Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Menjemput Adilla


__ADS_3

Tak berapa lama mobil yang dilajukan oleh Nathan telah sampai di depan pelataran rumah Sandy. Sandy dan Nayla telah sepakat untuk menjual rumahnya dan membeli rumah yang lebih luas dan lebih bagus.


Alangkah kagetnya Nayla dan Adilla pada saat melihat sebuah mobil masuk pelataran rumah mereka. Akan tetapi tidak dengan Sandy, dia telah mengetahui bahwa Saka dan Nathan akan segera datang.


Nayla dan Adilla sejenak diam berdiri di teras rumah untuk melihat siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Alangkah terkejutnya Nayla dan Adilla pada saat melihat Saka keluar dari mobil tersebut.


Sementara dari jauh, Santi melihat Saka keluar dari mobilnya ia pun merasa heran.


"Sebenarnya ini rumah siapa? karena baru kali ini aku melihat Mas Saka kemari," batin Santi di penuhi tanda tanya.


Saka menghampiri Sandy yang sedang bersantai membaca surat kabar di teras halaman. Sementara Nayla langsung menggandeng tangan Adilla mengajaknya masuk ke dalam rumah, akan tetapi Saka memanggilnya.


"Heh, kenapa kalian masuk? aku justru datang kemari untuk menemui kalian. Pasti kalian ini ibu dan anak yang waktu itu bukan?" tanya Saka menatap tajam ke arah Nayla dan Adilla.


Tetapi diantara keduanya tidak ada satupun yang menjawab, mereka hanya sejenak menghentikan langkahnya dan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


Namun karena rasa penasaran mereka, Nayla dan Adilla tak langsung masuk ke dalam melainkan menguping di ruang tamu dari balik hordeng.


"Sandy, ada seorang kakak datang kenapa tidak kamu sambut dengan senyuman atau sapaan? kita sudah lama sekali loh, tidak bertemu?" ucap Saka seraya mengulurkan tangannya dan menyunggingkankan senyuman, akan tetapi Sandy tak menanggapi hingga Saka menarik tangannya lagi.


"Kakak? bukannya kita sudah putus hubungan ya? sejak anda mengusir mendiang papah dan mamah dahulu?" sindir Sandy ketus.


"Sandy, sekarang kamu sombong ya? baru juga punya satu restoran dan rumah ini sudah besar kepala," ejek Saka.


Dia tak tahu jika Sandy tidak hanya punya satu restoran tapi banyak cabangnya di berbagai penjuru kota.


"Sudah tak usah basa basi, aku tahu kok maksud kedatanganmu kemari? kamu ingin melihat Adilla bukan? untuk apa kamu ingin tahu tentang Adilla setelah apa yang dulu kamu lakukan padanya?" ucap ketus Sandy.


"Sandy, bukannya kamu tahu sendiri jika pada saat dulu kita jalani tes DNA. Kamu melihat jika hasilnya positif, Adilla anak kandungku?" ucap Saka lantang.


"Aku tahu hal itu, tetapi pada saat dulu apa kamu lupa? jika kamu menolak Adilla dengan sangat kasar, padahal kamu telah berjanji sendiri jika hasil tes DNA positif, kamu tidak akan ingkar mengakui Adilla sebagai darah dagingmu, tetapi kamu ingkar bukan?" ucap Sandy lantang.

__ADS_1


Keduanya terus saja bersi tegang, sementara Nathan melihat dari dalam mobil. Begitu pula dengan Santi. Ia semakin penasaran dengan pertengkaran yang terjadi antara Sandy dan suaminya.


"Sebenarnya apa yang sedang mereka perdebatkan ya, aku sama sekali tidak bisa mendengarnya?" batin Santi.


Nayla dan Adilla juga sempat mendengar perdebatan itu, karena Sandy dan Saka sama-sama tak sadar berkata lantang.


"Mah, aku ingin keluar ya?" ucap Adilla tiba-tiba.


"Jangan, Dilla! untuk apa kamu keluar, biarkan papah Sandy yang menghadapi orang gila itu!" larang Nayla.


"Mah, aku mohon dech. Aku tahu apa yang harus aku lakukan kok, mah. Aku ini sudah dewasa dan bisa jaga diri serta tahu mana yang baik dan buruk."


Adilla memaksa untuk keluar, ia pun melangkah ke teras halaman tanpa bisa di cegah oleh Nayla, hingga terpaksa Nayla ikut pula ke teras halaman.


