
Sejak saat itu, kehidupan Saja mulai banyak perubahan. Ia terlihat murung dan sering sakit-sakitan. Di saat sakit, istrinya bukannya merawat ia dengan baik, tetapi selalu saja marah-marah.
"Mas Saka, kenapa sih sekarang kamu jadi gampang sekali sakit? merepotkan aku saja tahu nggak?" bentaknya seraya berkacak pinggang.
"Astaga, Santi. Aku juga tidak ingin sakit seperti ini. Jika saja waktu itu kamu tidak bersikap kasar pada, Dilla. Pasti saat ini aku tidak sakit karena ada yang membantu urusan kantor. Aku ini kecapean, hingga seperti ini. Kamu bukannya iba padaku malah ngomel-ngomel terus," ucap Saka lirih menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Hem, Dilla lagi Dilla lagi! kenapa dulu tidak kamu rawat dia jika sekarang kamu menyesal hingga membuat kupingku risih, mendengar Dilla dan Dilla terus!" bentak Santi.
"Memang iya, aku salah kenapa dulu aku menolaknya dan bahkan aku ingkar padanya pada saat kami melakukan tes DNA. Aku malah habis-habisan menuduh ibunya bermain dengan pria lain. Padahal jelas hasil tes DNA itu menunjukkan kalau Dilla 99,99999% anakku," ucap Saka lirih.
"Hem, pantas saja aku jadi ikut menanggung dosamu!' sindir Santi.
"Apa maksud perkataanmu ini, Santi?" tanya Saka memicingkan alisnya.
"Karena perbuatanmu itu aku harus ikut merasakan karmamu, mas. Aku yang tidak tahu apa-apa harus ikut menanggung kesalahan dengan mendapatkan hukuman, aku jadi tidak bisa punya anak," ucap lantang Santi.
"Seenaknya saja kamu mengatakan akan hal ini. Justru kamu yang mandil bukan? pada saat itu kita periksa ke dokter bersama?" Saka mulai tersulut emosi.
"Kamu salah, mas. Aku tidak mandul, pada saat itu hasil pemeriksaan tertukar. Tetapi pada saat aku ingin meninggalkan dirimu, mendiang orang tuaku melarang. Dengan harapan suatu saat nanti aku bisa punya anak darimu. Tetapi malah seperti ini! semua karena hukuman dari Allah! kamu yang banyak dosa, aku ikut merasakan deritanya! menyesal dulu aku menuruti permintaan mendiang orang tuaku! jika pada akhirnya seperti ini!' ucap Santi lantang.
Saka sudah tidak bisa berkata lagi, ia hanya diam saja. Hal ini membuat Santi semakin menyerang dirinya.
"Hem, bisanya hanya diam seperti ini bukan? Sekarang sudah tua seperti ini. mana mungkin bisa punya anak!" Santi berlalu pergi dari hadapan Saka.
"Santi, kamu mau kemana?" teriak Saka.
__ADS_1
"Aku lelah, mas. Aku ingin istirahat cape, urusin orang penyakitan kaya kamu! sudah tua bukannya tinggal menikmati ketenangan, kebahagiaan. Malah seperti ini!" bentak Santi terus saja melangkah.
"Ya Allah, apa yang aku takutkan sudah terjadi. Kini aku menjadi seorang pesakitan seperti ini. Perlahan harta mulai terkuras untuk biaya berobat. Dan sepi tidak ada canda tawa anak," gimana Saka dengan mata berkaca-kaca.
Ia mulai menyadari akan kesalahannya dahulu terutama pada mendiang orang tuanya.
"Mah-pah, aku jadi ingat kalian. Terutama pada papah, yang dulu aku di manja di perhatikan sekali. Tetapi aku malah merampas semuanya dan mengusir papah begitu saja."
"Aku ingin minta maaf ke makam kalian, tetapi aku sama sekali tidak tahu dimana makam kalian. Aku ingin tanya pada, Sandy. Tetapi ia sudah menghilang entah kemana. Bahkan ia sudah tak mau mengakui aku sebagai seorang kakak."
