
Saka membiarkan para aparat kepolisian mengusut tuntas tentang kasus kecelakaan tunggal yang di alami oleh Alan. Tetapi ia penasaran dengan kondisi Alan. Tetapi ia tak berusaha mencari keberadaan papahnya. Justru ia tiba-tiba tersenyum sinis.
"Semoga saja Papah tak tertolong, sehingga semua harta warisan peninggalan papah jatuh ke tanganku semuanya. Aku tak rela jika harus berbagi dengan, Sandy."
"Pah, aku minta maaf ya. Akulah yang telah dengan sengaja menyabotase rem mobil papah dengan memerintah orang."
"Aku tahu jika aku melakukan hal ini pasti yang akan tertuduh kan Si Nesa atau mamahnya. Dengan begitu satu kali tepuk dua nyamuk kena sekaligus."
"Aku bisa menyingkirkan Papah dan semua harta menjadi milikku. Dan aku juga bisa menyingkirkan Nesa dari rumahku. Aku yakin semua tuduhan akan mengarah pada Nesa dan si matre Sara."
Saka tersenyum sinis di dalam hatinya dia merasa usahanya akan berhasil apalagi saat ini Papahnya tidak ditemukan.
Saat itu juga polisi menggeledah rumah Saka. Begitu pula dengan setiap kamar yang ada di rumah tersebut.
"Loh, kenapa rumah ini di geledah oleh polisi ya?" batin Nesa heran karena ia tak tahu apa yang telah menimpa dengan papah mertuanya.
Bahkan kamar yang sedang ditempati oleh Nesa pun menjadi salah satu target untuk digeledah para aparat polisi.
"Loh pak, ada apa ini? kenapa kamar saya kok digeledah seperti ini ya?"
Belum juga aparat kepolisian menjawab pertanyaan dari Nesa, Saka pun berkata.
"Kamu benar-benar tidak tahu apa pura-pura tidak tahu ya? papahku mengalami kecelakaan tunggal dan pada saat cek rekaman video CCTV, di garasi mobil ada seseorang yang telah menyabotase rem mobil papah," ucap Saka.
"Aku sama sekali tidak tahu apa yang telah menimpa papah Alan. Apa maksudnya kamarku juga digeledah seperti ini? itu sama saja aku menjadi salah satu tertuduh dong," ucap Nesa merasa tak suka dengan tindakan para aparat kepolisian.
"Sudahlah, kamu tak usah protes seperti itu. Jika memang kamu tidak melakukan apapun untuk apa juga kamu sewot?" ucap Saka sinis.
Belum juga Nesa membalas perkataan dari Saka, salah satu aparat kepolisian menemukan salah satu barang bukti berupa sarung tangan dan obeng di kolong ranjang.
__ADS_1
"Pak, saya menemukan ini di kolong ranjang."
Salah satu aparat kepolisian tersebut memberikan bukti itu pada atasannya.
Dan sang atasan mengecek kembali rekaman video CCTV yang ada di garasi mobil di rumah tersebut.
"Tuan Saka, lihatlah. Obeng dan sarung tangannya sama seperti yang di gunakan oleh pelaku yang ada di rekaman video CCTV ini."
"Sudah tidak di ragukan lagi kalau istri anda ini yang menyabotase rem mobil milik Tuan Alan."
Saka pura-pura terhenyak kaget mendengar hal itu.
"Astaga....tega sekali kamu berbuat seperti itu pada papahku, Nesa? apa lagi hingga detik ini papah juga belum di ketemukan gara-gara kecelakaan yang ia alami. Aku tidak akan memaafkan dirimu, Nesa. Jika terjadi sesuatu pada papahku!" ucap lantang Saka melotot ke arah Nesa.
"Mas Saka, aku sama sekali tak melakukan apapun seperti yang kamu tuduhkan padaku! aku juga tak tahu menahu kenapa sarung tangan dan obeng itu ada di kolong ranjang kamarku."
Nesa terus saja membantahnya.
"Baik, komandan."
