Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Seperti biasa Nayla tak mau mengatakan yang sejujurnya pada Adilla kenapa ia benci pada Tuan Muda Saka. Karena menurutnya, Adilla masih sangat kecil untuk mengetahui urusan orang dewasa. Hingga ia hanya berlalu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari anaknya.


**********


Keesokan paginya, pukul tujuh pagi. Adilla gelisah, ia ingat akan hasil tes DNA akan keluar hari ini. Tetapi ia harus berangkat sekolah, karena tak ingin mendapatkan amarah dari mamahnya.


Ia pun mengirim chat pesan pada nomor ponsel Sandy.


[Selamat pagi, papah Sandy. Jangan lupa hari ini adalah hari di mana keluarnya hasil dari tes DNA. Sebenarnya aku ingin sekali mengetahui secara langsung tetapi aku harus sekolah bagaimana ya, Papah Sandy?]


Drt drt drt drt


Notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponsel Sandy. Ia pun langsung membacanya dan tak lupa membalasnya.


[Dilla sayang, kamu nggak perlu khawatir nanti biar Papah Sandy yang mengambil hasil tes DNA tersebut. Nanti jika hasilnya sudah jelas, papah pasti akan ke rumah Dilla untuk memberitahunya.]


Ada kelegaan pada hati Dilla setelah membaca balasan chat pesan dari, Sandy. Ia pun bisa ke sekolah tanpa ada beban pikiran lagi.


Saat itu juga, Sandy meminta Natan untuk mengambil hasil tes genetik ayah. Karena ia juga sudah ingin tahu apakah Adilla benar-benar anak Saka.


Natanpun langsung pergi ke rumah sakit saat itu juga. Akan tetapi pada saat Natan akan membawa hasil tes DNA ke rumah Saka, Saka melarangnya. Ia meminta di bawa ke kantor saja.


Beberapa jam kemudian, Saka dan Sandy telah berada di kantor. Dan Natan juga telah siap dengan hasil tes DNA yang ada di tangannya.


"Selamat pagi, Tuan Saka-Tuan Sandy."


Kemudian Natan menyerahkan berkas itu dan berkata," Tuan Saka, ini adalah hasil tes genetik ayah."


"Selamat pagi, Natan. Duduklah," sapa Saka.


Natan duduk tepat di hadapan Saka dan di samping Sandy.


Saka mengambil berkas itu dan mengeluarkan hasilnya. Sesaat setelah dia melihat hasil persentase yang menunjukkan bahwa 99,99999 % kemungkinan ia merupakan orang tua si gadis kecil itu, Saka tercengang seperti rusa yang tertangkap sorot lampu depan mobil. Dia tidak percaya.


Saat Saka tercengang, Sandy meraih hasil tes DNA yang tergeletak di meja dan melihat nya. Setelah membaca kesimpulannya, Sandy pun tersenyum kecil.

__ADS_1


"Adilla ternyata kamu memang putri kandung, Ka Saka. Kamu benar-benar keponakanku," batin Sandy sumringah.


Saka pun sekarang tak berdaya, ia telah berjanji pada Adilla bahwa akan merawatnya. Tapi ia benar-benar tidak mengetahui bagaimana Ibu Adilla bisa hamil bayinya. Mungkin hanya ia yang tahu kebenarannya.


"Ka Saka, kamu sudah tahu kebenarannya. Aku harap kamu tak ingkar janji pada, Dilla."


Perkataan Sandy mengagetkan lamunan Saka.


"Ya, aku tidak akan ingar janji. Tapi aku sedang berpikir, siapakah yang menjadi ibu dari Adilla? karena banyak wanita yang pernah aku kencani," ucap Saka lirih.


"Itu bukan hal yang mesti di resahkan, karena aku sudah tahu siapa ibunya dan di mana rumahnya. Kita bisa datang ke sana nanti bersama setelah usai dari kantor," ucap Sandy.


"Hem, apa tidak sekarang saja karena aku penasaran dengan wanita yang telah menjadi ibu dari anak itu," ucap Saka.


"Jika saat ini, Dilla masih ada di sekolahan. Lebih baik sore hari dimana waktu bersantai," saran Sandy.


