Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Sandy Bertemu Nathan


__ADS_3

Sementara saat ini Saka juga telah memiliki keluarga. Hanya saja ia tidak memiliki keturunan dari istri yang ia nikahi saat ini. Hingga ia harus tetap bekerja keras di usianya yang sudah tidak muda lagi.


"Aku menyesal telah memilih dirimu untuk menjadi istriku, padahal dulu aku telah menyia-nyiakan wanita yang bisa memberiku anak!" bentak Saka pada Santi istrinya.


"Mas, kenapa selalu saja hal ini yang kamu permasalahkan denganku? apa ini semua karena keinginanku, jelas tidak! lagi pula jika kamu memang merasa tak bahagia dengan hidup bersamaku, kenapa juga bertahan selama sepuluh tahun menikah denganku?" ucap Santi ketus.


Saka hanya diam, sebenarnya ia bertahan dengan Santi tak lain juga karena harta. Santi anak semata wayang dan semua kekayaan mendiang orangtuanya jatuh di tangan Santi semua.


"Kenapa diam, mas? kalau mau kita pisah sekarang juga bisa? aku sama sekali tidak keberatan kok," ucap lantang Santi.


"Maafkan aku, aku terlalu cinta padamu sehingga aku tak bisa berpisah denganmu," ucap Saka amarahnya mulai mereda.


"Hem, aku tahu kok. Kamu nggak akan bisa pisah dariku karena kartu As mu ada di tanganku. Silahkan saja urus perceraian dan kamu akan menjadi gembel karena aku yang telah menyuntikkan dana di dua perusahaanmmu," ancam Santi.


Sejak Saja hidup dengan Santi, memang awal mula perusahaan berjalan lancar. Akan tetapi satu tahun kemudian sempat hampir saja gulung tikar, hingga pada akhirnya Santi yang memberikan dana pada Saka.


Sejenak amarah mereka mereda, dan Saka berangkat ke kantor. Ia pun mencari cara supaya bisa tahu dimana keberadaan Nayla guna mengambil anaknya yakni Adilla.


Ia tak Sudi jika akan mengakui anak dari Nesa. Ia lebih memilih Adilla.


"Nathan, apa kamu ingat anak yang lima belas tahun lalu datang ke kantor? aku masih ingat namanya Adilla. Mungkin saat ini umurnya dua puluh tahun atau dua puluh satu tahun," ucap Saka.


"Ingat, Tuan.. Memangnya ada apa ya?" tanya Nathan heran menanyakan Adilla.


"Coba kamu selidiki dan cari tahu sekarang ia ada di mana. Jika kamu tahu tentangnya bahkan dimana alamat rumahnya, beritahu padaku," ucap Saka.


"Hem, aneh. Dulu menolak mentah-mentah anak kandung sendiri, kini sudah tua ingat," batin Nathan.


"Nathan, apa kamu dengar yang aku katakan padamu barusan?" tegur Saka mengagetkan lamunan Nathan.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Saya mendengarnya, baiklah akan saya selidiki dan laksanakan tugas dari anda secepatnya."


"Ya sudah, pergi sana! sekarang juga kamu cari tahu keberadaan Adilla!"


Nathan pun berlalu pergi dari ruang kerja Saka. Dan ia segera mencari tahu keberadaan Adilla sesuai dengan perintah Saka.


Pada saat ia sejrnak berhenti di sebuah restoran besar untuk makan. Ia pun bertemu dengan Sandy secara tidak sengaja.


"Nathan, kamu Nathan kan?" sapa Sandy pada saat menyambangi salah satu restoran miliknya bersama dengan Nayla.


"Tuan Sandy bukan?" Nathan bangkit dari duduknya seraya tersenyum menyalami Sandy dan Nayla.


Setelah itu ia duduk kembali di temani oleh Sandy. Sementara Nayla berpamitan untuk melanjutkan mengecek restoran tersebut dengan berkeliling ke dapur.


"Mas, aku mau ke dapur ya. Nggak apa-apa kan, jika aku tidak ikut mengobrol?" ucap Nayla memastikan.


"Iya, sayang nggak apa-apa."


