Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Terpikat Nesa


__ADS_3

Rasa puas saat ini sedang di rasakan Papah Alan dan Saka. Atas ide dari Saka, Papah Alan menuruti saja apa yang di inginkan anak sulungnya itu.


"Pah, sudah jalankan apa yang aku sarankan?" tanya Saka untuk memastikan.


"Sudah, Saka. Papah yakin saat ini pasti Sandy sedang kelimpungan tak bisa mendapatkan pekerjaan," ucap Papah Alan terkekeh.


"Bagus, pah. Jika seperti ini, pasti Sandy akan rela berpisah dari istri kampungnya itu dan kembali ke rumah kita dengan membawa mamah," ucap Saka.


"Apa kamu yakin dengan cara ini akan berhasil memisahkan Sandy dari wanita tak jelas yang di nikahi oleh adikmu itu?" tanya Papah Alan ragu.


"Aku yakin sekali, pah. Sandy tak akan tega jika membawa mamah untuk hidup susah bersamanya. Oh iya pah, nanti jika aku menikah juga ingin tetap ada Sandy dan Mamah. Masa iya aku menikah tidak ada ibu dan adik kandungku? pasti reputasi kita bisa hancur, pah," ucap Saka.


"Pastilah, papah juga tak ingin buruk di mata calon menantu dan orang tuanya," ucap Papah Alan.


"Ya sudah ya, pah. Aku akan berangkat ke kantor karena kebetulan hari ini aku akan adakan interview karyawan baru jadi harus berangkat lebih awal," pamitnya.


Saat itu juga Saka berangkat dengan di sopiri oleh Nathan. Dan hanya beberapa menit sudah sampai di pelataran kantor.


"Nathan, nanti langsung saja kamu siapkan berkas para pelamar kerja. Aku akan mulai lebih awal saja untuk menginterview para pelamar kerja," perintah Saka seraya keluar dari mobil dan melangkah pasti masuk ke dalam kantor menuju ke ruang kerjanya.


Sementara Nathan langsung saja memarkirkan mobilnya, setelah itu langsung menjalankan perintah dari Saka.


"Hem repot juga menjalankan dua tugas, bukan hanya menjadi sopir pribadi tapi juga merangkap sebagai asisten pribadi di kantor. Orang kaya pelit, kenapa nggak mencari satu pegawai yang bertugas menggantikanku sebagai asisten pribadi. Karena aku cape, kerjanya dobel tapi gaji tetap," batin Nathan ngedumel.


Setelah semua berkas ada di meja Saka, Nathan tak lantas berdiam diri. Ia pun mengerjakan tugas yang lainnya. Sejak tak ada Sandy, tugas Nathan menjadi menumpuk dan bertambah banyak.


Beberapa menit datanglah pelamar pertama yang mendapatkan panggilan interview dari Nathan atas perintah Saka.

__ADS_1


"Tok tok tok tok"


Pelamar ini mengetuk pintu ruang kerja Saka.


"Masuk" Satu jawaban singkat dari dalam ruangan.


"Wuih, ternyata bukan hanya fotonya saja yang cantik. Aslinya juga cantik, postur tubuhnya bak model. Wow gayanya style dan body bak gitar spanyol," batin Saka seraya matanya terus saja menatap ke arah wanita yang melamar pekerjaan itu.


Apalagi wanita itu sengaja sekali dengan mengenakan baju yang belahan dadanya sangat terlihat dua benda kenyal sedikit mencuat, membuat Saka tak berkedip seraya menelan salivanya.


Libidonya langsung naik, sesuatu di bawah sana di balik celana kainnya meronta ingin keluar dan bahkan body aduhai wanita itu saja telah berhasil membuat adik Saka tegang tersengat aliran listrik yang terpancar dari body wanita itu.


"Siapa namamu cantik, dan statusmu singlie or menikah?" tanya Saka dengan mata sesekali melirik ke dada wanita itu.


