Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Mencoba Tegar


__ADS_3

Rasa sedih terus menyelimuti diri Adila, jauh-jauh dia sengaja datang ke kantor Saka hanya untuk mendapatkan pengakuan darinya. Dia juga sengaja tak masuk sekolah demi mencari ayah kandungnya.


"Dik, kamu kemari dengan siapa?" tanya Natan merasa iba pada Adila.


"Aku datang sendiri, om. Ya sudah aku mau pulang, terima kasih ya om sudah antar aku hingga di sini."


Adila melangkah keluar pelataran kantor mewah itu.


"Sebenarnya aku ingin mengantarnya pulang, tetapi itu tidak mungkin karena ini jam kerja. Pasti nanti Tuan Muda Saka akan marah besar jika aku pergi di jam kerja," Natan terus saja menatap kepergian Adila.


"Aku tak boleh menangis, nanti yang ada mamah sedih bahkan bisa marah jika tahu aku telah kemari. Apa mungkin ini yang menyebabkan mamah mengatakan padaku jika papah telah meninggal?" batin Adila di penuhi tanda tanya.


Adila lekas memesan taxi on line untuk pulang ke rumahnya.


Sementara di rumah, Nayla sedang gelisah karena tak mendapati Adila pulang kerumah.


"Kemana perginya Adila, aku sudah tanya pada teman-temannya katanya dia tak berangkat sekolah. Di telpon nggak mau angkat, apa nggak tahu ya kalau aku sedang mengkhawatirkan dirinya?"


Nayla terus saja mondar mandir menantu kepulangan anaknya. Selagi gelisah melintaslah para tetangga.


"Nayla, aku dengar dari warga desa tetangga. Anakmu itu tidak ada bapaknya ya?"


"Iya, Bu. Aku juga kaget pada saat tahu hal ini. Aku pikir Nayla ini wanita baik-baik, ternyata dia itu wanita murahan!"


"Heh, kalian jangan menghina mamahku! aku punya papah dan mamahku ini wanita hebat dan luar biasa, dia bukan wanita murahan seperti yang kalian katakan! justru mulut kalian itu yang murahan, berucap tak pake akal!"


Tiba-tiba datang Adila membela Nayla.


"Heh, anak anak kecil! berani sekali kamu berkata tak sopan pada orang tua! apa ini yang mamahmu ajarkan, hah!"


"Dasar anak haram!"


"Jika kalian berdua ingin aku sopan pada kalian, seharusnya kalian itu bisa jaga sikap juga. Enak saja minta aku sopan sementara kalian ini hina mamahku!" bentak Adila dengan lantangnya.


"Adila, masuk dalam rumah."


Nayla menuntun anaknya masuk rumah.

__ADS_1


"Mah, kenapa mamah selalu diam jika ada yang hina kita?" tanya Adila dengan mata berair.


"Dila, sayang. Kamu nggak boleh bersikap seperti ini, nak. Bagaimana kalau nanti kita di usir dari desa ini karena sikapmu itu? nggak semua kejahatan harus kita balas dengan kejahatan apalagi ..


Nayla berhenti berkata, dia hampir saja keceplosan mengatakan bahwa apalagi memang Adila tak ada papahnya.


"Apalagi kenapa, mah?" tanya Adila penasaran.


"Sudahlsh, tak usah kamu bahas perkataan para tetangga. Mamah ingin tanya, kamu darimana dan kenapa bolos sekolah? yang mamah tahu, Dila itu anak rajin dan pintar serta tak pernah bolos sekolah." Nayla menatap tajam ke arah Adila.


"Aduh, aku harus katakan apa ya pada mamah?" batin Adila mencari-cari alasan yang tepat.


"Dila, kenapa kamu hanya diam saja?" kembali lagi Nayla bertanya.


"Anu mah, aku dari itu mah anu hem lihat wahana bermain. Karena mamah tak pernah ajak aku kemana-mana," ucap Adila berbohong.


"Dila, kamu tak bisa bohongi mamah. Karena kamu itu bukan seorang pembohong. Kamu selalu jujur mengatakan apa pun. Katakan sejujurnya, kamu itu dari mana?" tanya Nayla.


Kebetulan warung makan sedang sepi hingga Nayla bisa ngobrol santai dengan Adila.


