
Sudah berhari-hari Alan tinggal di rumah Nayla. Dan kondisi dirinya sekarang ini sudah mulai membaik. Dan ia juga tidak mengatakan apapun pada Nayla atau Adilla. Justru Alan malah akrab dengan Adilla.
"Pah, apa Papah nggak ingin kembali ke rumah papah? karena kondisi papah kan sudah membaik," ucap Sandy.
"Kamu mengusir papah, Sandy?" Alan tersinggung.
"Astaga papah, bukan maksud aku seperti itu. Papah kan punya perusahaan yang perlu di urus, jika tidak di urus nanti akan terbengkalai," ucap Sandy mencoba menjelaskan kesalah pahaman tersebut.
Alan diam saja, seolah ia sedang berpikir tentang apa yang barusan dikatakan oleh Sandy.
"Hem, apa yang dikatakan Sandy memang ada benarnya. Tetapi entah kenapa aku sudah merasa nyaman tinggal di sini. Aku menjadi dekat dengan Dilla, dan aku juga merasa jika Nayla itu baik," batin Alan.
Ia tak rela berpisah dengan Adilla yang selalu saja mampu membuat dirinya tersenyum dengan sifat dan kepribadiannya itu.
"Pah, apa kamu tak mencoba menghubungi Saka? dan mengatakan jika kamu ini baik-baik saja? supaya ia tidak khawatir, lagi pula kondisi papah kan sudah cukup membaik?" saran Nany.
'Entahlah, mah. Papah kok jadi berat hati jika ingin pergi dari rumah ini, walaupun rumah ini tidak sebesar rumah Papah. Tetapi sejak beberapa hari tinggal di sini, papah jadi banyak belajar tentang arti kebersamaan, kehangatan di lingkup keluarga, dan juga kepedulian."
"Papah jadi sadar diri, mah. Selama ini papah hidup dengan segala keegoisan dan bahkan tidak mementingkan keluarga."
"Selama ini yang Papah pikirkan hanyalah pekerjaan, uang, pangkat, derajat. Tanpa peduli dengan tumbuh kembang anak."
Mendengar apa yang dikatakan oleh suami nya, ada rasa senang di dalam hati Nany.
"Syukurlah kalau Papah sudah sadar akan hal ini, tetapi bagaimana dengan usaha papah jika dibiarkan saja? pasti perusahaan papah yang baru itu, bisa terbengkalai?" tanya Nany bingung.
"Ya sudah, nanti antarkan papah pulang ya Sandy. Papah juga ingin mengecek perusahaan papah juga perusahaan yang di handle Saka."
Setelah sejenak bercengkrama, akhirnya saat itu juga Alan pun bersiap-siap akan kerumah mewahnya diantar oleh Sandy.
__ADS_1
"Mah, ikut antar papah ya," pinta Alan pasang wajah memelas hingga membuat Nany tak tega ia pun merespon dengan anggukan kepala.
Sebelum Sandy pergi mengantarkan Alan pulang, ia terlebih dahulu berpamitan pada Nayla. Barulah ia tenang dalam mengantarkan Alan.
Setelah sampai di rumah mewah dan megah milik Alan. Mereka di kejutkan dengan sikap Saka yang sangat kejam dan kasar pada saat melihat kedatangan mereka.
"Papah, aku pikir papah sudah meninggal dunia," ucap Saka tersenyum sinis.
"Saka, kenapa kamu berkata seperti itu? apa kamu mengharapkan papah ini mati, hah?" ucap Alan kesal.
"Hem, aku minta maaf ya papah. Justru setelah papah pergi berhari-hari lamanya, aku memutuskan untuk merubah segalanya tentang kepemilikan harta," ucap Saka.
"Saka, apa yang kamu katakan? Papahmu ini baru pulang loh, bukannya kamu sambut kepulangannya malah bersikap seperti ini?" tegur Nany tak suka dengan sikap Saka.
"Mamahku tersayang, aku kan sudah menyambut kepulangan papah. Dan aku juga telah menyiapkan semua barang-barang papah untuk di bawa pergi," ucap Saka lantang.