"Dilla, masuklah! ini urusan orang tua!" hardik Sandy.


"Pah, aku tahu kok Papah Saka kemari karena ingin bertemu denganku bukan?" ucap Adilla pasang wajah ramah kepada Saka.


"Iya, nak. Jadi kamu Adilla, sudah besar ya?" ucap Saka mengagumi Adilla.


"Dilla, masuklah. Jangan membantah apa yang Papah katakan padamu," ucap Sandy.


"Pah, aku minta maaf ya. Bagaimana pun, Papah Saka ini papah kandung aku. Dari dulu, aku ingin mendapatkan pengakuan darinya," ucap Adilla.


"Dilla, apa yang kamu katakan! dia itu orang gila, bukan Papahmu! Papah Sandy yang papah mu!" bentak Nayla.


Saka sangat senang melihat sikap Adilla yang ia rasa terus saja membela dirinya.


"Sandy, kamu lihat kan? walaupun kami ini telah lama tak bertemu, dan walaupun aku pernah menolak Dilla. Tetapi ia masih saja mau menganggapku Papahnya. Dilla, kemari dan peluk papah."


Saka merentangkan kedua tangannya, dan saat itu juga Adilla berlari memeluk Saka.

__ADS_1


"Astaga, Dilla! apa yang kamu lakukan, cepat kamu kemari dan jangan dekati pria gila itu!" bentak Nayla akan tetapi Adilla sama sekali tak mau mendengarkan perkataan Nayla.


"Dilla, dengarkan apa kata mamahmu. Cepatlah kemari, nak," bujuk rayu Sandy dengan lembutnya.


"Mah-pah, aku minta maaf ya. Bukannya aku ingin menjadi anak durhaka. Tetapi aku memang merindukan papah kandungku yakni Papah Saka," ucap Adilla.


"Dilla, apa yang kamu katakan? apa kamu lupa dengan penolakan yang telah di lakukan olehnya pada saat dulu?" ucap Sandy.


"Pah, itu kan masa lalu. Aku tahu pasti kedatangan Papah Saka kemari karena ia telah menyesali apa yang telah ia lakukan padaku. Bukan begitu kan Papah Saka?" Adilla tersenyum ke arah Saka.


"Benar sekali, nak. Justru papah datang kemari untuk mengajakmu tinggal bersama dengan papah. Apakah kamu mau, Adilla?" tanya Saka memastikan.


"Serius, pah?" tanya Adilla serasa tak percaya.


"Ya, untuk apa papah berbohong padamu. Sudah cukup lama papah mencari keberadaanmu, tetapi tak juga bertemu. Baru hari ini akhirnya papah bisa menemukanmu," ucap Saka berbohong.


"Baiklah, pah. Aku akan ikut dengan papah sekarang juga," ucap Adilla.


"Tidak! mamah tidak izinkan kamu tinggal dengan orang jahat itu, Dilla!" bentak Nayla.


"Dilla, dengarkan apa yang mamahmu katakan. Kemari lah, jangan kamu dekati dirinya itu yang tak punya hati nurani," ucap Sandy.


Namun Adilla tetap berkeras hati untuk tetap tinggal dengan Saka. Saat itu juga Adilla masuk ke dalam mobil Saka, bahkan ia tak membawa sehelai pakaian dari rumah.


"Dilla, kamu tega meninggalkan mamah dan papah?" teriak Nayla.


"Kalian nggak usah khawatir, aku tidak akan melarang jika sewaktu-waktu Adilla datang kemari untuk menjenguk kalian kok. Sudah ya aku pergi dulu...dddaaaaa..."


Saka melambaikan tangannya seraya tersenyum mengejek ke arah Nayla dan Sandy. Ia berpikir jika dirinya telah menang dengan membawa pulang Adilla ke rumah.


Nayla mengejar mobil Saka dan terus memanggil nama Adilla seraya menangis histeris. Sandy pun menenangkan istrinya dengan memberikan pelukan hangat.

__ADS_1


"Sayang, sudahlah. Kamu tak usah mengkhawatirkan Dilla, aku yakin ia bisa jaga diri. Lagi pula memang bagaimanapun Saka itu ayah biologisnya,' ucap Sandy menghibur Nayla.


"Hem, pucuk di cinta ulam pun tiba. Aku tak usah capek-capek datang ke kantor Saka dengan berpura-pura melamar pekerjaan. Kini ia datang sendiri, untuk menjemputku," batin Adilla senang.


__ADS_2