"Dari mana katakan!" Nayla semakin penasaran.


"Sabar, mah. Bagaimana aku akan mengatakan jika mamah memotong perkataanku?" ucap Adila seraya menghela napas panjang.


"Baiklah, maafkan mamah."


Nayla pun terdiam sejenak.


"Mah, aku barusan menemui papah."


Adila tertunduk takut.


"Papah? menemui? kan mamah sudah katakan jika papahmu sudah meninggal dan makamnya jauh dari sini, makanya kita tak bisa kesana," ucap Nayla.


"Mah, aku sudah tahu kok kalau sebenarnya papah itu masih hidup. Kenapa mamah berbohong padaku? bukankah mamah yang selalu mengajarinya aku supaya utamakan kejujuran dalam segala hal," protes Adila.


Nayla tak bisa berkata apapun, matanya berkaca-kaca seolah sedang menahan untuk tidak menangis.

__ADS_1


"Mah, jangan menangis lagi. Simpan air mata mamah, tak usah menangisi papah yang jahat itu."


Adila bisa merasakan jika mamahnya akan menangis.


Kembali lagi Nayla hanya terdiam, tak bisa berkata apapun hingga akhirnya dia pun bertanya lagi.


"Memangnya siapa papahmu jika memang kamu telah tahu tanpa mamah memberi tahu padamu?" tanya Nayla penasaran.


"Papahku adalah Tuan Muda Saka pemilik perusahaan terbesar yang bernama Antara Group. Dia menjabat sebagai direktur utama di perusahaan itu," jawab Adila dengan tegasnya.


"Hah, darimana Adila tahu tentang Tuan Muda Saka? karena yang tahu hal ini cuma aku dan almarhumah ibu serta nenek," batin Nayla heran.


"Mah, tak perlu lagi mamah sembunyikan jati diri papah padaku. Aku minta maaf sebelumnya, aku tak sengaja telah baca buku diary mamah pada saat aku sedang mencari foto papah," Adila kembali tertunduk.


Tiba-tiba Nayla menangis seraya memeluk anaknya. Di dalam benaknya kembali terlintas masa lalu yang sangst pahit bagi dirinya.


"Mah, bukannya aku sudah katakan barusan. Mamah tak usah menangis, aku janji tak akan bertanya lagi pada mamah tentang papah. Kini aku telah tahu, mengapa mamah menyembunyikan jati diri papah," ucap Adila menitikkan air mata mengingat penolakan dari Saka.


Adila mengusap punggung Nayla supaya mamahnya tidak terus menangis.


"Nak, apa kamu berhasil bertemu Tuan Muda Saka?" tanya Nayla merenggangkan pelukannya dan menatap lekat wajah Adila.


"Bertemu, mah. Tapi ia menolakku dan mengatakan bahwa aku ini bukan anaknya. Karena ia mengatakan sama sekali belum menikah," ucap Adila.


"Adila, seharusnya kamu tak perlu kesana," ucap Nayla.


"Sudahlah, mah. Semua sudah terjadi, mau di apain lagi. Aku kan juga ingin seperti anak yang lain punya papah, tetapi ternyata seperti ini," ucap Adila.


Nayla hampir tak percaya dengan sifat dan kedewasaan Adila. Di usianya yang baru enam tahun, cara berpikirnya luar biasa.


"Aku heran kenapa anakku cara berpikirnya kok seperti orang dewasa ya? padahal dia itu baru umur enam tahun. Bagaimana jika sudah dewasa ya? apa otaknya yang cerdas itu turunan dari Tuan Muda Saka?" batin Nayla.


"Untung saja di dalam buku diary tidak aku katakan jika aku hamil karena di rudal paksa oleh Tuan Muda Saka. Tak bisa di bayangkan, mungkin Adila akan semakin benci pada Papahnya," batinnya lagi.


Berbeda lagi suasana di kantor Saka, dia sedang termenung mengingat-ingat yang telah lalu.


"Apa memang gadis cilik itu adalah salah satu anak dari wanita yang pernah aku tiduri? tapi banyak wanita yang aku tiduri, mereka mengaku perawan tapi ternyata sudah bolong. Tapi ada satu...yah...gadis itu...hanya dia yang benar-benar masih perawan," batin Saka.

__ADS_1


__ADS_2