Tapi setahuku, Tuan Sandy itu tak punya pacar dan dia pendiam. Lain halnya dengan Tuan Saka, yang kita tahu dia gonta ganti pacar."


"Aku melihat gadis itu pada waktu yang lalu di lobi kantor. Jadi ia menemui Tuan Sandy, aku kira menemui Tuan Saka."


"Aku sempat ke kantor untuk mengantarkan pesanan makanan Tuan Saka waktu itu."


Terus saja para karyawan cafe bergosip ria, bahkan sempat terdengar oleh Sandy dan Adilla. Akan tetapi pada saat Adilla akan menegur para karyawan cafe, di cegah oleh Sandy.


"Dilla, duduklah. Tak usah meladeni mereka, kita datang ke sini kan untuk makan siang."


"Tapi mereka sudah keterlaluan mengatakan aku ini anak haram dari Papah Sandy. Aku nggak suka, pah," ucap Adilla lirih.


"Dilla, sudahlah. Kamu menurut saja sama papah ya," punya Sandy.


Hingga akhirnya Adilla diam di tempat duduknya seraya menunggu pesanan makanannya tersebut.


Hingga tak berapa lama pesanan telah datang, dan mereka segera makan siang karena khawatir Nayla pasti sedang gelisah menunggu kepulangan Adilla.


Setelah beberapa menit makanan mereka telah habis, Sandy beranjak bangkit dari duduknya dan melangkah ke meja kasir untuk membayar, bahkan ia tak lupa memesan makanan untuk Nayla.


"Yuk kita pulang, pasti mamahmu khawatir karena kita tak juga pulang."


Sementara memang saat ini Nayla sedang memikirkan adalah yang belum juga pulang.


"Sayangnya aku tak punya nomor ponsel Mas Sandy hingga aku tak bisa menghubunginya untuk bertanya di mana mereka saat ini berada. kenapa kok belum pulang juga hati ini merasa khawatir jadinya."


"Adila juga biasanya membawa ponsel jika pergi ke manapun, kali ini ponselnya malah ditinggal begitu saja."


Nayla mondar-mandir, dia menengok ke arah jalan raya tetapi tak jua kunjung mobil Sandy datang.


Hingga beberapa menit ke depan muncullah mobil Sandy.


Belum juga Nayla mengatakan sesuatu, Sandy telah terlebih dulu berkata.


"Nay maaf ya, rada lama soalnya tadi aku mengajak Dilla untuk sejenak bermain ke taman serta makan di cafe."


"Ini aku bawakan makanan juga untukmu pasti kamu belum makan siang, kan?"

__ADS_1


Sandy memberikan bungkusan berisi makanan tersebut pada Nayla.


"Terima kasih ya Mas. Sebenarnya tak usah repot-repot, lagi pula masih ada sisa lauk pauk dari sisa pesanan catering."


Nayla menerima bingkisan tersebut.


Hingga dia pun melupakan apa yang ingin dia katakan barusan pada Adilla. Setelah mengantarkan Adilla dan memberikan uang hasil pesanan catering pada Nayla, Sandy berpamitan pulang.


Seperginya Sandy, barulah Nayla ingat akan apa yang ingin ia katakan pada anaknya.


"Dilla, sebenarnya kamu sama Om Sandy dari mana saja? masa iya antar catering kok lama banget?" tanya Nayla menatap menyelidik pada Adilla.


"Aduh, apakah aku harus berkata jujur ataukan aku berbohong ya?" batin Adilla mulai resah dan gelisah.


"Dilla, kenapa kamu diam? apakah tadi yang di katakan oleh Om Sandy itu bohong? atau kamu sedang mencari alasan untuk berkata bohong pada, mamah?" kembali Nayla bertanya.


"Mah, apa yang di katakan oleh Papah Sandy itu nggak bohong. Aku mampir ke taman dan ke cafe, mah," ucap Adilla menutupi rasa gugupnya. Karena baru kali ini Adilla berbohong, hingga hatinya begitu berdebar-debar.


"Hem, kamu sedang tidak bohong sama mamah kan?" tanya Nayla merasa ragu dengan jawaban dari Adilla.


"Nggak, mah. Aku berkata jujur kok."


Namun di dalam hati Adilla ada rasa bersalah pada Nayla.


"Maafkan aku ya, mah. Aku telah berbohong pada mamah karena sebenarnya aku habis bertemu dengan Papah Saka," batin Adilla.


"Ya sudah, sekarang kamu masuk dan belajarlah. Oh ya, lain kali kalau pergi jangan lupa bawa ponsel. Jadi mamah nggak khawatir memikirkan kamu,' ucap Nayla seraya memberikan ponsel Adilla.


Akan tetapi, Nayla tak sengaja memencet ponsel Adilla hingga terlihat wallpaper ponsel tersebut yakni foto Tuan Muda Saka.


"Dilla, kenapa kamu pasang foto orang ini? cepat kamu ganti dan hapus fotonya, mamah nggak suka!" bentak Nayla kesal.


Dia tak suka melihat foto Saka, karena mengingatkan pada saat dirinya di rudal paksa olehnya.


"Mah, tapi ini kan foto Papah."


"Cepat kamu ganti wallpapernya dan hapus fotonya, dan ingat satu hal ya Dilla. Mamah tak suka dengan segala hal yang berhubungan dengan orang yang tadi ada di ponselmu!"bentak Nayla.

__ADS_1


"Mah, kenapa mamah benci sekali sama papah? sebenarnya kesalahan apa yang pernah papah lakukan pada mamah?" tanya Adila dengan polosnya.


__ADS_2