"Tuan Sandy, kemana saja selama lima belas tahun ini? terakhir yang aku dengar Tuan Besar dan Nyonya Besar ikut anda? bagaimana kabar mereka, Tuan?" tanya Nathan.


"Mamah dan papah sudah meninggal satu tahun yang lalu, Nathan," jawab Sandy singkat.


"Kenapa berita dukanya tidak sampai padaku dan Tuan Saka?" tanya Nathan kembali.


"Pada saat Mamah maupun papah akan meninggal, mereka tidak mau jika aku memberi tahu tentang kondisi kesehatannya pada, Mas Saka," ucap Sandy.


"Lantas, apakah kamu masih bekerja dengan Mas Saka?" tanya Sandy penasaran.


"Masih, Tuan. Bahkan saya sedang di tugaskan oleh Tuan Saka," ucap Nathan ragu ingin mengatakan perihal Adilla Sete barusan melihat Nayla.

__ADS_1


"Tugas apa hingga kamu sampai di kota ini?" tanya Sandy penasaran.


"Maaf, Tuan Sandy. Apakah anda telah menikah dengan wanita tadi?" Nathan malah balik bertanya.


"Ya, Nathan. Aku menikah dengan Nayla sejak lima belas tahun yang lalu, dan saat ini kami sudah di karuniai dua anak. Hingga kami kini punya tiga anak, yah yang satu anak yang tempo dulu datang ke kantor itu," ucap Sandy.


"Kenapa dulu saya tidak tahu menahu tentang hal itu ya, Tuan?" tanya Nathan.


"Karena pada saat aku menikahi Nayla, almarhum papah tak setuju hingga aku bahkan di usir dari rumah," ucap Sandy.


"Sebenarnya ceritanya panjang, lantas apa tugas yang di berikan Mas Saka padamu? kenapa dari tadi kamu tidak menjawab pertanyaanku tetapi malah terus bertanya padaku?" tanya Sandy masih saja penasaran.


"Begini Tuan Sandy, saya ditugaskan untuk mencari keberadaan Adilla. Tetep setelah saya tahu saat ini Adilla sudah menjadi anak anda, kok saya menjadi ragu untuk mengatakan pada Tuan Saka tentang keberadaannya," ucap Nathan.


"Nathan, katakan saja pada Mas Sandy yang sebenarnya. Jika Nayla sudah menikah denganku, dan secara tidak langsung Dilla sudah menjadi anakku," ucap Sandy tidak gentar jika akan bertemu dengan Saka.


"Tapi, Tuan Sandy? apakah anda tidak takut dengan Tuan Saka? ia itu kan selalu saja berbuat semaunya?" tanya Nathan khawatir.


"Sekarang aku tanya padamu, apa kamu juga tidak takut akan konsekuensinya jika kamu gagal melaksanakan tugas dari, Mas Saka? aku juga tahu benar bagaimana kekejaman Mas Saka terhadap para anak buahnya."


"Aku sama sekali tidak takut padanya. Memang dulu aku selalu mengalah padanya itu bukan karena aku takut, melainkan aku tak ingin ribut di depan orang tua."


"Sekarang jila ingin ribut dan perang, aku sudah siap. Katakan saja sejujurnya pada Mas Saka jika saat ini Dilla sudah menjadi anakku."


Mendengar semua yang di katakan oleh Sandy, Nathan pun lega. Memang baru saja ia di hadapkan dengan suatu keputusan yang pelik.


Jika ia mengatakan sejujurnya pada Saka, ia tak enak hati pada Sandy. Tetapi jika ia gagal dalam tugas, keluarganya yang di pertaruhkan.


"Tuan Sandy, terima kasih ya. Sebenarnya saya juga sudah tidak ingin bekerja dengan Tuan Saka, tetapi setiap saya berusaha risgn selalu yang menjadi ancamanya adalah istri dan anak-anak saya. Hingga akhirnya sampai sekarang saya masih tetap bekerja padanya" ucap Nathan tertunduk lesu.

__ADS_1


"Makanya aku meminta padamu untuk tidak merahasiakan pertemuanmu denganku. Lagi pula aku siap mengibarkan bendera peperangan, jika ia berniat tidak baik pada, Dilla," ucap Sandy tegas.


__ADS_2