
Karena rasa penasaran yang begitu besarnya, Sandy terus saja mencari kesempatan untuk bisa mengorek keterangan lebih lagi baik pada Nayla atau Adila tentang papah kandungnya.
Memang sungguh tak mudah mendapatkan informasi yang akurat apalagi setiap Adila akan bercerita tentang papahnya, Nayla selalu meminta pada anaknya untuk tutup mulut.
Hingga pada suatu hari barulah terkuak oleh Sandy siapa sebenarnya papah kandung Adila pada saat ia tak sengaja meminjam ponsel anak kecil tersebut.
"Dila, om boleh pinjam ponselnya sebentar nggak? kebetulan ponsel om tertinggal di mobil dan om malas untuk mengambilnya. Om ingin memberi tahu yang pesan catering sebentar lagi selesai," pinta Sandy pasang wajah memelas.
"Apa sih yang nggak buat papahku tersayang. Ingat ya, pa-pah! aku tekankan lagi bukan om! kan sudah menjadi papahku," ucapnya manyun.
"Dila, kamu nggak boleh seperti itu pada Om Sandy," tegur Nayla karena merasakan tak enak dengan sikap Adila.
"Nayla, biarkan saja. Lagi pula aku tak keberatan kok." Ucap Sandy seraya meraih ponsel milik Adila.
Dan betapa kagetnya ia pada saat akan membuka ponsel itu, terlihat ada foto Saka di gunakan sebagai wallpaper ponsel oleh Adila.
"Dila, kamu ngefans ya sama orang ini?" tanya Sandy lirih khawatir Nayla dengar.
Dia sengaja tak cerita jika dirinya adalah adik kandung dari foto yang ada di ponsel Adila.
"Bukan ngefans, pah. Tapi dia ini papah kandungku," bisik Adila khawatir Nayla mendengarnya.
"Masa sih?" Sandy mulai tertarik pada cerita Adila.
"Hem, Dila. Mau nggak temani om ke mini market sebentar saja," pinta Sandy.
"Om lagi om lagi, harus berapa kali aku bilang ya? apa sebenarnya nggak mau ya jadi papahku?" ada guratan rasa kecewa yang sangat terlihat di wajah Adila.
Dia benar-benar merindukan sosok seorang ayah hingga dia menginginkan Sandy menjadi papahnya.
"Oh iya, maaf. Dila mau kan temani papah ke mini market?" Sandy mengulang perkataannya.
"Kalau aku sih ok ok saja, pah. Tapi kita harus izin dulu sama mamah," ucap Adila.
Kebetulan sejak memakai jasa on line kini Nayla sudah tak buka warung makan lagi karena sepi oleh hasutan pada tetangga hingga tidak ada pembeli yang datang. Tetapi justru usaha on line lebih menghasilkan.
"Biar papah yang minta izin sama mamahmu ya." Sandy menghampiri Nayla yang sedang sibuk dengan pesanan catering dari kantornya.
__ADS_1
"Nay, aku izin bawa Dila ke mini market boleh ya?"
"Iya, mas." Nayla mengizinkan tanpa melihat wajah Sandy, ia terus saja packing catering itu.
Sandy menuntun Adila keluar dari rumah dan melangkah ke mini market terdekat. Sembari jalan, Sandy mengorek keterangan dari Adila.
"Dila, apa benar yang di ponselmu itu papahmu?" tanya Sandy.
"Benar, tapi ia tak mengakui aku sebagai anaknya."
Adila pun langsung menceritakan semuanya pada Sandy tanpa ada rasa sungkan sedikitpun. Apa lagi tidak ada mamahnya hingga dia bebas mengatakan hal itu.
"Ya ampun, Ka Saka. Kenapa menolak anak sepintar Adila? ini tidak bisa di biarkan, aku harus membuat Ka Saka tanggung jawab dengan perbuatannya. Aku tahu seperti apa ia selama ini, suka sekali berganti-ganti pasangan."
