
Saka terus saja teringat akan sosok Sandy. Tiba-tiba air matanya meleleh begitu saja, hal ini membuat dua preman marah.
"Untuk apa anda menangis, Pak tua? Padahal selama anda ikut kami, kami tidak pernah berbuat kasar dengan memukuli anda. Kenapa pula anda bersedih?" tanya salah satu preman.
Saka hanya diam saja, ia tak menjawab apa yang ditanyakan oleh salah satu preman tersebut. Karena percuma baginya jika ia menceritakan rasa rindunya pada adik kandungnya, pasti sang preman tidak akan mengizinkannya untuk menemui sang adik.
********
Pagi menjelang,di mana Saka sudah harus melakukan aktivitasnya untuk menjadi seorang pengemis di sebuah lampu merah. Di pagi ini, ia mendapatkan kejutan manis yakni bertemu dengan dua anak remaja yang sering memberinya uang, dan kali ini ia di beri juga makanan.
"Pak tua, ini ada sedikit makanan. Bisa untuk sarapan anda ya? dan ini juga ada uang."
Dion dan Karmila meletakkan makanan dan uang di pangkuan Saka.
"Terima kasih ya, nak. Atas kebaikan kalian," ucap Saka seketika wajahnya melirik ke arah kedua anak tersebut.
Di dalam hatinya, ia sejenak teringat dengan seseorang. Dan seseorang itu tak lain adalah Sandy, adiknya.
"Ya Allah, kenapa aku baru menyadari jika wajah dua anak remaja ini mirip sekali dengan, Sandy? apakah mereka ini anak-anaknya? aku ingin sekali bertanya tetapi malu," batin Saka.
Dan pada saat sedang menatap kedua anak remaja tersebut. Kehebohan terjadi.
"PRIPITTT!!!!!"
Ada tiga pamong praja, salah satunya meniup peluit untuk menghentikan para pengemis, pengamen jalanan yang berlarian.
Saka sengaja diam, dia sengaja supaya dirinya juga di tangkap. Sementara preman yang telah membawa dirinya kabur entah kemana.
Para polisi pamong praja tersebut menangkap semua dari pengemis, pengamen, bahkan gelandangan dan Saka pun di tangkap pula. Ia justru tenang pada saat dirinya di tangkap untuk dibawa bersama yang lain ke dinas sosial.
Dion dan Karmila yang sempat melihat penangkapan itu merasa iba pada, Saka. Mereka hanya bisa diam saja menatap kepergian Saka di bawa oleh para aparat penegak kemasyarakatan.
__ADS_1
Saka bahkan sempat tersenyum ke arah Dion dan Karmila serta melambaikan tangannya.
"Mas Dion, kasihan juga ya si bapak tua itu di tangkap. Kok aku jadi nggak tega padanya," ucap Karmila terus menatap ke arah mobil yang membawa Saka dan yang lain pergi dari tempat itu.
"Justru nanti si bapak tua akan di didik diberi kan pengarahan di lembaga dinas sosial. Supaya ia tidak lagi mengemis di jalanan. Bahkan nantinya mereka itu di beri suatu ketrampilan, bisa mereka gunakan untuk usaha," ucap Dion.
Setelah sejenak melihat penangkapan para pengamen jalanan dan pengemis jalanan, Dion dan Karmila melanjutkan untuk berangkat ke sekolah.
Mereka lebih suka berangkat ke sekolah dengan mengendarai kendaraan umum, dari pada di antar jemput oleh sopir. Menurut mereka tidak bebas. Dan kesannya seperti anak sultan saja.
Baik Sandy dan Nayla, membebaskan keinginan kedua anaknya yang terpenting anak-anak tidak melanggar kepercayaan orang tuanya dengan menjadi anak yang baik dan patuh.
Sementara Saka di dalam hatinya mengucapkan rasa syukur karena dirinya akhirnya terbebas dari dua preman yang selalu menjadikan dirinya dan yang lain budak. Beberapa menit perjalanan, Saka dan yang lain sudah sampai di dinas sosial. Masing-masing di tangani orang yang berbeda, di tanya macam-macam termasuk juga, Saka.
"Pak, kenapa anda mengemis di lampu merah. Selain mengganggu pemandangan juga itu berbahaya buat bapak. Apa keluarga bapak tidak melarang yang bapak lakukan?"
"Saya mengemis di lampu merah bukan karena kemauan saya, tetapi di perintah oleh dua orang preman yang secara tiba-tiba waktu itu membawa saya paksa ke rumah mereka," ucap Saka.
Lantas tanpa ada rasa sungkan, Saka menceritakan semuanya pada aparat yang sedang bertugas tersebut. Bahkan ia juga mengatakan ingin sekali bertemu dengan adik kandungnya, tetapi ia tidak tahu dimana alamat rumahnya yang sekarang. Ia hanya ingin minta maaf pada orang-orang yang pernah ia sakiti.
Sakit yang selama ini menggerogoti tubuhnya lama-lama membuat daya tahan tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk melawan penyakitnya. Penyakit yang tidak bisa di ketahui secara langsung oleh dokter.
