
"Papah sudah sadar, bagaimana kondisi papah? aku panggilkan dokter ya, biar ia datang ke rumah ini."
Pada saat Sandy akan melangkah pergi, Alan memanggilnya.
"Sandy, duduklah!" perintah Alan.
Sandy pun menjatuhkan pantatnya di kursi dekat ranjang dimana saat ini Alan berbaring.
"Ada apa, pah? apa Papah butuh sesuatu?" tanya Sandy memicingkan alisnya.
"Nggak, Sandy. Papah hanya ingin mengobrol denganmu sebentar saja. Terima kasih, karena kamu telah menolong nyawa papah. Jika tidak, mungkin papah sudah ada di dalam kubur," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Alan mulai sadar akan kesalahannya pada Alan.
"Pah, jangan mengatakan hal buruk untuk diri sendiri. Itu tidak baik, jika aku tidak menolong papah atau aku tidak melihat kejadian itu. Pasti siapa pun orang yang telah melihatnya juga akan melakukan hal yang sama sepertiku. Dan pastinya papah selamat," ucap Sandy seraya mengusap lengan Alan.
"Sandy, kenapa kamu menyembunyikan hal besar pada papah?" tanya Alan protes.
"Maksud papah hal besar apa, pah?" tanya Sandy ia tak tahu apa yang di maksud dengan perkataan Alan.
"Jika kamu menikahi wanita yang pernah di rudal paksa oleh kakakmu sendiri. Jika kamu katakan yang sejujurnya pasti papah tidak akan mengusirmu dari rumah," ucapan Alan penuh dengan penyesalan.
"Pah, apakah mamah yang menceritakan hal ini?"
"Iya, Sandy. Karena mamah tak rela anak sebaik dirimu terus saja di salahkan oleh Papah."
Nany memotong pembicaraan antara Alan dan Sandy.
"Ya Sandy. Jika mamahmu tidak bercerita, Papah bisa selamanya benci padamu, dan berpikir buruk terus padamu," ucap Alan membenarkan perkataan istrinya.
"Pah, aku melakukan hal itu karena aku pikir papah pasti akan menolak Nayla dan Dilla jika tahu kebenarannya. Dan aku pikir Papah tidak akan percaya jika Dilla adalah anak kandung Mas Saka."
Sandy menceritakan ulang awal mula ia kenal dengan Nayla dan Dilla. Sejenak Alan begitu seksama mendengar cerita dari Sandy.
"Sandy, apa Saka menghubungimu dengan bertanya tentang papah?" tanya Alan.
"Tidak, pah. Mungkin ia tak hubungi aku karena memang sampai detik ini aku belum memberi tahu pada Mas Saka jika saat ini papah ada bersama denganku."
__ADS_1
"Aku pikir, waktunya belum tepat. Aku akan mengatakannya nanti jika papah sudah benar-benar pulih."
"Karena apa yang telah menimpa pada papah ini adalah suatu unsur kesengajaan. Ada seseorang yang telah menyabotase rem mobil Papah."
"Jika papah pulang dalam kondisi masih seperti ini. Aku khawatir pelakunya akan nekad mencelakai ulang papah."
"Aku hanya ingin cari aman saja, pah. Apakah papah sudah ingin pulang? jika iya, nanti aku antar papah pulang."
"Sekalian saja mamah ikut ya, supaya bisa merawat papah sampai sembuh."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sandy, Nany langsung menolaknya.
"Nggak Sandy, mamah nggak mau pulang. Mamah sudah nyaman tinggal di sini bersama dengan menantu dan cucu mamah. Jika Papah ingin di rawat oleh mamah, ya sebaiknya di sini saja," ucap Nany
'Ya sudah, biar papah di sini saja dulu untuk sementara waktu. Karena papah juga ingin mamah saja yang merawat papah," ucap Alan.
"Apa papah yakin? di sini tidak ada asisten rumah tangga, di sini juga kondisi rumah seperti ini tidak semewah rumah papah," ucap Sandy.
"Sandy, apa kamu sebenarnya tak suka jika papah ada di rumah ini?" Alan mulai tersinggung.
