Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Akhirnya Terbongkar Juga


__ADS_3

"Iya mah, maaf."


Nayla masih terasa canggung untuk memanggil wanita paruh baya yang ada dihadapannya dengan panggilan mamah.


"Aduh, kenapa pula Mas Sandy membawa ibunya kemari? dengannya saja aku masih canggung, walaupun sudah menikah. Kini malah harus bertemu ibunya, jangan-jangan aku dan anakku akan di bawa ke rumahnya," batin Nayla mulai panik.


Selagi dia dalam lamunannya, bahunya di tepuk oleh Mamah Nany.


"Nay, kenapa melamun?" tegurnya seraya tersenyum.


"Nggak apa-apa kok, mah," ucap Nayla seraya tersenyum menutupi rasa gugupnya.


Setelah sejenak mengobrol, barulah Nayla mengajak Adilla dan Sandy makan sore bersama.


"Hem, kamu pintar masak ya Nay?" puji Mamah Nany.


"Hhee mamah bisa saja, saya hanya masak menu rumahan dan rasanya juga tak ada yang spesial," ucap Nayla merendah.


Keakraban sebentar saja telah terjadi di meja makan tersebut. Dan beberapa jam kemudian, Nany berpamitan pulang pada Nayla dan Adilla. Walaupun sebenarnya ia masih ingin berlama-lama, tapi ia ingat akan suaminya.


"Nayla, mamah pulang dulu ya. Lain kali pasti mamah akan sering kemari."


"Dilla, Oma pulang dulu ya. Dilla yang nurut sama mamah, jangan nakal dan jangan buat mamah marah."


Setelah berpamitan, ia pulang diantar oleh Sandy. Sepanjang perjalanan pulang, Nany hanya diam seribu bahasa membuat Sandy heran.


"Mah, ada apa? mamah tak suka ya jika aku menikah dengan Nayla?" tanya Sandy.


"Bukan itu, Sandy. Mamah suka kok, bahkan sangat suka apa lagi Nayla dan Dilla sama-sama baik. Mamah kaget saja pada saat melihat Dilla yang sangat mirip Saka," ucap Nany.


Sementara yang di rumah sedang kelimpungan yakni Alan dan Saka. Baru kali ini Alan di tinggal pergi lumayan lama oleh istrinya.

__ADS_1


"Pah, duduklah. Nanti juga mamah pulang, lagi pula perginya kan nggak sendirian ada Sandy kan? jadi papah tak perlu khawatir lagi," ucap Saka yang merasa jengah melihat Alan terus saja mondar-mandir tak jelas juntrungannya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Saka, tak lantas membuat Alan langsung duduk. Ia terus saja mondar-mandir.


"Haduh, ini orang tua kok di nasehati susah sekali ya?" batin Saka kesal.


Tak lama kemudian, muncullah Sandy dan Nany. Langsung saja Alan menghampiri mobil Sandy yang parkir tepat di pelataran rumah.


"Kalian dari mana sih? lama banget nggak pulang-pulang?" tegur Alan ketus seraya berkacak pinggang.


"Loh papah ini bagaimana sih, bukankah waktu mamah mau pergi sudah pamitan mau ke taman, masa iya sudah lupa?" ucap Nany memicingkan alisnya seraya melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan suaminya.


"Mah, tunggu. Mamah itu sudah bohong, karena papah sudah kesana menyusul tapi nggak ada sama sekali. Sebenarnya kalian kemana?" tanya Alan penasaran.


"Memangnya papah menyusul di taman yang mana?" tanya Nany balik, ia tak ingin terjebak dengan ucapan suaminya.


"Taman dekat kota lah, memangnya di sini ada berapa taman?" jawab suaminya.


"Pah, kami bukan ke taman dekat kota pantas saja papah nggak ketemu dengan kami. Iya kan mah?" ucap Sandy.


"Papah nggak lihat chat pesan dari mamah ya? mamah dan Sandy sudah makan di luar," ucap Nany.