Karena setiap Saka melakukan pemeriksaan pada waktu masih hidup dengan Santi, tidak pernah terdeteksi ada suatu penyakit yang serius menurut dokter. Tetapi kenyataannya penyakit itu yang telah membuat Saka semakin hari semakin kurus dan bahkan daya tahan tubuhnya menjadi lemah bahkan membuat kedua kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan.
Aparat tersebut berjanji akan mempertemukan Saka dengan keluarganya. Bahkan Saka langsung mendapatkan perawatan medis di salah satu rumah sakit khusus untuk orang-orang yang tak mampu dan orang-orang dari dinas sosial.
********
Beberapa hari kemudian, barulah aparat dinas sosial bisa menemukan keberadaan Sandy. Dan dua orang aparat yang datang ke rumah Sandy mengatakan banyak hal mengenai Saka. Dan bahkan meminta Saka, Nayla, dan Adilla datang ke rumah sakit untuk menemui Saka.
Dengan diantar oleh aparat tersebut, Adilla dan orang tuanya menyambangi rumah sakit dimana saat ini Saka di rawat. Dan pada saat Saka melihat kedatangan ketiganya, ia tak kuasa menahan tangis.
__ADS_1
"Sandy, izinkan aku untuk berbicara terlebih dahulu dengan Nayla dan Dilla," pintanya lirih di atas brankar dimana saat ini dirinya terbaring lemah.
Sandy pun tak berkata, ia hanya tersenyum kecil pada Saka.
"Nayla, aku minta maaf atas segala dosaku padamu di masa lalu. Dimana aku telah berbuat tidak senonoh padamu hingga kamu menderita cukup lama karena ulahku dulu."
"Dilla, papah juga minta maaf padamu karena dulu telah menolak dirimu pada saat papah sudah tahu jika kamu adalah anak papah."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Saka, sejenak baik Nayla maupun Adila diam. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Dan pada akhirnya mereka pun memberikan maaf pada Saka. Saka merasa lega karena Nayla dan Adilla benar-benar telah memaafkan dirinya.
Dan kini ia pun meminta Sandy untuk mendekat. Dan pada Sandy, Saka juga minta maaf. Akhirnya Sandy luluh dan tak lagi menyimpan rasa sakit hati lagi pada Saka. Bahkan ia menitikkan air mata melihat kondisi Saka yang sangat lemah.
"Sandy, tolong antar aku ke makam papah dan mamah. Aku juga ingin minta maaf kepada mereka atas segala dosaku di masa lalu," pinta Saka lirih.
"Sebaiknya Mas Saka pikirkan kesehatan Mas dulu. Gampang nanti jika mas sudah sehat, aku pasti akan antar ke makam papah dan mamah ya?"
Namun Saka tetap bersikeras untuk ke makam orang tua dengan alasan, sudah tidak ada waktu lagi. Hingga pada akhirnya, saat itu juga Sandy membawa Saka ke makam orang tua mereka.
Sesampai di makam, Saka tersungkur di hadapan makam orang tuanya. Ia pun menangis seketika itu juga. Menyesali akan segala perbuatannya yang jahat tempo dulu pada orang tuanya.
"Pah-mah, aku minta maaf. Karena aku bukan anak yang berbakti, tetapi aku anak yang durhaka. Aku minta maaf atas segala dosaku pada kalian di masa lalu."
Setelah mengucapkan hal itu, tiba-tiba tubuh Saka lemas dan ia jatuh memeluk makam mamahnya. Sandy pun curiga karena Saka diam saja dan matanya terpejam. Hingga ia menghampiri Saka dan berusaha membangunkan Saka. Tetapi Saka tak juga bangun. Dan ia pun meraba denyut nadinya.
"Inalillahi wa innailaihi rojiun, Mas Saka sudah meninggal. Semoga kamu tenang ya, mas. Aku yakin mamah dan papah juga sudah memberikan pintu maaf untukmu."
Tak kuasa air mata Sandy berlinang, dan saat itu juga ia menelpon Nathan untuk meminta bantuan mengurus jazad Saka.
Bahkan Sandy memutuskan akan memakamkan almarhum Saka di samping makam orang tuanya.
Sementara kehidupan Sara dan Nesa juga tidak seindah dulu. Nesa kini berada di rumah sakit jiwa, ia gila gara-gara kehilangan anaknya pada saat proses melahirkan. Sedangkan Sara kini harus menjadi pemulung untuk bisa menafkahi dirinya sendiri. Sara tidak ada niat sama sekali untuk menemui Nayla setelah apa yang dulu ia perbuat padanya.
__ADS_1
******** T H E E N D**********
Terima kasih untuk semua para readers yang sudah Sudi menyimak karya remahan author ini. Doa yang terbaik dari author, untuk kalian semuanya. Semoga kiranya juga Sudi menyimak karya remahan author yang lain. Mohon maaf pabila kadang kala tidak sempat membalas komentar para readers 🙏🙏🙏🙏 bukan karena sombong, kadang lupa🤭🤭🤭🤭🤭 atau tak sempat.