Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Kehidupan Baru


__ADS_3

Sandy mengajak Alan kembali ke rumah Nayla. Sepanjang perjalanan ke rumah Nayla, Alan hanya diam saja tak bisa berkata apa pun. Yang ada di otaknya hanyalah rasa kecewa yang teramat sangat pada Saka.


"Ya Allah, kenapa anak yang selalu banggakan bisa berubah drastis seperti ini ya? aku benar-benar tidak menyangka jika akan seperti ini."


"Di saat aku selamat dari maut, bukannya Saka senang malah ia...


"Apa lagi pada saat aku alami kecelakaan tunggal dan tak juga pulang ke rumah, Saka sama sekali tidak mencari keberadaan diriku."


"Ya Allah, aku masih belum percaya dengan apa yang telah menimpaku ini dan dengan apa yang telah Saka lakukan padaku."


Terus saja Alan menggerutu di dalam hatinya, sikapnya yang diam sempat menjadi pusat perhatian Nany. Akan tetapi ia hanya melirik saja ke arah Alan.


"Kasihan juga suamiku harus alami hal seperti ini. Aku sendiri juga tidak percaya Saja bisa sekejam ini."


"Ia telah di butakan hanya karena harta. Bahkan hati nuraninya hilang begitu saja. Saka-Saka, kenapa kamu seperti ini?'


*******


Sesampainya di rumah Nayla, Alan masih saja tidak mengatakan apapun. Ia masih saja diam dan terus saja merutuki diri sendiri.


Ia begitu menyesal dan kecewa karena ia salah dalam mendidik Saka. Dari kecil, ia selalu memanjakan Saka dan mengabaikan Sandy.


"Sandy, papah minta maaf ya. Dulu papah jauh darimu dan hanya mengutamakan Saka. Padahal kamu juga anak kandung papah."


Tiba-tiba Alan menitikan air matanya dan ia menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu. Sandy yang semula akan masuk dengan membawa koper yang berisikan pakaian Alan, sejenak ia terhenti langkanya pada saat mendengar perkataan Alan.


Sandy menghampiri Alan yang sedang duduk di samping Nany.


"Pah, sudahlah tak perlu minta maaf atau menyesali apa yang sudah terjadi. Anggap saja ini adalah salah satu ujian hidup yang harus papah jalani,' ucap Sandy setelah itu ia melangkah masuk membawa koper Alan dan meletakkannya di dalam kamar Nany.


Setelah itu, Sandy melangkah keluar, ia berpamitan pada orang tuanya untuk segera kembali ke restoran. Ia tak ingin Nayla terlalu cape sendirian mengurus dua restoran.

__ADS_1


"Mah, aku nggak enak jika ternyata aku mah kembali lagi ke rumah ini. Apa kata menantu kita?"


"Sudahlah, pah. Untuk sementara waktu, tak usah banyak pikiran dahulu. Sekarang sebaiknya papah istirahat di dalam kamar. Berpikirlah hal yang positif saja," saran Nany.


Ia sengaja tak banyak berkata kepada suaminya karena kondisi sedang tidak mendukung. Ia tak ingin menghakimi suaminya yang ada nanti justru suaminya semakin bertambah sedih dan terpuruk.


Alan menuruti kemauan istrinya, ia pun melangkah masuk ke dalam kamar Nany tanpa sepatah kata.


"Dulu, jika aku menasehati malah aku selalu saja mendapatkan amarah. Tetapi kini pada akhirnya anak yang selalu di banggakan malah menusuk dari belakang."


"Aku juga heran pada Saka, masa iya tega sekali pada Papah kandungnya sendiri? padahal ia yang sangat di puja di banggakan selalu oleh papah."


"Ah, sebaiknya aku ke restoran saja dari pada bengong di rumah. Mau jemput Adilla di sekolah bim saatnya pulang."


********


Dua puluh tahun kemudian...


Nayla dan Sandy juga telah sukses. Kini Nayla sudah bisa menerima cinta Sandy. Bahkan dari hasil buah cinta mereka telah lahir dua anak yang saat ini sudah beranjak dewasa pula.