"Ya ampun, Tuan Muda Saja Yang Terhormat. Apa anda belum membaca CV saya? masa iya saya sudah terlihat seperti seorang yang sudah menikah?" ucapnya genit membuat Saka semakin gemas padanya.


"Hhee maaf, karena aku terpukau dengan paras ayu dan bodymu yang aduhai hingga tak fokus."


"Masa sih, Tuan. Pujian anda begitu membuat saya terbang melayang," ucap wanita itu sengaja mencondongkan badannya ke depan hingga duabebda kenyal yang ada di dadanya begitu terlihat dan semakin menggoda Saka.


"Hem, betewe kamu sudah punya pacar belum?" tanya Saka penasaran seraya melirik ke arah dada wanita itu.


Ia sudah tak sabar ingin melahap dan menikmati dia benda kenyal milik wanita yang ada di hadapannya itu.


"Hem, mana ada yang mau pacaran sama saya Tuan."


"Masa sih?"

__ADS_1


Mendengar dan melihat tingkah Saka dan wanita itu, membuat Nathan jengah dan sangat tak suka.


"Sifat buruknya kambuh jika melihat wanita model beginian. Padahal menurutku wanita ini tidak cantik tapi biasa saja hanya dandanannya saja yang terlihat wow. Hem, beda sekali dengan sifat Tuan Muda Sandy."


"Padahal ia pemuda yang sangat baik, malah di pecat secara tak tehormat dari kantor ini. Malah anak yang modelan begini di pertahankan."


"Sebenarnya apa yang membuat Tuan Sandy terusir dari kantor ini? dan saat ini ia dimana ya, kok sama sekali tak pernah terlihat?"


Nathan terus saja menggerutu di dalam hatinya, ia benar-benar tak suka dengan sikap bosnya itu. Kepergian Sandy dan pernikahannya tak ada yang tahu hanya Saka dan Alan saja yang tahu, serta orang perintahan Alan.


Ayah dan anak ini sengaja menyembunyikan hal itu, karena menurut mereka adalah suatu aib.


"Oh iya, tadi kamu belum jawab pertanyaanku. Siapa namamu, sayang?" tanya Saka semakin tak terkendali.


"Ih, tampan-tampan tapi bego. Padahal di CV sudah jelas sekali ada nama dan statusku. Apa yang ia lihat cuma fotoku saja? tapi biarlah, aku lihat Tuan Muda Sama tertarik dengan diriku. Bukankah ini yang selama ini aku inginkan," batin wanita ini.


"Hey cantik, di tanya kok diam saja? apa yang sedang kamu lamunkan?" tegur Saka seraya tangannya mulai genit mencolek pipi mulus wanita itu.


"Nama saya Nesa, Tuan Muda Saka."


"Hem, satu nama yang sangat bagus dan cantik secantik orangnya. Aku ada satu penawaran bagus untukmu, Nesa. Jika kamu mau menerima penawaran dariku, aku akan menerima dirimu kerja disini bahkan sebagai sekretaris pribadiku."


Mendengar perkataan dari Saka, hati Nesa berbunga-bunga. Karena memang tujuan ia datang ke kantor itu untuk melamar kerja dan mendapatkan posisi yang selalu bisa dekat dengan Saka.


"Hem, apa tawaran itu Tuan? lantas misalkan saya bersedia menerima tawaran dari Tuan, apakah Tuan tidak ingkar janji dengan memposisikan saya di kantor sebagai sekretaris pribadi anda?" tanya Nesa ragu.


"Nggak lah sayang, saya ini lelaki yang tak pernah ingkar akan janji saya," ucap Saka meyakinkan Nesa.

__ADS_1


"Baik, katakan saja apa tawaran itu Tuan?" tanya Nesa penasaran.


"Hem, aku ingin saat ini juga kamu bermalam denganku di satu hotel. Apakah benar kamu belum pernah terjamah, jika iya aku bahkan akan menjadikan dirimu pacarku," bisiknya lirih masih bisa di dengar oleh Nathan yang ada di ruangan itu.


__ADS_2