
Mendengar apa yang di katakan oleh Sandy, hati Nathan lega. Awalnya memang ia ragu.
"Ternyata Tuan Sandy tahu apa saja yang ada di dalam hatiku ini. Ya sudah, nanti aku akan cerita sejujurnya pada Tuan Saka tentang pertemuanku dengan, anda. Jika begitu saya permisi dulu ya Tuan," pamit Nathan.
Pada saat ia akan membayar makanan yang ia makan, Sandy melarangnya.
"Sudah, tak usah. Restoran ini punyaku dan istriku, sampaikan saja salam untuk Mas Saka dariku ya," ucap Sandy.
Segera Nathan kembali, karena ia sudah terlalu lama bercengkrama dengan Sandy.
Di dalam hatinya ada rasa senang karena sekian lama bisa bertemu dengan Sandy, tetapi juga ada rasa khawatir jika benar-benar akan terjadi perang antara adik dan kakak.
Seperginya Nathan, Nayla datang menghampiri suaminya.
"Mas Sandy, sepertinya orang tadi itu pernah aku lihat?" tanya Nayla penasaran.
'Iya, sayang. Itu kan dulunya orang kantor. Kebetulan ketemu di sini jadi aku menyapanya. Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Sudah selesai kan urusan di restoran ini, sebaiknya kita pindah ke restoran cabang yang lainnya."
"Atau kamu cape, jika cape biar aku saja yang cek setiap restoran.. Mending kamu
istirahat di rumah saja."
Sandy sengaja tak mengatakan banyak hal tentang Nathan pada Nayla. Ia tak ingin Nayla menjadi khawatir kalau mendengar jika Saka sedang mencari keberadaan Adilla.
"Biar urusan Dilla aku yang tangani, Mas Saka tidak bisa mengambil seenaknya Dilla yang sudah menjadi anak kandungku dari ia di campakkan begitu saja olehnya. Kini seenaknya ia memerintah Nathan untuk mencari keberadaan, Dilla," batin Sandy tidak ada rasa gentar sedikitpun dengan Saka.
Dulu ia memang selalu mengalah karena ia tak ingin melihat orang tuanya bersedih jika melihat pertengkaran dirinya dengan Saka. Tetapi kini orang tua mereka sudah tidak ada, makanya Sandy akan hadapi apapun resikonya jika memang Saka mengajaknya berperang.
Beberapa jam kemudian....
__ADS_1
Nathan telah sampai di kantor milik Saka.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu, apakah kamu berhasil mencari tahu dimana keberadaan Adilla dan ibunya?"
Baru sampai, Nathan sudah di jejal pertanyaan oleh Saka. Sebenarnya Nathan sudah jengah bekerja pada orang jahat seperti Saka. Ia bertahan demi istri dan anaknya yang selalu mendapatkan ancaman dari Saka jika Nathan risgn.
"Sudah, Tuan. Adilla sudah menjadi anak dari adik anda sendiri karena Tuan Sandy menikahi ibunya," ucap Nathan tegas.
'Hah, apa aku nggak salah dengar?" tanya Saka masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nathan.
"Iya, Tuan. Anda tidak salah dengar, tadi saya bertemu dengan Tuan Sandy dan ibunya Adilla secara langsung. Dan ternyata mereka itu telah menikah."
"Apa anda ingat pada saat dulu, Tuan Sandy menikahi seorang wanita yang memiliki anak? yang di nikahi itu adalah ibunya Adilla."
Mendengar penjelasan dari Nathan, bukannya ia senang telah mendengar kabar tentang keberadaan adiknya pula. Justru ia menggertakkan giginya dan juga mengepalkan tinjunya.
"Hem, ternyata wanita yang telah di nikahi Sandy adalah ibunya Adilla? aku pikir wanita lain, bodohnya aku waktu itu juga tak menyelidiki siapa yang telah di nikahi oleh Sandy," ucap Saka kesal.
"Tuan Besar-Nyonya Besar, susah tiada sejak satu tahun yang lalu," ucap Nathan singkat.