Demikian keluh kesah Saja, di sela merasakan tubuhnya yang sedang sakit. Ia selalu saja periksa ke dokter, padahal tidak di temukan suatu penyakit yang serius. Tetapi sakitnya tak kunjung sembuh.
Sementara Santi di dalam kamar juga sedang berpikir.
"Jika seperti ini, semua harta bisa terkueas habis hanya untuk biaya rumah sakit, Mas Saka. Padahal semua ini sudah menjadi milikku seutuhnya. Ini tidak bisa di biarkan, aku harus pergi dari rumah ini dan membawa semua harta milikku. Aku akan membawa pergi sejauh mungkin. Karena kebetulan seluruh kerabatku di luar negeri. Aku akan ke luar negeri saja," batin Santi.
Dan ia lekas mencari semua dokumen penting, uang, dan perhiasan, serta tabungan. Yang semuanya itu di simpan di satu tempat dan Santi tahu akan hal itu. Yakni di sebuah brankas.
Setelah semuanya harta ia masukkan ke dalam tas selempangnya yang besar. Ia lekas memesan tiket pesawat lewat ponselnya.
"Hem, untung saja aku langsung mendapatkan penerbangan yang awal. Hingga aku bisa secepatnya pergi dari sini."
Saat itu juga Santo bersiap-siap dengan pakaian yang sudah ia siapkan untuk di kenakan pada saat pergi. Saka yang datang dengan kursi rodanya merasa heran melihat Santi telah berdandan dan juga melihat saru kompor besar.
"Santi, kamu mau kemana?" tanya Saka penasaran.
__ADS_1
"Apa matamu sudah tidak bisa melihat, mas? hingga kamu masih saja bertanya? baiklah akan aku beri tahu padamu ya? aku sudah lelah hidup denganmu pria tua yang berpenyakitan."
"Aku menyesal tidak pergi dari hidupmu pada saat aku masih muda dulu. Hanya karena mendiang orang tusku yang selalu memintaku untuk tetap ada di sisimu."
"Kini sudah tidak ada lagi mendusbg orang tuaku. Jadi aku bisa pergi dengan bebas. Aku sudah lelah mengurusmu! bukannya untung tapi buntung!"
"Hartaku lama-lama bisa habis untuk biaya dokter prabg pendosa seperti dirimu."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Santi, membuat Saka panik. Ia dengan susah payah di kursi rodanya menghampiri Santi dan mencekal pahanya.
"Santi, aku mohon kamu jangan pergi. Jika kamu pergi lantas aku dengan siapa? aku akan sendirian di sini?" rengeknya memohon.
"Bodo amat, mas. Dari pada semakin lama, hartaku habis. Sebaiknya aku amankan dan pergi dari sini. Lagi pula sudah cukup kamu menikmati semua kekayaan. Makanya sekarang yang kuasa memberimu sakit yang berkepanjangan," ucap Santi seraya menepiskan tangan Saja yang terus saja memegang celananya.
Saat itu juga Santi lekas pergi dengan membaea koper besarnya dan tas selempang yang besar dimana isinya semua dokumen penting, perhiasan, serta uang yang jumlahnya cukup banyak.
"Santi.....tunggu...aku mohon....."
Dengan susah payah, Saka melajukan kursi rodanya untuk mengejar Santi. Tetapi ia malah jatuh, kursi roda terjungkir.
Sementara Santi sudah pergi dengan mengendarai mobilnya. Dan datanglah Nathan. Ia melihat Saka jatuh dari kursi rodanya lekas membantunya bangkit. Hingga kini Saka sudah berada di kursi rodanya lagi.
"Untung kamu datang, Nathan. Santi pergi meninggalkan aku, Nathan," ucap Saka terisak dalam tangisnya.
"Kamu ada apa kemari? apa ingin membicarakan urusan kantor?" tanya Saka menyeka air matanya.
__ADS_1
"Tuan Saka, ini surat pengunduran saya. Mohon maaf saya tidak bisa kerja lagi di kantor, Tuan. Apa lagi kantor sudah di ambil alih oleh orang lain." Ucap Nathan seraya memberikan amplop putih besar yang isinya surat pengunduran diri.