Lagi-lagi Alan merasa kesal terhadap istrinya ia hanya melirik sinis lalu tak menghiraukan lagi istrinya. Beberapa menit setelah Alan dan Saka selesai makan, ia pun mencari keberadaan Sandy karena ingin menanyakan sesuatu.


"Sandy, kamu kemana saja selama satu Minggu ini? nggak pernah tidur di rumah, jangan katakan kamu berbuat buruk seperti apa yang pernah di lakukan oleh Saka yakni kencan dengan para wanita," tegur Alan menyelidik.


"Pah, jangan samakan aku dengan Ka Saka ya? aku nggak seburuk itu, aku ada urusan penting di luaran sana," protes Sandy menahan kesal karena tuduh Alan.


"Hem, urusan apa? setahu papah urusan kantor itu nggak pernah pake acara yang menginap sampai beberapa hari seperti itu," Alan terus saja menyelidiki Sandy.


"Maaf ya, pah. Tidak semua urusanku harus papah tahu."

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan oleh Sandy, membuat Alan semakin penasaran. Karena ia tahu selama ini Sandy tidak pernah keluyuran atau bahkan menginap di luaran.


"Hem, baiklah Sandy. Jika kamu tak mau katakan yang sebenarnya, papah akan cari tahu sendiri."


Setelah mengatakan hal itu, Alan berlalu pergi dari kamar Sandy.


"Aduh, jika papah sudah berucap seperti itu gawat dech. Karena segala ucapan papah itu tidak pernah main-main, bagaimana kalau ia tahu yang sebenarnya ya?"


Kepanikan mulai melanda Sandy, ia takut Alan akan mengetahui kebenaran tentang pernikahan dirinya yang telah ia lakukan dengan Nayla.


Berbeda dengan Nany yang saat ini sedang termenung memikirkan Nayla dan Adilla.


"Ya Allah, aku terus saja kepikiran dengan Nayla dan anaknya. Kok bisa ya Saka bertindak sejahat itu?"


"Aku ingin sekali menceritakan hal ini pada suamiku, tapi ada rasa takut. Karena suamiku bersifat keras, dan ia terlalu memilih calon menantu. Aku juga khawatir jika suatu saat nanti suamiku tahu tentang pernikahan Sandy dengan Nayla, aku yakin pasti ia akan menentangnya," batin Nany.


"Haduh, kenapa semua ini terasa rumit ya? gara-gara ulah Saka jadi seperti ini.. Bukannya ia yang bertanggung jawab pada Nayla dan Adilla, malah Sandy yang melakukannya," batinnya kembali masih belum percaya dengan apa yang terjadi.


********


Beberapa hari kemudian, apa yang di takutkan oleh Sandy dan Nany menjadi kenyataan. Dimana Alan telah berhasil dengan penyelidikannya.


"Brag" Alan melempar beberapa berkas pernikahan Sandy dan Nayla di meja makan.


"Apa-apaan ini, Sandy? ternyata selama ini kamu tak pernah pulang ke rumah karena kamu telah menikah! dan lebih mirisnya lagi, kamu menikah dengan wanita yang sudah punya anak! dan parahnya anak itu anak haram, entah siapa bapaknya!" bentak Alan melotot ke arah Sandy.


Sementara Saka dan Nany hanya bisa diam. Tetapi di dalam hati Saka bertanya-tanya tentang wanita yang telah di nikahi oleh Sandy. Ia pun melontarkan rasa penasarannya dengan kata-kata kasar pada Sandy.


"Hah, apa-apaan kamu Sandy? bikin malu nama baik papah saja dech, seperti nggak ada wanita lajang saja hingga kamu menikahi wanita yang punya anak," ejek Saka terkekeh.


"Diam kamu, Saka! nggak usah ikut bicara karena papah sedang bicara dengan Sandy!"

__ADS_1


Teguran Alan membuat Saka tak berani berkata lagi. Ia hanya diam saja menyimak apa yang akan di katakan lagi oleh Alan dan juga Sandy.


Sementara Alan menatap sinis pada Sandy dan mengulang lagi pertanyaannya.


__ADS_2