"Apakah kamu tahu dimana tepatnya rumah Sandy sekarang?" tanya Saka semakin bersemangat untuk bisa menemui Sandy. Bukan karena sudah lama tak bertemu dan ia kangen. Tetapi ingin merebut Adilla.
'Waduh, maaf Tuan. Saya lupa tidak menanyakan hal itu, tetapi saya tahu bagaimana cara supaya bisa tahu rumahnya, karena ia punya usaha restoran dimana-mana. Dan tadi juga saya bertemu tak sengaja pada saat Tuan Sandy dan istrinya mengecek salah satu restorannya," ucap Nathan.
"Hem...ya sudah, kamu cari tahu lagi dimana rumah Sandy. Setelah jelas alamatnya, kita ke sana untuk menemui Adilla. Bila perlu kita bawa paksa anak itu," ucap Saka.
Saat itu juga Nathan mencari tahu lewat laptopnya tentang restoran yang barusan ia sambangi. Dan hanya beberapa menit saja ia bisa tahu di mana letak rumah Sandy.
"Tuan Saka, saya sudah tahu dimana alamat rumah Tuan Sandy," ucap Nathan dengan pasti.
__ADS_1
"Bagus, esok pagi kita ke sana. Dan jika perlu aku akan membawa banyak orang. Hanya untuk antisipasi jika Sandy melarang aku membawa pulang Adilla," ucap Saka.
Di dalam hati Nathan, ia benar-benar tak suka dengan sifat Saka.
"Dulu, menolak mentah-mentah dan bahkan mengatakan bahwa Adilla bukan anaknya. Kini setelah sendiri merasakan kesepian tak punya anak, baru seperti ini."
"Seenaknya saja mau ambil anak orang dengan paksa. Aku yakin ibunya Adilla pasti tidak akan menyetujuinya. Waduh, bakalan terjadi perang jika seperti ini."
******
Esok paginya, Saja sudah bersiap-siap akan pergi. Tetapi ia terhalang oleh istrinya.
"Mas Saka, kamu mau kemana pagi-pagi sekali? jangan berbohong dengan mengatakan akan ke kantor. Karena nggak mungkin sepagi ini kamu ke kantor," ucap Santi menyelidik.
"Hem, apa aku harus laporan setiap kali aku keluar dari rumah? tugas kamu itu di rumah, mengurus rumah. Dan tugasku di luar mencari uang. Nggak usah kamu banyak pertanyaan yang membuatku tersita waktunya."
Saka berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan Santi yang masih terpaku diam menatap kepergian dirinya melangkah ke pelataran rumah dimana Nathan sudah siap di balik kemudinya.
"Hem, kenapa gerak gerik Mas Saka mencurigakan ya? ini tidak bisa di biarkan, aku harus mengikuti kemanapun mobilnya pergi."
Tanpa sepengetahuan Saka, Santi telah menelepon sopir pribadinya untuk bersiap-siap mengantarkan dirinya.
Dan pada saat mobil Saka melangkah keluar rumah, mobil yang akan di tumpangi oleh Santi telah terparkir di pelataran rumah dimana tadi untuk parkir mobil Saka.
"Cepetan ikuti mobil suami saya, tapi jangan sampai ia tahu ya pak," perintah Santi pada sang sopir.
"Baik, nyonya."
Mobil Saka terus saja melaju, Saka sama sekali tidak tahu jika saat ini mobilnya di ikuti oleh mobil istrinya. Karena ia sedang asik memainkan ponselnya seraya terus saja tersenyum sendiri.
__ADS_1
Nathan pun tidak menyadari akan hal itu, karena ia juga sedang fokus di balik kemudinya. Ia bahkan pikirannya sedang traveling.
"Benar-benar akan terjadi perang di pagi ini. Untung saja Tuan Saka melupakan sesuatu di pagi ini. Jika ia berniat akan membawa banyak anak buahnya turut serta ke rumah Tuan Sandy. Gara-gara tadi heboh dulu dengan istrinya yang luar biasa cerewet itu," batin Nathan.