"Yang aku herankan, bagaimana bisa Nayla melakukan hal ini dengan Ka Saka. Jika aku lihat Nayla itu wanita yang pendiam dan tak banyak tingkah."
"Semua ini terasa rumit karena Nayla tak bisa jujur padaku. Dia seperti enggan bicara tentang masa lalunya."
Sandy bingung harus bagaimana, tapi dia ingin menguak kebenaran yang tersembunyi.
"Pah, ke mini market nggak beli apa-apa? kok cuma beliin aku banyak makanan seperti ini?" tanya Adila heran.
"Papah lupa mau beli apa."
Padahal ini hanya trik saja bagi Sandy untuk mengorek keterangan tentang papah kandung Adila.
Sesampainya di rumah Adila, Nayla mengatakan bahwa catering telah siap.
"Mas Sandy, semuanya sudah siap."
"Iya, Nay. Bantu aku ya mengangkatnya ke jok belakang mobilku."
"Baik, mas."
Nayla dan Sandy sibuk menata catering di jok mobil dan Adila tak mau diam, dia pun ikut pula menatanya.
"Mah, aku ingin ikut Papah Sandy antar cateringnya ya. Sekalian jalan-jalan, kan aku jarang di ajak main mamah," rengeknya.
__ADS_1
"Ya, tapi kamu nggak boleh nakal ya."
Adila sangat girang mendapatkan izin dari Nayla.
"Pucuk di cinta ulam pun tiba, kamu tahu saja Dila kalau sebenarnya om juga ingin ajak kamu ke kantor. Om ingin memperjelas statusmu dengan papahmu," batin Sandy.
"Ini tidak bisa di biarkan begitu saja! jika memang Ka Saka ayah kandung Dila, dia harus bertanggung jawab. Tetapi jika tak mau juga, biar aku yang menikah dengan Nayla. Lagi pula dari awal aku melihatnya, aku telah jatuh cinta padanya. Karena kesederhanaan dan pendiam nya itu," batin Sandy.
Sifat Sandy berbeda dengan Saka. Dia itu tripikal tak suka main perempuan, just dia sangat pemilih.
Mobil segera di lajukan oleh Sandy, Adila duduk di depan seraya asik makan cemilan yang di belikan oleh Sandy barusan.
"Pah, kantor papah jauh juga ya? lantas apa papah nggak cape hampir setiap hari ke rumah aku?" tanya Adila seraya mengunyah cemilannya.
"Untuk anak papah yang pintar dan baik ini tidak ada yang namanya kata cape, sayang. Setiap hari papah itu selalu kangen sama kamu."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sandy malah membuat Adila terkekeh, hal ini membuat Sandy heran.
"Dila nggak percaya ya kalau papah itu suka kangen sama Dila?"
"Nggak percayalah, aku tahu kok kenapa Papah setiap hari ke rumahku. Itu karena Papah selalu kangen sama mamah, iya kan?"
Perkataan Adila tepat sasaran, Sandy tak habis pikir kenapa anak sekecil Adila bisa tahu isi hati orang tua.
"Hehe, tahu saja kamu Dila. Tapi kan papah kangen juga sama kamu," ucap Sandy.
Ia memang belum pernah menikah, tapi pada saat melihat Adila dia sudah sangat suka dengan gadis kecil itu. Apa lagi melihat sosok Nayla yang menurutnya lain dari pada yang lain. Baginya sosok Nayla sangat berbeda dengan wanita lainnya.
Tak terasa mereka telah sampai di pelataran perkantoran yang tak asing lagi bagi Adila.
"Pah, kok kita ke sini? ini kan kantor Papah Saka?" tanyanya heran.
"Iya, Dila. Yang pesan catering ini kan kantor Papah Saka," ucap Sandy.
"Pah, jika tahu seperti ini aku nggak mau ikut kemari."
Mulailah Adila ngambek, Sandy pun harus dengan sangat lembut membujuknya supaya ia mau ikut masuk ke dalam.
__ADS_1