"Mas Saka, kami ini keluargamu loh. Kami baru datang bukannya di persilahkan duduk di suruh masuk. Malah di sambut seperti ini?" tegur Sandy.
"Sebentar ya pah, aku ingin menunjukkan sesuatu."
Sejenak Saka masuk ke dalam melangkah menuju ke kamarnya untuk mengambil sesuatu di dalam almari.
"Pah, semua harta papah dan juga perusahaan telah beralih nama padaku. Lihatlah ini."
Saka meletakkan semua surat-surat penting di atas meja, dan Alan mengecek satu persatu.
"Bagaimana ini bisa, papah kan tidak pernah menandatangani semua ini? dan kamu kenapa melakukan kecurangan ini pada Papah kandungmu sendiri, Saka?" tanya Alan serasa tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh anak yang selama ini di banggakan.
"Pah, mungkin Papah lupa ya. Pada saat sebelum terjadinya kecelakaan tunggal yang di alami oleh papah. Malam harinya aku meminta papah menanda tangani beberapa berkas?" ucap Saka mengingatkan sesuatu pada Alan.
__ADS_1
"Tapi pada saat itu kamu hanya memberikan berkas kosong dan kamu katakan itu untuk kebutuhan kerja sama dengan beberapa klien baru bukan?"
"Jadi kamu menipu papah? tega sekali kamu Saka. Bukankah papah telah berikan perusahaan besar yang saat ini di kelola olehmu?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Alan justru membuat Saka tersenyum sinis.
"Pah, aku ingin semuanya juga perusahaan yang saat ini sedang Papah kelola yang sudah sangat terlihat akan berkembang menjadi perusahaan besar. Dan aku juga ingin semua aset pribadi milik Papah seperti rumah ini, tanah yang ada dimana-mana," ucap Saka.
"Astaga, Saka! kamu ini serakah sekali! perusahaan kecil yang papah kelola itu akan papah berikan untuk Sandy. Kamu kan sudah mendapatkan perusahaan besar untuk apa pula kamu mengganggu yang bukan hak kamu?"
"Kamu itu nggak boleh serakah, bagaimana pun Sandy ini adik kandungmu sendiri, Saka. Justru seharusnya papah memberikan yang sama rata. Tetapi papah malah memberikan lebih banyak padamu!"
Alan mencoba menyadarkan akan sikap Saka. Akan tetapi, ini tidak berpengaruh sama sekali pada Saka.
"Sudahlah, pah. Terima saja kekalahan Papah. Karena semuanya sudah menjadi milikku," ucap Saka terkekeh.
"Astaghfirullah aladzim, Saka. Padahal selama ini papah itu menyayangi dirimu lebih dari menyayangi Sandy. Tetapi kenapa kamu tega berbuat seperti ini pada Papahmu? durhaka kamu Saka, ingatlah setiap perbuatan ada balasannya," tegur Nany tak suka dengan sikap serakah Saka.
"Mas Saka, seharusnya kamu itu senang karena kecelakaan tunggal yang dialami oleh papah tidak merenggut nyawanya. Hingga ia selamat."
"Bukannya Mas Saka mencari keberadaan Papah selama papah nggak ada kabar. Malah seperti ini sih?"
Saka kesal sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Sandy.
"Diam kamu, cepat pergi dari sini dan bawa serta mereka. Ini semua pakaian milik papah."
Dengan tidak berperikemanusiaan Saka mengusir orang tuanya sendiri. Ia menyerahkan koper besar yang isinya pakaian milik Alan.
"Saka, ingat ya! kejayaan yang sekarang kamu miliki ini karena hasil merampas dan tidak akan berkah! suatu saat nanti apa yang kamu dapat dari merampas juga akan di rampas! ingat pesan mamah baik-baik!"
__ADS_1
"Mah-pah, sudahlah. Sebaiknya kita pergi saja dari rumah ini," ajak Sandy.
"Hust-hust-hust.... pergi sana cepat dan jangan kembali lagi!" bentak Saka.