"Bukan begitu, pah. Aku hanya tak ingin papah tak nyaman saja di sini karena terbiasa hidup di rumah mewah. Dan aku juga tak ingin jika papah bersikap buruk pada istri dan anakku," ucap Sandy.
"Ya aku tak mau pada saat tidak ada aku atau Mamah, Papah menemui istri atau anakku dan mengatakan hal buruk pada mereka. Karena mereka ini miskin, bukannya papah sangat anti dengan orang desa dan miskin?" sindir Sandy.
"Astaga, Sandy. Sampai sejauh ini pemikiranmu tentang papah? papah tidak ada niat sedikitpun untuk mengatakan hal itu pada istri dan anakmu. Apa lagi setelah mamah cerita banyak hal tentang anak dan istrimu," ucap Alan.
"Benarkah, pah?" Sandy merasa ragu dengan apa yang dikatakan oleh Alan.
"Iya, Sandy. Papah minta maaf atas sikap papah selama ini padamu ya," ucap Alan.
"Ya, pah. Sudahlah tak usah membahas masa lalu, pah," ucap Sandy.
"Mah-pah, aku kembali ke restoran lagi karena Nayla sendirian kasihan."
Saat itu juga Sandy melangkah keluar dari kamar mamahnya. Ia pulang sejenak karena untuk mengetahui kondisi Papahnya.
"Hem...apa iya papah bisa menerima Nayla dan Dilla? kenapa aku belum yakin dengan sikap dan perkataan Papah ya? seharusnya aku senang dengan perubahan positif yang terjadi pada papah."
__ADS_1
"Apa benar jika papah ini benar-benar tulus dalam meminta maaf padaku? ah kenapa aku jadi berprasangka buruk pada papah ya?"
Terus saja Sandy menggerutu di dalam hatinya, ia belum sepenuhnya yakin jika Papahnya benar-benar telah berubah menjadi orang baik.
Sesampainya di restoran, Sandy langsung membantu Nayla yang sedang kewalahan menerima beberapa orderan pesanan dalam jumlah yang cukup banyak.
Beberapa menit kemudian, kondisi restoran sudah tidak begitu ramai.
"Nayla, sebaiknya kamu istirahat saja. Makanlah bersama dengan Dilla," ucap Sandy.
"Nggak mau, pah. Aku mau makan bareng bukan hanya dengan mamah saja tetapi juga dengan Papah. Kan asik jika makan ada mamah dan papah," ucap Adilla.
Hingga pada akhirnya, Sandy pun menuruti kemauan Adilla. Mereka bertiga makan bersama di ruang kerja. Suasana begitu hangatnya walaupun Nayla hanya sesekali berbicara.
"Coba ya, aku punya adik. Pasti suasana makan bertambah ramai. Apa lagi kalau adikku nggak cuma satu, ada dua atau tiga. Wah ..aku senang banget dech di panggil seorang kakak."
"Uhuk-uhuk"
Perkataan Adilla sontak saja membuat Nayla tersedak.
Dengan sigap, Sandy mengambilkan air putih.
"Terima kasih ya, mas." Nayla menerima air putih pemberian dari Sandy.
"Mah, aku minta maaf ya. Pasti ini karena ulah aku ya?" Adilla ketakutan.
"Nggak kok, sayang. Mamah memang sedang kesedak saja. Bukan karena perkataanmu itu," ucap Nayla tak tega melihat raut wajah Adilla yang terlihat murung.
"Aasikkkk... berarti mamah mau kan? jika memberikan adik untukku? aku kadang merasa kesepian, mah. Jika sedang bermain hanya sendirian. Aku janji dech, akan menjadi kakak yang baik untuk adik-adik ku," ucap Adilla memelas.
Nayla tak berkata apapun, ia hanya diam saja mendengar Adilla kembali mengatakan tentang adik.
"Mas, aku lanjut bekerja ya."
Nayla berlalu pergi begitu saja.
"Pah, kenapa mamah tak merespon perkataanku ya?" tanya Adilla.
__ADS_1
"Sayang, jika sudah waktunya nanti pasti kamu akan punya adik. Jadi jangan sedih ya, sudah selesaikan makananmu," pinta Sandy.