Saka pun hanya mengangguk pelan, tanpa ada kata. Dia terus saja sedang berpikir siapa yang telah menjadi ibu dari Adilla. Karena selama ini dia bermain dengan wanita dengan membayarnya.


Adilla juga tidak fokus dalam mengikuti pelajaran di sekolahnya. Ia memikirkan hasil dari tes DNA itu.


Tak terasa sore menjelang, dan ini yang saat di tunggu oleh Saka. Ia pun lekas meminta Sandy menunjukkan dimana rumah ibunya Adilla. Dengan di sopiri oleh Natan, Saka dan Sandy ke rumah Nayla.


Di rumah, Adilla juga sedang merasakan gelisah karena sejak pulang sekolah ia tak bisa menghubungi Sandy.


"Papah Sandy kenapa sih? katanya akan memberitahu hasil tes DNA tersebut padaku. Tapi kenapa di hubungi tidak aktif juga ya?" batin Adilla seraya mondar-mandir terus membuat Nayla heran dengan sikap anaknya itu.


"Nak, kamu kenapa gelisah sekali?' tanya Nayla heran.


"Aku hanya kangen sama, Papah Sandy karena dia di hubungi susah jadi aku khawatir, mah," ucap Adilla berbohong.


"Mungkin ia sedang sibuk sehingga tak ada waktu untuk menghubungi kamu, sudah nggak usah khawatir lagi."


Baru saja Nayla menasehati anaknya, tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti tepat di halaman rumah, Nayla.


Ia pun menjadi heran, dan memutuskan untuk menghampiri si pemilik mobil. Bahkan Adilla juga turut serta melangkah ke pelataran rumah.

__ADS_1


Awalnya Nayla tak terkejut pada saat melihat Sandy yang keluar dari mobil tersebut. Bahkan Adilla langsung berlari memeluk Sandy.


"Papah Sandy...."


"Hallo sayang"


Keduanya saling berpelukan, Nayla hanya menyunggingkan senyumnya melihat keakraban anaknya dengan Sandy. Akan tetapi pada saat ia akan masuk ke dalam rumah, ia penasaran dengan seseorang yang ada di dalam mobil yang sedang membuka pintu mobil akan keluar dari mobil.


Hingga Nayla sejenak berdiri untuk melihat siapa orang itu. Dan pada saat Nayla melihat orang itu, dia langsung memundurkan tubuhnya dan ia ketakutan.


"Astaga, kenapa Sandy membawa orang jahat itu kemari?" Nayla langsung lari menuju ke kamarnya.


Bayangan pada saat dirinya di rudal paksa oleh Saka kini terlihat jelas di pelupuk matanya.


Sandy dan Adilla yang melihat Nayla lari ketakutan menjadi heran.


"Dilla, kenapa mamahmu ketakutan pada saat melihat Papah Saka?" tanya Sandy heran.


"Entahlah, pah. Ia juga begitu benci padanya, dan melarang aku menyimpan foto atau semua hal tentang Papah Saka," ucap Adilla dengan polosnya.


"Sandy, mana wanita itu? ibunya Adilla, karena aku ingin bertemu dengannya sekarang juga," tanya Saka ketus tanpa melihat ke arah Adilla sama sekali.


"Sebaiknya kita masuk dulu, dan Dilla coba kamu bujuk mamahmu supaya ia mau keluar menemui Papah Saka ya?" pinta Sandy dengan tutur kata yang sangat lembut.


"Baik, pah."


Adilla melangkah menuju ke kamar Nayla, ia mengetuk pintu kamar itu dengan penuh ketakutan.


"Tok tok tok tok"


"Mah-mamah, bisa nggak keluar sebentar karena Papah Sandy ingin bicara sama mamah," ucapnya dari balik pintu kamar itu.


"Nggak, mamah nggak akan keluar Dilla. Kenapa Om Sandy bawa orang itu kemari, usir dia dulu baru mamah mau keluar," jawab Nayla dari dalam kamar.


"Aduhh, sebenarnya ada apa sih mamah ini? masa iya sebegitu bencinya pada, Papah Saka?" Kembali lagi, Adilla menjadi tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2