Saat itu juga Nesa di cekal paksa oleh dua orang anak buah Komandan kepolisian tersebut.
"Lepaskan, aku tidak melakukan apa pun yang seperti kalian tuduhkan! mamah, tolong aku! mah ...."
Nesa terus saja meronta melepaskan diri tapi tak bisa karena cekalan para aparat kepolisian begitu eratnya.
Teriakan Nesa terdengar hingga kamar Sara, ia pun segera keluar dari kamar dan berlari ke arah kamar Nesa. Ia terperangah pada saat melihat Nesa di cekal paksa oleh dua aparat kepolisian.
"Heh, Saka! apa-apaan ini, kenapa Nesa di tangkap polisi?" tanya Sara memicingkan alisnya.
__ADS_1
"Jika ingin tahu, ikut saja sana ke kantor polisi," ucap Saka ketus.
Hingga mau tidak mau, akhirnya Sara memutuskan untuk ikut ke kantor polisi. Setelah sampai di kantor ia baru mengetahui duduk permasalahannya.
"Pak polisi, anak saya tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Apa lagi pada papah mertuanya sendiri. Pasti ini sebuah kesalah pahaman," rengek Sara berharap Nesa di bebaskan.
"Saka, masa iya kamu percaya jika Nesa melakukan hal keji itu? apalagi saat ini dia sedang hamil anakmu, apa kamu nggak kasihan padanya?" rengek Sara pada Saka.
"Kejahatan adalah tetap kejahatan, semua bukti sudah mengarah kepada Nesa. Secara otomatis aku yang tadinya tidak percaya menjadi percaya. Aku sama sekali tidak habis berpikir pada Nesa, setelah apa yang dia lakukan dulu. Aku masih memaafkannya bahkan aku menikahinya tetapi seperti ini balasannya," ucap Saka seraya menggelengkan kepalanya.
"Saka, Mamah mohon padamu. Janganlah membawa kasus ini ke ranah hukum. Jika memang Nesa telah berbuat seperti itu mungkin saja dia sedang khilaf, masa iya kamu tega Nesa harus mendekam di dalam penjara dalam kondisi hamil. Secara nanti Nesa melahirkan di dalam penjara," Sara tak henti memohon pada Saka.
"Mah, apa sih yang Mamah katakan barusan? aku itu sama sekali tidak melakukan apa yang telah dituduhkan padaku! aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ada sarung tangan dan obeng di kolong ranjang kamarku! berapa kali aku harus katakan akan hal ini!" ucap lantang Nesa kesal.
"Mana ada maling ngaku, yang ada penjara penuh!" sindir Saka menatap sinis pada Nesa.
"Pak, tolong di proses istri saya ini. Saya juga sebenarnya tak sudi menikah dengannya. Dia ini menikah dengan saya juga karena harta! saya yakin memang ia yang telah menyabotase rem mobil papah saya."
"Jika dia nggak di hukum dan di maafkan serta di biarkan begitu saja. Bisa saja saya yang menjadi korban selanjutnya baginya."
"Saya juga tak yakin jika yang di kandungnya saat ini benar-benar anak saya. Bisa jadi itu anak pria lain, tapi saya yang terjebak dengan menikahi dirinya."
Mendengar apa yang di katakan oleh Saka, Komandan kepolisian tersebut sudah tidak ragu lagi untuk memberikan satu hukuman bagi Nesa.
Ia sempat berpikir jika Saka akan menempuh jalan kekeluargaan dengan memaafkan Nesa karena ia adalah istrinya yang sedang hamil.
"Baiklah, Tuan Saka. Saya akan segera menindaklanjuti kasus kecelakaan tunggal ini. Dan pihak polisi juga akan membantu mencari Tuan Alan sampai ketemu," ucap Komandan kepolisian tersebut.
"Baiklah, Komandan. Saya serahkan sepenuhnya kasus papah saya ini pada anda. Jika begitu saya permisi pamit pulang."
__ADS_1
Saat itu juga Saka pulang tanpa menghiraukan Sara apa lagi Nesa.