Dion berusia delapan belas tahun dan saat ini study di suatu SLTA, ia kini sebentar lagi lulus.


Sedangkan Karmila kini berusia lima belas tahun. Ia juga sudah menjelang lulus di bangku SLTP.


Kini kehidupan mereka terbilang sukses. Restoran sudah berkembang pesat dengan beberapa cabang di berbagai kota. Sedangkan Nany dan Alan sudah tiada satu tahun yang lalu.


"Mah, besok aku akan wisuda. Mamah dan papah jangan lupa datang loh," ucap Adilla di saat sarapan paginya.


"Hem, pastinya. Apa sih yang nggak buat seorang Dilla?" ucap Sandy terkekeh.


"Ka Dilla, aku juga akan kuliah di kampus tempat Kakak kuliah deh," ucap Dion.

__ADS_1


"Aku juga akan masuk ke SLTA dimana Ka Dion sekolah dech," ucap Karmila ikut saja berkata.


"Hem, kamu itu suka sekali ikut-ikutan dech Mila," ucap Dion terkekeh.


"Dimana pun kalian bersekolah itu sama saja, yang terpenting itu serius dalam belajar. Apapun keinginan ketiga anak Papah, akan selalu papah dukung tapi....


"Ah, papah mah selalu begitu ada tapiny segala," Dion memotong pembicaraan Sandy.


"Jelas ada tapinya donk, papah itu nggak mau memanjakan kalian. Papah dukung apapun yang terpenting itu positif," Ical Sandy.


Suasana selalu ramai sejak Nayla mempunyai dua anak lagi. Dan kini keduanya sudah terlihat besar. Dan Adilla juga akan bekerja sesuai lulus kuliah.


"Sarapannya hayo, jangan di biarkan begitu saja. Papah, biarkan anak-anaknya menghabiskan sarapan mereka dulu. Kalau di ajak ngobrol terus pasti yang ada nantinya sarapan nggak habis," tegur Nayla.


"Iya, mamah sayang. Maaf ya."


Kini semua fokus dengan sarapan mereka dan setelah itu ketiga anak Nayla berpamitan pergi ke sekolah masing-masing. Kini hanya tinggal Nayla dan Sandy saja.


"Sayang, terima kasih ya. Pada akhirnya kamu bisa membuka hatimu untukku hingga kita kini punya dua buah hati. Dan nggak terasa mereka sudah besar-besar," ucap Sandy tersenyum seraya menggenggam jemari istrinya.


"Nggak usah berterima kasih, seharusnya aku minta maaf karena selama kita menikah, Mas Sandy menunggu lama diriku untuk benar-benar bisa menerima Mas sebagai suami. Aku minta maaf ya mas."


"Sayang, kamu tak perlu minta maaf. Sekarang ini kita berbahagia bersama dengan ketiga anak kita. Jadi tak perlu lagi kita memikirkan masa lalu," ucap Sandy.


"Iya, mas. Aku sudah cukup bahagia dengan pernikahan kita. Yang pada awalnya aku sempat takut jika kamu tidak bisa menjadi seorang imam yang baik. Ternyata aku salah, dalam menilai dirimu mas. Kamu benar-benar seorang suami yang setia dan tanggung jawab," puji Nayla.


Sementara sepanjang perjalanan ke kampus, Adila tersenyum sinis. Di dalam hati ada niat yang tersembunyi yang tak di ketahui oleh orang tuanya.


"Saat ini adalah saat yang telah lama aku tunggu. Saat dimana aku ini melihat kehancuran Saka! tanpa papah dan mamah cerita, aku tahu semua kebusukan Saka!"


"Bukan hanya mamah yang telah di sakit olehnya, tapi juga Papah Sandy, Oma dan terutama opa."

__ADS_1


"Tunggu tanggal mainnya ya, Tuan Muda Saka. Aku pasti akan datang padamu secepatnya."


__ADS_2